
Pagi ini matahari bersinar sangat cerah usai tenggelam dalam hujan.
Tapi ntah untuk perasaan dua insan yang sekarang sedang tidak baik-baik saja.
Lily menggerakkan tubuhnya, perlahan ia membuka kedua mata.
Gelap, ya karena korden jendela masih tertutup rapat belum terbuka.
Ia memandang sekeliling mencari keberadaan seseorang yang biasanya selalu ada di depan matanya setiap kali bangun dari mimpi panjang.
" Dia kemana.... "
Perlahan ia berusaha duduk dan masih menormalkan tubuhnya.
Ia memandang lagi sekeliling, termasuk sofa yang biasa Vendra tidur disana.
Terlihat rapi, pertanda tak seorangpun tidur ataupun duduk disitu.
Ia turun dari ranjang dan perlahan membuka jendela hingga sinar matahari berhasil tembus dan menyinari kamar, termasuk juga wajah Lily yang sudah nampak lebih segar.
Udara terasa dingin walau sangat mentari bersinar sangat terang.
Berdiri di balkon sambil menikmati udara pagi.
" Dia kemana....? kenapa tidak ada di kamar.
Tidak biasanya bersikap seperti ini, bagaimana kalau dia pergi.... "
Saat ini justru dia terlihat gelisah, takut kalau Vendra pergi ke club' malam untuk melepas kemarahannya kemarin.
" Apa aku coba telfon kak Septian... "
Lily dengan cepat langsung berlari kecil mengambil ponselnya yang berada di samping tempat tidur.
" Halo kak... "
" Ya, ada apa Lily? kamu menelfon sepagi ini, apa ada sesuatu? "
" Tidak, aku cuma mau bertanya sama kak Septian... "
" Bertanya soal apa? "
" Em.... itu, soal kak Vendra "
" Kenapa? dia bikin ulah sama kamu? "
" Bukan kak, apa semalam kak Vendra pergi ke club...? biasanya kakak kan tahu "
" Club..? dia tidak dirumah...? "
Septian terkejut.
" Berarti nggak ya kak..? aku cuma nanya aja kok, mungkin aja... "
" Dia tidak tidur di rumah? "
" Aku belum melihatnya "
" Sudah kamu cek di kamar yang lain? "
" Nanti aku cek kak, makasih ya.. maaf kalau aku ganggu kakak.. "
" it's okay, tak apa "
Lily langsung mematikan ponselnya.
Ia bergegas mandi dan segera turun kebawah untuk sarapan pagi.
♡♡♡♡
__ADS_1
" Selamat pagi non.... "
" Pagi bi.... "
Melihat sekeliling sepi, tidak ada tanda keberadaan Vendra.
" Tuan belum sarapan...? "
" Belum non, bibi siapin siapin makanannya dulu, habis itu jangan lupa minum obat ya "
" Obat...? "
" Iya, semalam tuan berpesan buat ngingetin non Lily jangan lupa minum obat, nanti biar bibi ambilkan... "
" Oh, dokter yang kemari siapa bi? dokter Steve..? "
" Iya non, dokter Steve "
" Oh... "
Pagi ini dia masih dengan kecemasannya, tidak dipungkiri lagi kalau Lily sangat khawatir dan bertanya-tanya dimana Vendra.
" Bi... tuan ada di mana..? "
" Sepertinya tuan di ruang kerja, semalaman lampunya menyala non.
Barang kali lembur kerjaan kantor sampai ketiduran di sana... "
" Oh, baiklah... makasih bi "
" Sama-sama... "
Lily cepat-cepat menghabiskan makanannya dan berniat untuk kembali ke lantai dua dan melihat keadaan Vendra.
" Kepalaku sedikit pusing, apa karena aku terlalu terburu-buru ya naik tangganya "
Ia melihat pemandangan di depannya, Vendra nampak memejamkan matanya tertidur di sofa besarnya sambil memangku laptop.
" Dia tidur di sini semalam.... "
Perlahan ia melangkah mendekati Vendra.
" Kau sudah bangun... ? "
Kekasihnya terbangun.
" Turun dan sarapan.... "
" Kamu sudah sarapan...? sudah minum obat? "
" Sudah.... "
Lily langsung membalikkan badan dan berniat untuk pergi dari sana namun tiba-tiba kepalanya sedikit pusing dan ia kehilangan keseimbangan.
" Lily.... "
Vendra langsung bangkit dan berlari hingga menjatuhkan laptop di pangkuannya.
" Apa ada yang sakit...? kamu pusing? "
" Sedikit, tapi nggak apa-apa... "
Menatap Laptop yang tergeletak di lantai.
" Tak apa... ayo aku antar ke kamar "
Lily hanya diam dan menurut.
Vendra langsung membaringkan kekasihnya di ranjang.
__ADS_1
" Istirahat saja, kamu masih belum sehat.
Kalau butuh sesuatu bisa tekan tombolnya, nanti pelayan akan datang kemari... "
Vendra terlihat cemas namun ntah kenapa ucapan Lily kemarin terngiang-ngiang di fikiran nya.
" Kenapa badanku rasanya tidak enak sekali "
Lirih Lily.
" Aku akan panggilkan dokter... jika kamu mau "
" Tidak, itu tidak perlu... "
Vendra kini duduk di sofa dan memperhatikan Lily dari jauh.
Ia mengambil ponsel dan memberitahu Septian kalau hari ini tidak datang ke kantor.
Sekali lagi ia melihat ke arah Lily yang sedang menutup mulutnya seperti menahan sesuatu.
" Kamu baik-baik saja...? "
" Kak aku ingin muntah.... "
" Ayo aku antar ke kamar mandi "
Belum sempat turun namun Lily sudah tidak tahan dan memuntahkan sarapannya hingga mengenai kaos yang di kenakan Vendra.
" Apa yang sakit...? kamu bilang kalau ada yang sakit.... "
" Kak.... "
Matanya sudah berkaca-kaca melihat Vendra yang bajunya sudah kotor karena nya.
" Hey... ssssttt.... apa yang sakit...? perut kamu sakit..? atau kepala kamu tambah pusing "
Ucap Vendra lembut.
Lily hanya diam.
" Aku antar ke ke kamar mandi.... "
" Aku minta maaf... "
" It's okay baby... tak masalah... "
Mengelus pipi kekasihnya.
Vendra langsung membantu Lily membersihkan tubuhnya terlebih dahulu baru itu mengurus dirinya.
" Tidurlah... aku akan memanggil Steve kemari untuk memeriksa mu kembali... "
" Kak, jangan pergi... "
" Tidak, aku akan tetap disini, tidurlah... "
" Aku tidak mau kamu memanggil dokter Steve, itu tidak perlu... mungkin aku masuk angin karena kehujanan kemarin "
" Kau yakin..? "
" Iya... "
" Yasudah, tidurlah.... "
" Jangan pergi.... "
Vendra menemani Lily yang tengah beristirahat sambil terus mengelus pucuk kepalanya.
__ADS_1