BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
BINGUNG


__ADS_3

" Ya sudah diam saja... pusing aku... "


" Tapi gimana pulangnya... "


" Jalan kaki...! nunggu hujan reda... "


" Apa....?!! "


" Kau berteriak padaku...? "


" Bukan begitu tuan, tapi ini sepertinya lama kalau nunggu hujan reda... "


Lily spontan bersin.


" Terus... kau mau jalan kaki di tengah hujan..? kalau kau mau pergi saja... "


" Yasudah.. aku akan jalan kaki... "


Lili meraih gagang pintu mobil dan berusaha untuk keluar namun Vendra secepat kilat meraih tangannya.


" Apa kau bodoh...!!!!


diam dan jangan banyak bicara....!!! "


" Tapi... "


" Diam Lily .... ayolah... "


Lily langsung diam, mereka sama-sama basah tapi Lily sudah pasti lebih basar daripada Vendra.


30 menit berlalu tapi hujan masih juga lebat.


Vendra sesekali menoleh ke arah Lily yang dari tadi mendekap tubuhnya karena kedinginan, ia juga sudah mematikan AC mobil.


" Tuan... coba sekali lagi mesinnya... mungkin aja nyala... "


ucap Lily gemetar.


" Baiklah..... "


Vendra menghidupkan mesinnya dan masih saja tidak hidup.


" Tidak bisa juga, apa mereka tidak merawat semua mobilku, sampai-sampai harus macet di tengah hujan seperti ini.


Mereka benar benar keterlaluan..!! "


Vendra sekali lagi melihat ke arah lily, ia melihat bibir lily sudah sangat pucat.


" Kau baik-baik saja..? "


" Tubuhku rasanya tidak enak banget tuan.. "


" Dia bisa demam kalau terus saja begini.. bagaimana ini... "


Vendra bingung harus apa karena ia memakai mobil hitam yang tidak biasa ia pakai.


Kalau di mobil biasa yang ia pakai pasti ada selimut, bantal dan juga baju ganti.


" Tuan.... "


" Lily... hey... gimana ini... "


" Lily.... jangan pingsan sekarang, aku mohon... ini bukan waktu yang tepat... "


Tangan kanan lily sudah terkulai lemas dan tanpa sengaja menyentuh telapak tangan Vendra.


" Dingin sekali tangannya... Sial...!!! apa yang harus aku lakukan.. "

__ADS_1


Vendra memutar otak bagaimana caranya agar lily tidak kedinginan setidaknya itu bisa mencegah kematian.


" Aku harus melakukan ini... "


Vendra melangkah ke tempat duduk lily yang masih muat jika harus di duduki 2 orang.


Dengan perlahan dan sedikit keraguan ia meraih baju lily yang mau ia buka.


" Tuan.. kau mau apa... "


Lirih lily.


" Diam... "


" Tuan.. jangan... "


" Lily kau bisa mati kaku kalau aku biarkan seperti ini, apa kau mau...!!!! "


Lily hannya menggelengkan kepala karena sudah merasa sangat lemas sekaligus kedinginan.


" Gimana... boleh..? "


Untuk kali pertama Vendra meminta izin untuk melepaskan baju dari tubuh seorang wanita.


Sementara Lily hannya menganggukkan kepala karena ia tidak bisa berfikir apa-apa lagi.


Vendra perlahan membuka baju Lily yang kebetulan ia memakai kaos dan celana jeans.


" Maaf... "


" Diam...!! "


Kini tubuh lily sudah setengah bugil dari leher sampai pusar dan hannya memperlihatkan BH nomor 34 berwarna putih dengan kulitnya yang sudah sangat putih.


Glek...


Berkali-kali ia menelan slavinanya kasar menatap Lily dan gundukan nya yang kecil namun punya daya magnet yang membuat Vendra terus ingin menatapnya.


Bagian bawah Vendra sudah setengah menengang.


" Shit...!!! apa ini, bisa-bisanya hannya seperti ini aku sudah bereaksi... "


" Kau berkata apa tuan..? "


" Tidak... tenanglah... "


Ia langsung membuka kaosnya dan memperlihatkan dada kekarnya di hadapan Lily.


Lily berusaha mendorong Vendra namun tidak ada tenaga sedikitpun.


" Kau mau apa...? "


" Lily... diamlah...!!!!"


Vendra langsung memeluk erat tubuh mungil Lily di pelukannya, sebenarnya ia juga merasa sangat kedinginan.


Terdengar suara gemetar di mulut Lily, dan itu membuatnya memeluk semakin erat.


Lily sejenak mencium bau harum aroma tubuh Vendra, begitu juga dengan Vendra yang merasa berulang-ulang menghirup aroma tubuh wanita yang sedang ia peluk.


Hannya terdengar suara rintik hujan yang mengenai mobil, kebetulan juga kaca mobil Vendra gelap jadi mau dengan cara apapun orang luar tidak akan pernah bisa melihat isi dalam mobil.


Vendra bisa merasakan nafas Lily yang sudah terasa normal, sesekali ia juga menatap ke arah wajah wanita yang sudah tertidur di pelukannya.


" Kenapa aku bisa setenang ini, ada yang berbeda ketika aku menyentuhnya.


Hannya melihatnya saja bagian kecilku sudah bereaksi bahkan aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

__ADS_1


Kenapa aku juga merasa takut dan deg-degan seperti ini ketika mau menyentuhnya...


apa karena memang dia masih perawan..?? "


Tanpa sengaja Vendra langsung memeluk erat Lily yang bergerak kecil.


Waktu dan suasana malam ini benar-benar mendukung sekali untuk mereka berdua, dan pastinya malam yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.


" Berhenti menatapnya Vendra... "


gerutunya sendiri.


Tangan Lily tiba-tiba spontan memeluk badan Vendra dengan lembut.


Seperti tersengat listrik Vendra merasa geli dan menikmati sentuhan dari tangan Lily.


" Dia pake peluk segala lagi... kapan hujan ini reda... sungguh aku benar-benar tersiksa semalaman kalau hujannya tidak juga reda.. "



Setelah sekian lama bergelut dengan nafsunya, kini Vendra juga tertidur dengan memeluk Lily.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


12.00 tengah malam...


Lily membuka kedua matanya, perlahan ia memulihkan pandangannya yang sekarang memang ia sedang memeluk Vendra.


" Aaaaaaaaa....... "


" Apa... apa... ada apa...? "


sahut Vendra yang sudah terbangun karena kaget.


" Ya ampun lily, kau mengagetkan ku... "


" Apa yang sudah terjadi... "


" Lily... kau kedinginan, aku berusaha menolongmu... apa kau lupa? aku juga sudah meminta izin darimu... "


Lily masih menatap bingung mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


" Sudah mengingatnya...? "


" Maaf...


makasih... "


" Hm. .... "


Mereka kembali memakai pakaian mereka masing-masing, karena sempit dan masih di posisi sama tanpa sengaja siku lily mengenai mata Vendra.


Bugh....


" Tuan... maaf... mana yang sakit biar aku tiup.. maafkan aku, aku tidak sengaja... "


Ia masih memegang mata kanannya karena terasa sedikit linu.


Lily langsung meraih tangan Vendra dan berusaha meniupnya.


Deg


..


deg...


deg....

__ADS_1


__ADS_2