
" Bagaimana keadaan mama ....? "
" Dia baik-baik saja.... kau tidak perlu cemas, apa Jessie jadi ke indo...? "
" Ya, tempo hari aku menjemputnya... kau tahu kan aku tidak mungkin kasar padanya sementara dia tidak tahu apa-apa... "
" Aku juga bingung, kamu jalani saja dulu lah.. "
" Kau tidak menyusulku..? "
" Tidak, aku banyak urusan di sini... "
" Yasudah... "
Vendra mematikan ponselnya.
" Siapa...? "
" Sayang, kau membuatku kaget.. "
" Kamu menelfon siapa...? "
Tanya Lily.
" Kak Rayen... "
" Apa ada sesuatu...? "
" Tidak, semua baik-baik saja "
" Oh... "
♡♡♡
" Sebenarnya apa yang di sembunyikan mamah sama kak Rayen...? aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu di belakangku.. "
Sudah 2 minggu dan setiap harinya Jessie selalu datang ke tempat kerja Vendra berniat untuk mengajak makan siang atau sekedar berkunjung agar bisa berduaan dengannya.
Akhir-akhir ini juga Lily izin tidak berangkat ke kampus karena tidak enak badan.
" Sayang ayo sarapan, apa masih tidak enak badan...? "
Tanya Vendra cemas.
" Tidak.... aku sudah mendingan "
" Ayo sarapan... "
Tiba-tiba ponsel milik Lily berbunyi.
" Siapa..? "
" Mellanie... kamu duluan aja, nanti aku nyusul "
" Jangan lama-lama.... "
" Iya, aku mau angkat telfon dulu "
Vendra turun dan meninggalkan Lily di kamar.
" Halo Mel... "
" Hey... bagaimana keadaanmu..? masih sakit? atau kamu nanti berangkat...? "
" Ntahlah... sepertinya aku tidak berangkat deh Mel... "
" Kemarin ada pemberitahuan, kalau kuliah libur dan kita semua bakal ngadain jadwal kelas online, ya kamu tahu kan pandemi... "
" Iya kah..? sampai kapan..? "
" Ntahlah... aku juga tidak tahu sampai kapan, tapi nanti ada info dari dosen pastinya, oh ya nanti biar kamu dimasukin grub ya, pake nomor yang ini kan..? "
" Iya, nomor ini.. makasih banyak ya Mel... "
" Sama-sama, cepat sembuh ya.... "
" Iya.. makasih ya... "
Lily terlihat bernafas lega mendengar kabar dari Mellanie soal aturan baru di kampusnya.
Dengan segera ia meletakkan ponselnya dan menyusul Vendra untuk sarapan pagi.
♡♡♡♡♡♡♡
Beberapa hari yang lalu memang ada kesepakatan soal kerja sama antara perusahaan Vendra dan juga Jessie yang sudah dipastikan kalau ayah merekalah yang mengaturnya.
Karena itu kenapa Jessie sering datang ke kantor Vendra hampir setiap hari.
" Nanti dia kesini, untuk membicarakan soal proyek kalian berdua... "
" Siapa...? "
" Pacar ke-dua "
" Hey, jangan macam-macam atau kau aku pecat...!!! "
Vendra terlihat kesal dengan kalimat Septian.
" Pertemuannya jam berapa..? "
" Jam 10, mungkin dia juga mau mengajakmu makan siang sekalian... "
" Kau atur saja semuanya... "
" Bagaimana hubunganmu dengan Lily..? "
" Tentu saja baik, tapi ada sedikit masalah.. "
" Masalah...? "
Septian menatap Vendra.
" Masalah antara aku dan dia, kau tidak perlu tahu "
" Biasanya aku selalu ikut andil dalam masalah yang kalian buat... "
__ADS_1
" Kau bercanda...? ini masalah pribadi... jangan ikut campur "
" Terserah kau saja lah.... sudah hampir jam 10, dia pasti akan segera datang.. "
Mengingatkan Vendra soal Jessie.
" Dia dengan asistennya...? "
" Sepertinya begitu... "
Tak lama kemudian Jessie beneran sudah sampai di pintu bersama asistennya laki-laki seumuran dengan Vendra.
Tak bisa di pungkiri kalau Jessie mempunyai paras yang juga tak kalah cantik, siapapun pasti akan kagum dengannya.
Apa yang menempel di tubuhnya selalu terlihat sempurna.
" Hai Vendra... "
" Hai Jessie... duduklah... "
" Terima kasih.... "
" Kau membawa sesuatu nona Jessie..? "
Tanya Septian.
" Ah iya, ini makan siang... untukmu Ven... aku memasaknya sendiri... "
" Harusnya kau tak perlu repot-repot membawa makan siang untukku, kita bisa pesan atau makan siang di luar... "
Ucap Vendra.
Septian hanya diam dan mendengarkan dengan baik pembicaraan dan soal pertemuan mereka siang hari ini.
Jessie cukup ahli dalam bisnis, dia pintar dan juga bisa menguasai segalanya dengan baik dan dengan mudah juga ia bisa akrab dengan siapapun juga.
Baik Vendra atau Septian memang memuji kecerdasannya dalam hal berbisnis.
Tapi untuk singgah di hati Vendra sepertinya itu tidak mungkin, dia juga bukan type yang di idamkan oleh Vendra.
Sekilas Vendra melihat ke ponselnya yang menyala.
" Sayang... aku bawakan makan siang ya.. "
Vendra dengan cepat langsung membalas pesan dari kekasihnya.
" Sepertinya tidak perlu sayang, aku ada rapat penting dan mungkin makan siang di luar.. "
Sementara itu Lily duduk di meja makan sambil memandang kotak makan yang sudah ia siapkan dari tadi.
" Non, biar bibi bungkus kalau mau di bawa ke kantor... "
" Oh, iya bi... makasih ya... "
Sepertinya dia bersikukuh untuk membawakan makan siang ke kantor Vendra.
" Dia pasti tidak akan menolak kalau aku tetap datang ke kantor... dia menyayangiku bukan..? "
Ucapnya sambil tersenyum dan bergegas berangkat ke kantor Vendra.
♡♡♡
Ucap septian.
" Ya, pergilah.... ajak juga tuan Doni untuk makan siang "
Doni adalah asisten pribadi Jessie.
" Iya kak... kamu bisa ikut Septian untuk makan siang.... ini sudah jam istirahat "
" Baiklah nona Jessie... "
Kini hanya tinggal Vendra dan juga Jessie di ruangan.
Terlihat Jessie dengan antusias menyiapkan bekal yang sudah ia bawa untuk makan siang Vendra dan juga dirinya.
" Kau memasaknya sendiri...? "
" Tentu saja... tapi aku minta maaf kalau rasanya jauh dari masakan restoran... "
"Tak apa, setidaknya kau sudah berusaha "
Ucap Vendra sambil tersenyum.
" Terima kasih.... pujiannya "
" it's okay... "
" Sepertinya akan turun hujan, di luar mendung Vendra... "
" Ya, sepertinya begitu... cuaca sedikit buruk akhir-akhir ini "
Mereka langsung melanjutkan makan siang bersama.
Jessie begitu perhatian dan melayani Vendra dengan senang hati.
Tanpa Vendra tahu, Lily sudah sampai di kantornya dan bergegas untuk ke ruang kerja kekasihnya sambil membawa bekal makanan.
" Ven... gimana rasanya..? nggak enak ya..? "
" Enak kok... lumayan "
" Syukur deh, setidaknya lumayan hahaha "
" Kau pandai juga memasak... "
" Tentu saja, kamu tahu kan aku bukan anak manja "
Gurau Jessie.
" Makanlah ini, ini enak banget.. aku membuat kue ini sendiri... ya dengan resep mama sih.. "
Jessie mengambil satu potong kue dan langsung menyuapi Vendra tanpa basa-basi.
Vendra yang terkejut hanya diam dan membuka mulutnya begitu saja untuk menghargai Jessie.
__ADS_1
" Enak....? "
" Ya... enak... kamu makanlah juga Jessie "
Tanpa disadari Lily berdiri di pintu sambil melihat kejadian yang menurutnya keterlaluan.
Ia meremas bingkisan yang berisi kotak makan untuk kekasihnya.
Air mata sudah menetes, dadanya terasa sesak.
Bagaimana bisa Vendra melakukan semua ini, apa yang dilihatnya barusan juga sangat romantis.
" Kamu ternyata berbohong padaku... kamu membohongiku.... "
Lirihnya.
Spontan ia menjatuhkan bingkisannya dan berjalan mundur.
Septian yang dari kejauhan melihat kedatangan Lily yang hanya mematung di depan pintu langsung paham.
" Bukankah sudah aku bilang, aku selalu terlibat di permasalahan mereka... SIAL..!! "
Lily langsung berjalan secepat mungkin walaupun langkahnya terasa sangat berat sampai-sampai tidak menghiraukan Septian yang di depannya.
" Lily... kau mau kemana... "
Sekilas Septian melihat ke wajah kekasih Vendra yang sudah basah dan mata yang merah.
" Lily tunggu...!! "
Berlari secepat mungkin dan meninggalkan Septian.
Sementara itu Septian yang bingung mau mengejar Lily atau memberitahu Vendra memilih untuk memberitahu boss nya itu dan mengambil bingkisan yang tergeletak di depan pintu.
Septian mengetuk pintu dan memanggil Vendra.
" Apa yang kau bawa...? "
" Aku temukan di depan pintu... "
Vendra yang penasaran langsung membuka bingkisan itu yang ternyata adalah kotak makanan berwarna pink yang tidak asing baginya.
Matanya langsung menatap tajam ke arah Septian.
" Ven.... apa isinya...? "
Tanya Jessie.
" Dimana dia..? "
" Pergi... "
Jawab Septian.
" Si*l...!!! "
Vendra langsung berlari dan melepaskan tangan Jessie yang berusaha memeganginya.
" Sep... ada apa...? "
" Maaf Jessie... aku akan menjelaskannya nanti.. "
Septian juga ikut berlari mengejar Vendra.
Lily berlari di derasnya hujan tanpa arah dan tujuan, ia tidak pulang atau pergi dengan supir.
Kakinya serasa menyuruhnya untuk berlari tanpa henti di derasnya hujan siang ini.
" Apa ini firasat yang pernah aku rasakan untuknya....? "
Menangis dalam hujan, sakit dan teramat sakit, apalagi setiap bayangan itu melintas di fikirannya.
" Kenapa dia kesini....?! dimana dia Sep..! "
" Mana aku tahu, aku tadi melihatnya berdiri di depan pintu dan dia langsung berlari... "
" Kenapa kau tidak mengejarnya....!!!!! "
Septian hanya diam.
" Hujan... dia kemari naik apa hah...!!! bagaimana kalau dia hujan-hujan di luar...!! "
" Sabar.... sebaiknya kita cari saja, siapa tahu belum jauh juga kan... "
Vendra langsung berlari hingga membuat tubuhnya basah tanpa memperdulikan hujan.
" Ayo naik mobil, kau bisa sakit juga nanti.. "
Bujuk Septian.
" Kau GILA...!!!! kau cari saja pake mobil...!!! "
Septian hanya menghembuskan nafas kesal.
" Aku temani... "
Tak lama kemudian Vendra melihat mobil pribadinya terparkir di halaman.
" Dimana supirnya hah...!!!! "
Tak lama datanglah pak Jamal sambil membawa payung.
" Tuan ada apa..? "
" Dimana non Lily...? "
" Lho, kan non Lily tadi masuk untuk membawakan makan siang tuan... non Lily belum... "
Belum selesai dengan ucapannya Vendra langsung menggebrak mobil dengan keras membuat pak Jamal ikut panik dan juga takut.
" CEPAT CARI DIA...!!!! "
Septian langsung bergegas mencari Lily begitu juga dengan pak Jamal.
__ADS_1
Vendra mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi nomor Lily namun tidak ada jawaban.