
Sesampainya dilokasi sebuah rumah makan yang sederhana, ia langsung turun dan masuk.
Kepalanya menengok kesana dan kemari, sementara Septian tidak hentinya tertawa dengan apa yang dilakukan bos nya.
" Dimana sep...? "
" Nona ada di belakang, dia sedang mencuci piring... "
" Untuk apa mencuci piring...! "
" Nona kabur tanpa membawa apapun bukan...?mungkin dia berusaha mencari kerja agar mendapatkan uang untuk makan.... "
.....
" Pulang....! "
" Kau.... lepaskan tanganku.... "
" Aku bilang pulang....! "
" Maaf tuan ada apa ini...? "
" Pak tolong saya, dia mau menculik dan menyiksa saya.... "
" Tuan siapa... ? "
" Saya suaminya... apa bapak mau ikut campur urusan rumah tangga saya...? "
Septian dan juga lily dibuat terkejut oleh pengakuan Vendra yang mengaku sebagai suaminya.
" Pak... bukan.... lepaskan tanganku ... "
" Sayang.. maaf... ayo kita pulang... kau jangan kabur lagi... "
" Tuan.. anda jangan menarik istri anda seperti itu, kasihan... "
" Sep... urus dia... "
" Lepaskan aku.....!!! pak tolong... "
" Tuan.. saya mohon selesaikan Baik-baik, jangan menarik seperti itu... "
" Pak cukup, ini urusan keluarga... "
" Tapi sepertinya tuan mu itu kasar pada istrinya... "
" Pak... ini untuk anda, dan jangan bicarakan apapun pada siapapun...! paham..?! "
Septian memberikan amplop coklat berisi uang sekitar 5 juta, sontak pemilik warung langsung jinak dan tidak cerewet seperti sebelumnya.
" Masuk....!!!!!!! "
" Aku tidak mau...! "
" Masuk lily.....!!!!!!! "
" Nona.. masuklah... "
Bujuk septian.
" Tapi aku tidak mau kak...!!! "
" Nona... apa kau ingin dia marah disini...? "
" MASUK....!!!!!! "
lily langsung masuk kedalam mobil.
Vendra menghidupkan mesin mobilnya dan langsung menancap gas.
" Beraninya kau keluar dari rumahku...!!! "
__ADS_1
" Kenapa... itu hak ku... tuan Vendra. yang terhormat... "
" Berani kau menjawab ku sekarang...! "
" Kenapa tidak...! kau memang harus di lawan... aku tidak mau tinggal disana..!!! "
" Kau mau jadi gelandangan...? "
" Kenapa aku jadi gelandangan, aku masih sehat dan bisa cari uang sendiri... hah... kau tahu apa... kau hannya tinggal meminta saja sama orang tuamu...! "
" Lily....!!!!! "
Vendra melajukan mobilnya sangat cepat karena tersulut emosi, sementara lily sudah ketakutan setengah mati kalau terjadi sesuatu.
" Hentikan..! kau mau membunuhku? "
" Kenapa...? kau takut kematian..? "
" Aku tidak takut kematian, tapi jika kau yang menyebabkan nyawaku melayang aku sama sekali tidak ikhlas.... nyawaku hilang di tangan orang kejam sepertimu...! "
" Kau menyebutku kejam...?!!!! "
" Ya.. kau memang kejam...!!! "
Vendra langsung memutar arahnya menuju ke suatu tempat.
Ia ingin memberikan pelajaran untuk lily yang sudah berani menjawab dan menceramahi nya.
" Kau mau bawa aku kemana... "
" Bukankah kau menganggap ku kejam.. ! "
" Turun.. ! aku mau turun disini ...!!! "
" Sebentar lagi aku akan menuruti keinginanmu..! "
hannya 10 menit Vendra langsung membelokkan mobilnya ke sebuah bangunan mewah, dan itu adalah cafe langganan nya.
Teriak lily.
" Bukankah aku orang kejam...!! ikut denganku sekarang... "
" Aku tidak mau... lepaskan aku kak... aku tidak mau.... "
Vendra menarik paksa lily dan membawanya masuk, kebetulan suasana tidak begitu rame, tapi ia langsung melempar lily ke ranjang tempat biasanya ia berolahraga.
" Agh.... "
" Diam dan jangan pergi kemanapun...!!! "
" Gimana tuan...? "
Tanya pemilik cafe yang terlihat seperti berumur 40 tahun dengan perut buncit nya.
Ia memandang ke arah lily dengan tatapan penuh nafsu.
" Apa ada yang menginginkan santapan hari ini...? "
" Tidak ada tuan.. ini masih terlalu pagi... apa kau menawarkan gadis ini...? "
" Ya... aku membelinya 30 M, dan sekarang aku akan menyerahkan secara cuma-cuma... "
Deg.....
Lily langsung kaget mendengar perkataan Vendra, ia menatap dan menggelengkan kepalanya untuk mengisyaratkan kalau ia menolak semua ini.
Kedua matanya sudah berkaca-kaca.
" Tuan aku tidak mau... hiks... hiks... "
" Apa tuan serius...? "
__ADS_1
" Ya.. ambillah jika kau mau... "
Vendra sungguh sangat cerdik hingga ia bisa memikirkan hal seperti ini, apalagi postur tubuh dan ciri-ciri pemilik cafe sama persis dengan orang yang dulu membelinya dari Weni dengan memberinya obat.
" Apa aku boleh...? "
" Tentu... silahkan... "
Lily masih menggenggam tangan Vendra sangat erat, ia memohon dan menangis padanya.
" Tuan..... maafkan aku... hiks... hiks... aku tidak mau tuan, aku mohon... tuan aku ingin. pulang... "
" BRAVO VENDRA "
ia langsung tersenyum licik.
Ia masih tidak mengucapkan apapaun, sementara lily terus melindungi dirinya dari sentuhan laki-laki buncit yang ada di depannya.
" Kemarilah cantik..... kita kenalan dulu.. "
" Tidak... aku tidak mau.. tuan... aku mohon.. hikss... hikssss.... "
" Jangan takut... kemarilah.. "
Laki-laki itu terus me mepet tubuh lily dan berusaha membelai kaki mulus nanti putih miliknya.
" Hentikan...!!! jangan sekali-kali berani menyentuh ku...!!! hiks...hiks..."
" Siapa namanya tuan...? "
" Panggil sesukamu...! "
" Kemarilah sayang.... "
Lily sudah menangis sesenggukan dan berusaha menghindar dari sentuhan pria buncit itu, perut yang kosong sejak semalaman sampai saat ini membuatnya pening.
Kedua matanya terasa sangat berat, pandangan di depannya juga sudah kabur.
Vendra yang memang memperhatikan Lily sudah cemas dan berusaha menghampirinya.
Bugh.....
Lily sudah tergeletak pingsan di ranjang dengan wajah yang basah oleh air mata.
Deg...
deg....
Sebelum laki-laki itu menyentuh lily, Vendra sudah berteriak dan mendorongnya.
" Tuan.. kau ini kenapa... "
" Jangan berani-berani menyentuhnya atau aku patahkan tanganmu...!! "
" Tapi tuan bukankah kau tadi bilang... "
" Pergi....!!!!!! keluar dari kamarku...!!!!!!! "
Pemilik cafe itu langsung cepat-cepat keluar mendengar kemarahan yang terpancar dari raut wajahnya.
Dengan cepat ia langsung meraih tubuh lily dan menidurkan kepalanya di pangkuannya.
" Lily... bangun... lily... bangunlah...
jangan seperti ini, maafkan aku... "
Dengan penuh rasa cemas Vendra tanpa sadar memeluk tubuh mungil wanita yang akan ia beri pelajaran, namun ternyata semuanya berubah.
Ia terlihat cemas melihat lily pingsan, teringat di benaknya kalau lily belum makan malam semalaman.
__ADS_1