BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
PERTENGKARAN


__ADS_3

Boneka, sepertinya seperti itulah kehidupan yang di rasakan dan dijalani oleh Lily sekarang.


Semua sudah di atur segitu rapi, tepat dan terperinci.


Selepas kuliah juga dia langsung pulang, tidak membantah dan tidak mengatakan apapun seperti hari-hari sebelumnya.


" Non mau pergi belanja...? "


" Tidak pak Jamal... "


Jamal sendiri adalah supir pribadi untuk Lily, jadi kemanapun dia pergi pastinya sudah menjadi tanggung jawab pak Jamal.


" Kalau non Lily mau belanja nanti pak Jamal antar non... "


" Tidak usah pak, pulang aja langsung... capek soalnya.... "


" Oh, baiklah kalau begitu non... pak Jamal pikir kali aja mau belanja... "


Lily hanya tersenyum.


Sementara di kediaman ibunda tercinta Vendra, terlihat wanita setengah tua itu duduk di balkon sambil di temani kedua anaknya Vendra dan juga Rayen.


" Apa sudah lebih sehat...? "


Tiba-tiba suara itu memecah keheningan di antara mereka, ya dia adalah ayahnya Vendra, Edwin Hendarto.


Walaupun umurnya sudah tidak muda dan pastinya memang sudah tua tidak mengurangi kegagahan dan ketampanan yang dimiliki.


" I'm fine.... "


" Sudah makan dan minum obat...? "


" Sudah.... "


Jawabnya singkat.


" Rayen... kau tidak ke kantor...? "


" Aku rasa kantor tidak membutuhkanku, jadi aku juga merasa dirumah lebih baik dan lebih dibutuhkan... "


Jawab Rayen.


Pria itu menatap ke arah Vendra yang sengaja memalingkan wajah darinya.


" Kau juga di rumah...? "


" Aku menemani mama... "

__ADS_1


Jawabnya.


" Sepertinya semua sudah lebih baik, bukan begitu sayang.... "


Terlihat wanita itu hanya tersenyum.


" Nanti biar aku akan mengatur segalanya soal apa yang sudah kita bicarakan tempo tempo lalu.... "


" Apa harus secepat itu...! "


Vendra terlihat kesal karena ayahnya yang sama sekali tidak mengerti keadaan ibunya.


" Ya... kenapa tidak...? keadaannya sudah membaik, apa yang perlu kita tunggu...? "


Rayen berjalan keluar dari kamar.


Edwin sudah tahu kalau anaknya itu memang sedang tidak ingin berdebat ataupun ikut bicara dalam perdebatan kali ini.


Kalau Vendra jelas berbeda dengan kakaknya yang akan memprotes apapun yang menurutnya tidak sejalan dengan fikirannya juga.


" Kau tinggal bersiap-siap, jangan kecewakan papa.... kau tahu kan harus berbuat apa...? "


Vendra hanya diam.


Edwin langsung berbalik dan berniat meninggalkan kamar dan menyelesaikan perdebatan hari ini.


" Kalau aku menolaknya... apa resiko yang aku alami...? kau akan membunuhku...? "


" Vendra hentikan...!!! "


Bentaknya.


" Biarkan aku bicara ma.... "


" Hentikan mama bilang...!! "


Terlihat Edwin berbalik dan berjalan ke arah Vendra.


" Aku tidak sekejam itu Vendra.... "


Jawabnya dingin.


" Kalau tidak sekejam itu, lalu se licik apa? sampai-sampai seorang ayah mengancam anaknya sendiri untuk kepentingan dan kepuasannya sendiri.... "


" Kau mau mendengar jawabannya...? "


Melirik ke arah istrinya yang sudah mengisyaratkan untuk Edwin tutup mulut.

__ADS_1


" Aku sudah terlalu sering mendengar ucapan terburuk mu, jadi katakan saja.. "


Ucap Vendra.


" Mama mohon Vendra, hentikan dan jangan memulai perdebatan dan masalah baru... "


" Biarkan saja... anak kesayanganmu ini bicara... tak apa... aku akan mendengar dan menjawab pertanyaannya... "


" Sudahlah... kau mau ke kantor bukan..? pergilah.. dan Vendra biar menjadi urusanku.. "


" Kau yakin...? tapi aku belum menjawab pertanyaannya...


kau bertanya apa tadi...? resiko yang kau dapat...? "


" Ya... "


Jawab Vendra singkat.


" Kau tentu saja akan mendapatkannya, itu pasti.... dan aku hanya perlu bermain sedikit dengan cintamu itu...! kau paham kan maksud dari perkataan ku...? "


Vendra mengepalkan kedua tangannya.


" Berani kau menyentuh atau melukainya, maka aku akan melupakanmu sebagai ayahku dan akan ku hancurkan dirimu...!!! "


" Vendra...!! "


Terlihat ibunya memegang pergelangan tangan Vendra.


" Lakukan saja... lakukan sebisa mu.... aku juga bisa melakukan apa saja terhadapnya, camkan itu Vendra...! "


" Pergilah.... aku mohon.... "


" Apa yang kau lakukan ma... berhentilah berkata seperti itu pada suami yang tidak. pernah menghormati wanita ataupun istrinya sendiri...!!! "


" Pergilah.... "


Ucapnya kembali hingga membuat Edwin berlalu meninggalkan Vendra dan juga ibunya.


" Apa yang kau katakan.... kau mau meninggalkan mama hah..! "


" Ma.... Vendra mohon kali ini mama jangan ikut campur, mama juga jangan memohon kepadanya seperti tadi....! "


" Dia ayahmu... suami mama..!! "


" Suami...?!! suami macam apa ma...? "


Dengan emosi Vendra langsung pergi meninggalkan ibunya yang tengah menangis melihat pertengkaran antara Vendra dan juga suaminya.

__ADS_1


Ia tahu betul, sekuat apapun dirinya tidak akan pernah bisa melawan Edwin suaminya sendiri.


Hatinya juga sakit, ia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia dengan pilihan mereka sendiri.


__ADS_2