
Pagi ini Lily dengan santainya sarapan sendiri di meja makan tanpa membangunkan Vendra yang semalam sibuk membujuk Lily agar tidak marah padanya.
" Non... tuan...? "
" Dia masih tidur bi, biarkan saja... nanti juga bangun sendiri. Kalau tidak nanti antar saja makanannya ke kamar ya, soalnya aku buru-buru berangkat ke kampus.... "
" Baiklah Non.... "
Di kamar Vendra membuka kedua matanya lebar-lebar saat tahu Lily sudah tidak ada di sampingnya.
" Kemana dia... "
Dengan cepat ia pergi ke kamar mandi dan bergegas membersihkan diri.
....
" Aku harus cepat-cepat berangkat.... "
" Hey....!!! siapa yang menyuruhmu berdiri...! "
Lily langsung mematung dan menoleh ke arah tangga. Terlihat Vendra sudah rapi dan berjalan ke arah meja makan.
" Aku mau berangkat.... "
" Kamu sarapan sendiri...? "
" Aku tadi buru-buru.... "
" Mau kemana...!! "
Lily kembali terdiam saat hendak melangkah namun Vendra mencegahnya.
" Kak aku mau berangkat, aku buru-buru... "
Berusaha memohon.
" Duduk...! "
" Tapi kak... "
" Duduk aku bilang...!! "
Vendra juga langsung duduk dan meminum satu gelas susu yang sudah di siapkan oleh pelayan si cepat kilat.
Terlihat Lily menekuk mukanya kesal dan duduk jauh dari Vendra.
" Pak, biar saya saja yang mengantarnya... "
Lily menatap penuh penolakan ke arah kekasihnya.
" Baik tuan... "
Jawab pak Jamal.
" Sudah aku bilang, bangunkan aku.... "
" Akun tadi buru-buru, kamu kan juga tidur larut malam dan terus menggangguku semalaman.
Aku saja sampai tidak bisa tidur karena ulah tanganmu.... "
__ADS_1
Ucap Lily polos.
Vendra yang mendengar ucapan kekasihnya wajahnya memerah, bagaimana bisa Lily berkata seperti itu padahal banyak sekali pelayan di sekitar mereka.
" Ayo berangkat... "
" Kamu tidak sarapan...? "
" Kamu mau berangkat atau tidak...? "
" Ah, iya iya... ayo berangkat sekarang... "
šš
" Kak, nanti aku... "
" Aku jemput....! "
Lily diam dan tidak menjawab.
" Aku memang merindukannya pulang, tapi sumpah aku membenci sikapnya yang seperti ini.... "
" Kamu pulang jam berapa...? "
" Kayaknya aku pulang siang, nanti kalau kakak sibuk biar pak Jamal saja yang jemput.. "
Vendra diam tanpa menjawab, sementara Lily juga diam karena kesal.
.....
Halaman kampus....
Lily membuka pintu mobil, namun Vendra memegang pergelangan tangannya.
" Kamu masih marah...? "
" Tidak.... "
Tersenyum ke arah kekasihnya.
" Aku minta maaf, sungguh Lily "
"Iya kak, aku tahu... aku berangkat dulu ya... "
Vendra justru semakin menarik Lily hingga kini mereka sudah saling menempel satu sama lain.
" Kak.. ini di kampus, lepaskan... "
Vendra memejamkan kedua matanya, memeluk dan mencium aroma tubuh kekasihnya yang sudah hampir satu bulan ia meninggalkannya.
" Aku merindukanmu.... "
" Kak.... lepaskan, nanti ada yang lihat... "
" Kaca mobil gelap, tidak tembus pandang... "
" Apa...!! "
Vendra semakin menarik kekasihnya dan melepaskan sabuk pengaman keduanya.
__ADS_1
Kini Lily sudah duduk di pangkuan Vendra.
Ia bisa merasakan detak jantung Lily yang sangat cepat, bahkan terlihat jelas di wajahnya kalau Lily benar-benar gugup.
" Kak aku nanti telat... "
Vendra tidak menjawabnya dan fokus ke wajah Lily sambil membenarkan poni kekasihnya yang berantakan.
" Kenapa keras ya.... "
Batin Lily yang tengah duduk di pangkuan Vendra.
" Kak... nanti aku telat... "
Tangan Vendra membelai lembut punggung hingga ke leher Lily yang justru membuatnya memejamkan mata.
" Aku merindukanmu.... "
Suara berat Vendra sudah keluar.
Lily terdiam dan masih memejamkan matanya menikmati sentuhan Vendra yang benar-benar membuatnya nyaman dan candu.
Perlahan dan tanpa penolakan Vendra menempelkan bibirnya yang sudah merindu merasakan milik kekasihnya akhirnya terbalaskan pagi ini.
Mereka sama-sama hanyut dan menikmati permainan panas mereka di dalam mobil.
Tanpa sadar Vendra membuka 2 kancing kemeja milik Lily dan meninggalkan banyak tanda merah di dada mulusnya.
" Kak... "
" Hm.... "
Tatapan Vendra yang benar-benar selalu membuat Lily jatuh cinta.
" Aku harus masuk... "
" Baiklah... tunggu sebentar... "
Dengan penuh perhatian dan lembut Vendra melepaskan pelukannya dan membenarkan kemeja Lily kembali.
Perlahan ia melepas tali rambut yang sejak tadi masih terikat di sana namun tidak beraturan karena ulahnya.
" Seperti ini saja... "
Ia melepaskan dan membiarkan rambut Lily terurai.
" Tapi kak... "
" Sudah, jangan membantah... kau bisa mengaca kalau kau ingin tahu, lehermu.. "
Lily langsung diam dan paham maksud dari perkataan Vendra.
" Aku berangkat dulu... "
" Kabari aku, kamu pulang jam berapa nanti... "
" Iya... aku berangkat dulu... "
__ADS_1
Mencium pipi Vendra dan langsung keluar dari mobil.