BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
JIJIK


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Vendra langsung menuju kamar dan menemukan Lily tergeletak, sekujur tubuhnya dingin.


" Kenapa bisa seperti ini Lily.... bangunlah... "


Ia terlihat cemas dan langsung mengambil selimut untuk menutupi tubuh mungil itu.


.


.


" Cepat kau datang kemari....!!! "


Terlihat Vendra menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Lily.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya dokter yang ditelepon oleh vendra akhirnya datang.


" Cepat periksa bagaimana keadaannya "


sahut vendra.


" Sebenarnya apa yang terjadi padanya, bagaimana wanita ini bisa pingsan dalam keadaan yang cukup lama..? .


Apa kamu meninggalkannya sendirian di apartemen dan kau malah pergi kelayapan..? "


ucap dokter itu yang bernama Sandy.


" Sudah berhenti bertanya dan menatapku seperti itu, aku tadi hanya pergi meninggalkannya sebentar, sebenarnya dia sekarang sedang datang bulan. Aku juga tidak menyangka kalau dia ternyata kesakitan. seperti ini... "


Jawab Vendra.


" Kau memang ceroboh, bagaimana bisa kau meninggalkan seorang wanita sendirian di apartemen seperti ini. Sebenarnya kamu pergi ke mana sampai-sampai kamu lupa dengan keadaan pacarmu. ... "


Sandy terlihat kesal menatap Vendra yang duduk lemas di kursi.


" Dia bukan pacarku.... "


Jawabnya lirih.


" Terus dia siapa...? "


" Sudahlah kau cepat periksa dia dan segera beli obat. kalau kau sudah selesai bisa pergi....! dan ya, jangan bilang sama kakak... "


" Kenapa..? "

__ADS_1


" Sudah turuti saja... bertanya terus kau dari tadi...!! "


" Lain kali jangan tinggalkan dia kalau lagi sendirian apalagi dengan keadaannya yang sedang datang bulan seperti ini, kau kan tahu sendiri Ven kalau wanita sedang datang bulan pasti akan mengalami nyeri di perutnya, apalagi keadaannya sekarang ini kau lihat saja bibirnya pucat dan tubuhnya dingin.... "


Sandy memang type seorang dokter yang selalu cemas dan emosional setiap menangani pasiennya.


" Ini hannya pereda nyeri, jangan lupa di kasih makan... "


Ia menatap ke arah Vendra.


" Benar dia bukan pacarmu...? "


" Bukan...! "


Bentak Vendra.


" Tapi kenapa aku melihat kekhawatiran di matamu itu, sepertinya kau menyanyanginya... bukan begitu...? "


Sandy tersenyum ke arah temannya yang masih duduk di kursi.


" Keluarlah, uangnya akan aku transfer..! "


" Ya ya ya... baiklah.. jaga baik-baik... dia wanita yang cantik, sepertinya juga baik... "


Vendra menatap ke arah Lili, ia memandang wajah wanita yang kini tidur diranjangnya, entah perasaan apa yang ada di hatinya saat ini, yang ia tahu saat ini dia begitu khawatir akan keadaan Lily.


Perlahan Vendra menggenggam Tangan Mungil milik Lily, sejujurnya yang kini ada di otaknya adalah soal tadi saat Lily meneleponnya di Villa.


" Apa dia mendengarkan sesuatu tadi...?


Ah... kenapa aku memikirkan itu, bukankah itu terserah padaku, lagipula juga hak ku mau ngapain... kenapa aku malah merasa takut ya....? ada apa denganku...? "


Perlahan Lily membuka kedua matanya, menatap sekitar dan samar-samar dia melihat wajah Vendra.


" Lily.... "


Lirih Vendra.


" Kau.... kau disini...? "


Ia masih berusaha menormalkan pandangannya.


" Apa masih sakit...? "

__ADS_1


Mencoba menyentuh tangan Lily namun dengan cepat pemilik tangan mungil itu langsung menjauhkan tangannya.


" Hey.. kenapa...? apa ada yang sakit...? "


Vendra terlihat cemas bahkan ia berdiri dan berusaha mendekat ke arah Lily.


" Jangan mendekatiku...! "


Spontan ucapan itu keluar dari mulutnya.


" Hey.. ada apa Lily....? kamu kenapa...? "


" Aku bilang jangan mendekat...!!! jangan sentuh aku...!!!! "


Ia langsung menjauhkan dirinya dari Vendra.


" ****....!!!! dia mendengar semuanya.... "


Vendra menggenggam kedua tangannya merasa kesal pada dirinya sendiri.


Ntah ia merasa menyesal setelah melakukan perbuatan itu atau ia merasa marah karena Lily menjauh dan memaki dirinya.


" Aku bisa jelasin... "


Ucapnya secara tiba-tiba.


" Pergi...! pergi dan mandilah...! gosok tubuhmu semuanya...!!! aku jijik melihatmu saat ini... pergi dari hadapanku...! "


Kedua mata Lily tiba-tiba berair.


Vendra yang melihatnya langsung terkejut, ia mencoba mendekat ke arah wanita didepannya sepertinya akan menangis.


" Lily aku... "


Belum selesai bicara Lily sudah tidur dan membalikkan badannya.


Sakit....


ya itulah yang dirasakan Vendra saat ini, ia merasa sakit mendengar ucapan Lily kali ini yang merasa jijik dengan kehadirannya.


Dengan langkah berat ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri seperti yang dikatakan oleh Lily.


Terdengar isak tangis di balik selimut, ntah apa dan kenapa dia bingung dengan semua sikapnya, apalagi dia juga bingung kenapa dia bisa menangis seperti ini.

__ADS_1


Ntah berapa lama titik terang akan terlihat di hati kedua insan yang sedang berusaha memahami hatinya masing-masing.


__ADS_2