BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
DIAM LEBIH BAIK


__ADS_3

Rasa bersalah saat ini menyelimuti hati Vendra, dia menampar Lily hingga pingsan.


Walaupun pada dasarnya memang tubuh kekasihnya sudah sangat lemah, akan tetapi seharusnya dia tidak sekasar itu.


" Kemarilah... "


" Bagaimana keadaannya...? "


" Dia baik-baik saja, tidak terjadi hal yang serius..."


" Syukurlah... "


Seperti biasa juga Steve, dokter pribadi yang selalu di panggil untuk menangani Lily.


" Lain kali jangan sekasar itu... "


Ucap Steve.


" Aku tidak sengaja, aku sudah bilang tadi "


" Tapi dia sampai berdarah, kamu kasar "


Timpal Septian.


" Aku sudah bilang, aku tidak sengaja dan dia juga memancing emosiku duluan... "


" Kalo punya masalah dengan orang yang kamu cintai, jangan sampai kamu main tangan Vendra... kayak orang nggak berpendidikan saja kamu ini "


Ucap Steve kembali.


" Ah... sudahlah, keluar dari kamarku...! "


" Kamu nggak mau keluar juga...? kamu itu tersangkanya di sini "


Ledek Septian.


" KELUAR...!! "


Steve dan Septian hannya tersenyum dan. langsung keluar dari kamar meninggalkan Vendra bersama Lily.


" Aku tidak akan mengulanginya sayang, promise.... "

__ADS_1


Membelai lembut kepala kekasihnya sambil terus melihat ke arah bibir dan pipi yang sedikit membiru karena tamparan nya.


" Ini pasti sakit.... "


Ucapnya kembali sambil membelai lembut pipi Lily.


Tak lupa Vendra juga mengompres kening kekasihnya agar cepat membaik dan demamnya segera turun.


Terlihat gerakan kecil di telapak tangan Lily.


Matanya mulai terbuka, perlahan ia berusaha memperjelas penglihatannya.


Begitu tahu Vendra ada di sampingnya, dengan cepat dia langsung memalingkan wajah dan tubuhnya.


Vendra tidak berkata apa-apa, ia tahu betul apa yang sudah dia perbuat pada kekasihnya.


Lily meneteskan air mata, ia baru sadar kalau sudut bibirnya terluka dan ingat kalau Vendra yang sudah menyebabkan luka itu.


Mereka hannya diam tanpa suara, Lily merasa sangat sesak menahan tangisannya.


Vendra yang tahu dari gerak punggung Lily langsung naik ke atas ranjang dan memeluk kekasihnya.


Tangisannya kali ini terdengar menyakitkan, bahkan Lily tidak melakukan perlawanan soal pelukan Vendra.


" Hukuman apa yang bisa aku terima atas kesalahan terbesarku padamu hari ini.... aku.. "


" Tidak perlu berfikir terlalu jauh seperti itu, aku tidak sejahat kamu kak... "


" Tidak, jangan berkata seperti itu "


" Terus aku harus berkata bagaimana padamu...? hukuman apa yang kau harapkan dariku...? aku bahkan jika boleh aku ingin meminta hukuman pada Tuhan untuk diriku sendiri.


Aku capek, kenapa Tuhan masih selalu memberiku umur... "


" Apa yang kau katakan...! "


Vendra langsung membalikkan badan Lily.


" Terus...? "


Dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.

__ADS_1


" Berhentilah berkata konyol seperti itu.. apa kamu tidak tahu aku mempertahankan mu dengan susah payah hah...! "


" Terus...? apa kamu juga tahu bagaimana aku bertahan bersamamu selama ini..? selama ini kak...? belum juga luka yang kau berikan padaku terus menerus.


Dan kali ini.. kamu juga sudah menusuk jantung ku... rasanya sakit sekali, apa kamu memikirkan itu..? "


" Aku memikirkan mu... setiap waktu... "


" Memikirkan ku saja tidak cukup...! harusnya kamu tidak memberiku luka setelah kamu memberiku cinta.... membuatku nyaman dengan itu... kamu tahu..! "


" Kamu salah faham.... "


" Salah faham apalagi si kak...? setiap ada masalah... selalu aku yang salah paham.. terus yang benar itu siapa..? cuma kamu...? "


" Lily mengertilah, aku hannya mencintaimu tidak ada yang lain.. "


" Ada... tadi...? kamu lupa? belum satu hari lho kak... kamu lupa..? "


" Harus bagaimana si aku menjelaskannya padamu.... "


" Nggak usah... aku nggak minta penjelasan "


Ucap Lily yang langsung memalingkan wajahnya kembali sambil memegang sudut bibirnya yang nyeri.


" Apa sakit...? "


" Nggak usah pegang-pegang... aku mengharamkan dirimu untuk menyentuhku "


D3g....


degggg.....


Mendengar perkataan Lily Vendra langsung terdiam lemas, hatinya terasa sakit.


Ia tidak menyangka kalau Lily bisa mengatakan hal seperti itu padanya.


Vendra turun dari ranjang dan berjalan keluar untuk menenangkan dirinya.


Baginya, saat ini tidak ada gunanya banyak bicara pada Lily.


Ia memilih pergi karena tidak ingin tersulut emosi dan melakukan kesalahan lagi pada Lily.

__ADS_1


Mungkin untuk saat ini, diam adalah pilihan yang tepat.


Berbicara untuk menyelesaikan masalah sama. orang yang tersulut emosi tidak akan menyelesaikan apapun.


__ADS_2