
Untuk beberapa hari Rayen bakal tinggal di rumah Vendra yang baru di beli untuk Lily.
Dan Lily juga merasa senang, bagaimanapun mereka tidak bertemu cukup lama.
" Kak.... "
" Ya, kenapa...? "
" Kak Rayen ada urusan apa kemari...? "
Tanyanya curiga.
" Kenapa emangnya...? "
" Nggak, cuma namanya aja "
" Mungkin kangen dengan ku, makanya dia datang.... "
" Iya juga ya, mungkin.... "
" Tidur, dan besok aku akan antar kamu kuliah. Berangkat pagi kan...? "
" Iya, aku jatah berangkat jam 9 an mungkin... kamu nggak ke kantor...? nanti suruh antar supir aja aku nggak apa-apa... "
Ucap Lily.
" Udah nurut aja... kamu nggak mau aku antar emangnya...? "
" Kak.. bukan nggak mau, tapi kamu akhir-akhir ini nggak berangkat ke kantor... tumben "
" Kenapa...? kamu ingin aku super sibuk...? "
" Kan aku nanya.... "
Vendra hannya diam dan masih memeluk Lily yang meringkuk di pelukannya.
pikirannya nya kali entah kemana, yang ia tahu dan ia lakukan sekarang hannya ingin bersama Lily sebelum ia menyelesaikan masalahnya.
" Kak..... "
" Tidurlah... kamu tidak capek bicara dari tadi...? sungguh aku heran denganmu, ada aja yang kamu omongin, tanyakan, kamu bahas dari A sampai Z... "
" Mungkin aku cerdas kali ya hehehehe "
Ucapnya sambil tertawa.
" Kamu memang.... "
" Kak... "
" Iya, apalagi....! "
" Kok aku ngerasa ada yang aneh ya... kamu tidak menyembunyikan sesuatu bukan..? "
__ADS_1
Deg....
deg...
deg.....
" Tidak... "
Jawab Vendra singkat.
" Aku bisa mendengarnya kak, sangat cepat... "
" Apanya yang cepat...! "
" Ini.... "
Sambil menunjuk dada bidang kekasihnya.
" Bagaimana tidak cepat, bagaimana tidak gugup...? aku pusing dengan perkataan mu dari tadi sayang, ayolah... tidur... "
" Masak sih...? "
" Iya.. bawel banget.... tidur... ! atau mau aku buat lemas dulu baru bisa langsung tidur..? "
Lily langsung terdiam mengingat kejadian kemarin malam saat permainan panas itu terulang lagi.
" Mau...??? "
Goda Vendra.
Pura-pura menguap.
Vendra yang melihat kekasihnya gugup ikut tersenyum geli.
" Kak, kamu tidur di sana saja... "
Menunjuk sofa besar.
" Hey...!! ini kamar tidur ku... tempat tidur ku juga.... "
" Yasudah aku yang ke sana... "
Lily beranjak dari tempat tidur, namun Vendra dengan cepat menariknya kembali hingga terbaring di sampingnya.
" Tidurlah.... "
Kali ini suara Vendra terdengar lembut.
" Aku tidak akan melakukan apapun, tidurlah.. "
Mencium kening Lily.
Kali ini Vendra tidak mau ceroboh kecuali kalau memang sudah benar-benar lost control.
__ADS_1
Baginya ada penyesalan yang menyelimuti hatinya saat mengingat pertama kali ia merenggut mahkota Lily.
Walaupun sekarang sudah sama-sama suka, dan sama-sama mau, namun Vendra sangat ingin meresmikan ikatan cinta mereka secepatnya.
Tidak ada kata menikmati terlebih dahulu di hidupnya, namun kali ini sepertinya takdir sudah menulis ceritanya sendiri.
š
07.00
Pagi ini suasana memang berbeda karena kehadiran Rayen di meja makan.
Banyak sekali pembicaraan juga di sana, Lily tampak akrab dan sudah mulai terbiasa dengan kakak dari kekasihnya.
" Kamu libur Ven...? "
" Ya.... "
" Kenapa...? kayaknya aku belum melihatmu ke kantor semenjak aku menginap disini... "
Tanya Rayen.
" Terserah aku bukan..? siapa bos nya..? "
" Ya, memang kau... tapi tidak biasanya kau berdiam diri di rumah... "
" Aku sibuk hari ini... "
" Sibuk apa..? "
" Sibuk apa kak..? kalau sibuk nggak usah nganter aku ke kampus, nggak apa-apa... "
" Mengantar...? "
Ucap Rayen.
" Iya kak, dia hari ini mau mengantar aku ke kampus... "
" Kayanya sibuk...? "
Tanya kembali Rayen.
" Tentu saja aku sibuk, emangnya kau pengangguran...! "
Jawab Vendra.
" Sibuk apa kamu hah...? "
" Tentu saja sibuk mengantarnya ke kampus, nanti juga menjemputnya... kamu pikir aku tidak sibuk hah...!!! "
" Ya ampun Vendra.... sibuk kamu bilang...? hahahaha.... terserah kau saja, it's okay... "
Lily hannya melihat perdebatan antara kakak dan juga adik, sebenarnya ia juga malu.
__ADS_1
Tidak menyangka saja yang di maksud sibuknya seorang Vendra ternyata sibuk hannya untuk mengantarnya ke kampus.