
Terlihat Rayen memasuki ruangan tempat kerja Vendra dengan gaya maskulin dan santai.
" Hay bro... "
" Hm... ada apa..? kapan kau kembali..? "
" Aku masih satu bulanan disini... kenapa...? "
" Aku hannya bertanya "
Ia masih fokus pada layar laptopnya.
" Sepertinya kau sudah meminta maaf... "
Lirik Rayen.
" Soal apa..? "
Masih berusaha sibuk.
" Kau masih bertanya, hahahah padahal kau tahu maksud dari perkataanku... "
" Jika tidak ada urusan lain pulanglah... "
" Kau mengusirku..? "
" Tidak, kau mengganggu konsentrasi ku... pergilah... "
Seru Vendra.
" Dia dimana sekarang..? "
Tanya Rayen memastikan adiknya tidak mengusirnya dari rumah.
" Berhenti bertanya atau aku sumpel mulutmu itu, pergilah kak.... aku sibuk... "
" Yasudah.... aku nanti tidak pulang, aku mau kerumah temanku 2 hari... "
" Terserah kau saja... kau mau pulang silahkan.. tidak juga tidak apa-apa... "
" Ish.. kau benar-benar adik tidak tahu diri, durhaka sama kakaknya sendiri.. "
Rayen berlalu pergi meninggalkan Vendra yang memang sedang sibuk urusan pekerjaan kali ini.
Nah kalo di atas itu visualnya abang Rayen, hayo siapa tahu..? coba tebak ya langsung coment di bawah š¤š.
ššššš
Jam 11 siang.
Vendra langsung pulang menuju apartemen, ia juga mampir ke restoran membeli makanan untuk makan siang.
.
.
__ADS_1
.
.
Karena mengantuk Lily memutuskan untuk tidur di ranjang karena merasa sangat bosan, mau keluar tapi tidak diperbolehkan oleh Vendra.
" Lily..... "
Ia berusaha memanggil Lily sambil membawa bungkusan.
" Dia tertidur... apa aku harus membangunkannya...? "
Tapi.... "
Ia langsung meletakkan makannya di meja dan membersihkan diri terlebih dahulu.
.
.
.
Tubuhnya terasa sangat berat, ia mencoba membuka kedua matanya.
" Huh... berat sekali rasanya... "
Tangan kekar itu melingkar di atas tubuhnya.
" Ka.... aku susah bernafas... "
Suara Vendra terdengar serak serak basah.
" Aku gak kuat, tanganmu besar... "
" Maaf... "
Vendra menurunkan tangannya sedikit kebawah dan kembali memeluk wanita mungil yang sekarang bersamanya di atas ranjang.
" Kau sudah bangun.... "
" Iya.... "
" Maaf jika aku terlalu lama perginya "
Ucap Vendra.
" Tak apa, kamu pulang kapan emangnya...? "
" Jam 10 lebih sedikit... aku beli makan siang, tadinya ingin membangunkan mu tapi kau sepertinya nyenyak sekali... "
" Maaf... "
" Kenapa maaf... "
Kini Vendra membelalakkan kedua matanya menatap Lily.
" Karena aku, kau jadi melupakan makan siangmu... "
__ADS_1
" Oh... tak apa, tidurlah jika masih capek... "
" Tapi, kamu belum makan siang kan...? "
" Belum... kau juga... "
" Yasudah, ayo makan dulu, gak baik menunda-nunda untuk makan... "
" Baiklah.... "
Dan kali ini mereka makan siang berdua setelah sarapan pagi berdua, sesekali mereka saling memandang satu sama lain.
Hati Vendra tiba-tiba berdegup sangat kencang hingga membuatnya tersedak.
" Uhuk....
uhuk..... "
" Kak... minumlah... "
Lily menyerahkan satu gelas air, namun Vendra masih saja batuk dak sesak nafas, kemungkinan ada makanan yang nyangkut di tenggorokan.
" Ka... gimana ini... aduh.. gimana.. "
Lily langsung berdiri dan nampak bingung.
" Ka aku minta maaf harus melakukan ini, sabar dan tahan ya.. dulu aku pernah tersedak dan tante melakukan ini, tunggu... "
Ia langsung memposisikan diri di belakang Vendra dan langsung memukul-mukul pundak dan punggung Vendra sekuat mungkin agar makanan yang menyangkut bisa keluar.
Sementara Vendra juga sudah sangat sesak hingga raut wajahnya tidak bisa digambarkan lagi.
" 1....
2....
3..... tahan ka..! "
Bugh....
Ia mengeluarkan seluruh tenaganya kali ini hingga makanan yang berupa daging itu jatuh tepat di piring Vendra.
" Syukurlah... kak.. minumlah..
kamu tidak apa-apa kan..? tidak ada yang sakit....? "
Lily meraba seluruh badan seperti orang khawatir biasanya, keringat juga memenuhi wajah Vendra.
" Terima kasih... "
" Kau membuatku takut... lain kali kalau makan jangan buru-buru...pelan-pelan saja...sungguh..."
Ia memeluk laki-laki yang ada di depannya, bagaimanapun dirinya juga pernah merasakan hal sama seperti yang di alami Vendra saat ini, justru itu membuatnya sangat ketakutan.
Terlihat Vendra mengembangkan senyumnya, entah kenapa ia merasa bahagia melihat Lily khawatir sampai segitunya.
__ADS_1