
" Aku harus pulang.... "
" Kau tidak mengajakku...? aku mau tidur dimana...? "
Protes Rayen.
Vendra menghembuskan nafas kesal.
" Kamu bawa mobil...? "
" Tentu saja "
" Kan bisa tidur di rumah utama aku kak... nggak usah ikut...!! besok saja, ini sudah malam... "
" Kau benar-benar kurang ajar sebagai adik Ven, membiarkan kakak kamu terlantar... "
Rayen masih protes.
" Heh...!!! kakak bisa tidur di rumah utama, masih kurang jelas perkataan ku..? tidur dan pulang saja kesana, jangan ke apartemen.. "
" Bilang saja mau berduaan "
" Sudahlah, aku mau pulang... bye..! "
Vendra berlalu meninggalkan Rayen yang masih menikmati secangkir coffee.
Sebelum sampai rumah, Vendra membelikan Lily martabak spesial dan juga seblak kesukaannya. Sebenarnya ia enggan membelinya, namun ini sebagai permintaan maafnya.
" Kak... cepatlah pulang... "
Isi pesan Lily.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Lily yang masih menunggu Vendra pulang memilih untuk turun ke lantai satu.
" Non... apa butuh sesuatu...? "
Tanya salah satu pelayan rumah.
" Tidak bi, aku hannya menunggu kak Vendra.. "
" Oh, lagi nunggu suami non... apa mau aku buatkan minuman hangat..? "
" Tidak usah bi, makasih ya... "
" Jangan keluar ya non, langit mendung.. kayaknya juga mau hujan... "
" Baik bi, makasih ya.... "
" Sama-sama... "
Lily menunggu Vendra di ruang tengah sambil menonton televisi.
Beberapa menit kemudian, terdengar mobil terparkir. Lily yang mengetahui itu Vendra langsung berlari menuju pintu.
" Kak...... "
Ucapnya lantang.
Vendra yang melihat Lily langsung menyerahkan bungkusan makanan yang di bawa pada pelayan dan ikut berlari menghampiri Lily.
" Aaaaa.... kamu lama sekali... "
Memeluk.
" Sayang, jangan berlari....! "
Tegas Vendra.
" Aku menunggumu dari tadi... kenapa lama..? dan kamu tadi pergi kemana sebenarnya..? "
Vendra menggandeng Lily menuju ke ruang tengah.
" Bi, siapkan saja semuanya... aku tunggu di ruang tengah... "
" Baik tuan... "
" Kamu beli sesuatu...? "
" Bagaimana keadaanmu...? sudah lebih baik.? apa masih demam..? "
" Aku sudah sangat sehat... "
Ucap Lily.
" Jangan berlari seperti tadi, kamu bisa jatuh.. "
" Maaf, aku tadi menunggumu lama sekali.. jadi aku terlalu gembira melihat kamu pulang. Apalagi ini tempat baru, aku masih merasa tidak nyaman jika tidak ada dirimu... "
" Aku hannya pergi sebentar... "
Mengelus pucuk kepala kekasihnya.
" Kamu pergi kemana...? "
" Menemui seseorang.... "
" Siapa...? teman..? atau rekan bisnis... ? "
Tanya Lily kembali.
" Seseorang.... kamu banyak sekali bertanya "
__ADS_1
Vendra tersenyum.
Terlihat pelayan rumah membawa satu mangkuk dan 1 piring.
" Ini tuan, selamat makan.... "
Ucapnya lalu pergi.
Lily langsung tersenyum dan menelan ludahnya ngiler.
" Kak...? ini..? "
Menatap Vendra.
" Makanlah sayang, untuk kamu... "
" Untuk ku...? boleh...? "
Tersenyum lebar.
" Makanlah.... "
" Kak... makasih.... "
Ia langsung mengambil mangkuk yang berisi seblak dan memakannya.
" Pelan-pelan .... "
" Kak.. coba deh, ini enak banget... "
Menyuapi Vendra.
" Tidak, aku tidak bisa makan makanan seperti itu... "
" Ayolah kak.. aku suapi... ini enak kok, coba saja sedikit "
" Tidak Lily... aku tidak mau... "
Vendra menatap wajah kekasihnya yang sedikit kecewa.
" Yasudah, aku makan sendiri saja... "
" Baiklah... suapi aku.. sedikit saja... "
Vendra menatap Lily yang kembali tersenyum.
" Enak bukan...? "
" Emm.... lumayan... "
" Aku tambah bubuk pedasnya ya...? "
" Hentikan Lily...! itu sudah terlalu merah, kau bisa sakit perut nantinya... "
" Aku makan martabaknya saja ya... "
" Jangan dong kak... kamu bantu aku menghabiskan ini dulu, lalu kita makan martabaknya... "
Lily kembali menyuapi Vendra.
šššš
" Kak... aku kenyang sekali.... "
" Tentu saja, kau menghabiskan semuanya sayang... semuanya... "
" Kan kita makan berdua sayang.... "
Vendra sejenak diam, ia mendengar Lily memanggilnya dengan sebutan sayang.
" Kamu belum mengantuk...? sudah jam 10 malam sayang, diluar hujan... ayo tidur, sikat gigi .... "
" Jangan pergi, kamu tidak tidur di kamar lain kan...? "
" Tidak.... "
Mereka langsung bergegas kekamar.
" Tidurlah.... "
" Bisakah kau memelukku... "
" Tentu saja... "
Vendra membawa Lily kedalam pelukannya.
" Tidurlah.... besok tidak perlu berangkat ke kampus... "
" Kenapa...? "
" Kau masih belum sehat sayang, aku takut terjadi sesuatu.... "
" Tapi kak... "
" Sudah, turuti saja perintahku.. jangan sering membantah "
" Kak.... "
" Ya... kenapa...? "
__ADS_1
" Kamu tadi menemui siapa...? "
" Seseorang, kenapa kamu masih bertanya soal itu dari tadi..? "
" Ntahlah, aku penasaran... kamu bertemu dengan siapa tadi...? "
" Apa kau akan terus bertanya sampai aku menjawabnya... ? "
" Sepertinya iya... "
Tersenyum.
Vendra menatap wajah Lily.
" Kenapa...? "
Tanya Lily.
" Aku sangat menyayangimu... sangat... kau tahu kan aku juga mencintaimu, apapun yang aku lakukan nantinya itu untukmu... "
" Maksudnya....? "
Mata Lily melebar karena penasaran.
" Maksudnya, aku selalu membuatmu bahagia, kau kan tahu itu... "
" Ya, aku tahu soal itu... "
" Cepat tidurlah... "
" Jawab dulu.... "
" Apa imbalannya...? "
Goda Vendra.
" Imbalan...? kau benar-benar minta imbalan..? dasar ya "
" Tentu saja, biar sama-sama menguntungkan "
" Kita tidak sedang berbisnis kak... "
" Katakan... apa imbalannya...? "
Goda Vendra.
" Kakak mau apa..? aku tidak punya apapun tahu... "
" Em... apa ya.... "
Menatap tajam Lily.
Melihat tatapan Vendra, Lily merasa gugup.
Sepertinya ia juga tahu apa yang di maksud Vendra malam ini.
" Kak aku mengantuk... "
Lily membalikkan badan hingga membuat Vendra tersenyum.
" Katanya minta peluk..."
" Aku... aku gerah... "
Ucap Lily gugup.
Vendra tidak berhenti, ia memajukan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil Lily dari belakang.
Tangannya menyentuh perut rata Lily hingga membuat kekasihnya merinding.
Vendra menempelkan wajahnya di leher belakang Lily, hembusannya yang terasa hangat dan sangat terasa di tubuhnya membuat Lily memejamkan matanya.
Nafsu yang sudah memuncak membuat Vendra hilang kendali dan beralih menciumi leher kekasihnya. Kali ini Lily juga ikut terbawa suasana, perlahan badannya sudah berbalik dan mereka saling berhadapan.
Dengan cepat Vendra menarik kekasihnya ke pelukannya.
Lily yang sama-sama sudah kehilangan kesadaran meraba setiap inci tubuh kekasihnya bahkan ia merasa terganggu dengan kancing kemejanya, ia langsung membuka perlahan satu per satu hingga memperlihatkan tubuh kekar Vendra.
Terlihat Vendra begitu tersiksa mendapat sentuhan dari Lily dari leher sampai pusar yang bahkan kali ini ia mendesah pelan dan terdengar sexy di telinga Lily.
" Hentikan sayang... "
Suara Vendra terdengar berat.
" Kau bisa membuatku.... "
Terdengar Vendra mengeluarkan suara sexy nya kembali.
Vendra langsung membungkam dan bermain sangat liar di bibir kekasihnya hingga membuat Lily ikut mengeluarkan suara sexy yang benar-benar candu di telinga Vendra.
" Kak...! "
Bukan salah Vendra ataupun Lily, tapi malam. ini keduanya sama-sama memberi dan juga menikmati satu sama lain hingga nafsu memenuhi fikirannya masing-masing.
Vendra menarik baju yang dipakai kekasihnya dan membuangnya ke lantai hingga berserakan.
Lily juga tidak tinggal diam, ia melepaskan apa yang menempel pada kekasihnya hingga mereka sama-sama tanpa sehelai baju.
Malam ini Vendra melakukannya lagi kepada Lily, janjinya untuk tidak menyentuh kembali Lily sudah tidak berlaku untuk malam ini.
Keduanya menikmati permainan panas malam ini.
__ADS_1
Lily yang benar-benar menikmatinya.