BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
TAKUT JARUM SUNTIK


__ADS_3

Setelah menunggu 30 menit akhirnya dokter sampai juga di kediaman Vendra.


Kali ini yang datang dokter muda yang biasa datang ke rumah besar itu.


Dia seumuran dengan Vendra, namanya adalah dokter Steve.


" Selamat pagi nona...."


" Pagi dok...langsung saja ke atas..."


Steve melihat dari ujung kepala sampai kaki menatap Lily penuh tanda tanya.


" Siapa wanita ini "


Lily mengantar Steve menuju kamar Vendra.


" Siapa yang sakit nona...? "


" Itu...tuan Vendra...."


" Oh...apa sakitnya parah sampai-sampai memanggilku...? "


" Aku yang memutuskan untuk mengundang anda kemari, sebenarnya tuan tidak mau dipanggilkan dokter..."


" Oh...dia manggil tuan, berarti dia salah satu dari pelayan disini.


Tapi tampilannya kenapa berbeda dengan yang lain...? apa ada standart berpakaian baru dirumah ini untuk pelayan...? "


Steve masih bertanya-tanya soal siapa Lily.


" Silahkan..."


" Em..baiklah..saya akan memeriksanya, anda bisa menunggu di luar..."


" Baiklah..."


Lily langsung keluar dan menunggu di depan pintu.


" Hey tuan Vendra...tumben kau menelfonku, apa sakitmu parah...? "


" Pergilah...aku tidak memanggilmu....! "


" Tapi nomor rumah menelfonku..."


" Itu pasti Lily yang melakukannya..."


" Lily....? siapa dia...? gadis kecil tadi...? "


" Ya.....! pergilah...aku baik-baik saja..."


" Ayolah biar aku periksa, kalau kau takut jarum aku tidak akan menyuntik mu...."


" Steve ayolah...aku baik-baik saja..."


Saat sedang berdebat tiba-tiba terdengar bunyi dari perut Vendra, terlihat Keringat dingin bercucuran di muka dan tubuh Vendra.


" Kau baik-baik saja...? sepertinya kau memang butuh obat bro...."

__ADS_1


" Minggir....!!! "


Ia langsung berlari menuju kamar mandi.


" Sepertinya perutnya terganggu...."


šŸƒšŸƒšŸƒšŸƒšŸƒšŸƒ


" Berbaringlah biar aku periksa Vendra...! keras kepala sekali kau..."


" Aku tidak mau...!!! jangan menyentuhku...!! "


" Kau akan menempelkan suntik ini jika kau terus saja berteriak...! "


" Beraninya kau...!!!! "


Di luar Lily nampak heran kenapa Vendra berteriak-teriak Seperti orang kesurupan.


Ia memutuskan untuk masuk dan terkejut melihat Vendra yang menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sementara itu dokter Steve mencoba menarik hingga terlihat seperti sedang bermain tarik tarikan.


" Apa ini...konyol sekali..."


" Pergilah Steve atau aku pecat kau dari pekerjaanmu...!!! "


" Kau itu sakit perlu obat...!!! dasar badan gede nyalimu cuih....! seperti anak kecil...."


" Maaf ada apa ini dok..? "


" Tuan...jangan seperti ini, apa kamu tidak malu.."


Bisik Lily.


" Kau...!! dasar gadis kurang ajar...!! beraninya kau menelfon dia untuk datang kemari...!! "


" Tapi kamu sedang sakit tuan, tolong jangan seperti ini..."


" Berbaliklah, aku tidak akan menyuntik mu bodoh...!!! "


" Apa dia takut disuntik...? "


" Ya..lihatlah nona..."


" Hahahhaahahaha..... dia takut disuntik...? kamu takut jarum suntik...? "


" Sekali lagi kau tertawa aku akan merobek mulutmu...!!!! "


" Aku akan keluar dan biar dokter Steve memeriksamu..."


" Jangan pergi kemana-mana....! "


" Nona tetaplah disini, aku sudah capek.mendengarnya berteriak-teriak..."


" Diam dan biarkan dokter Steve memeriksamu..."


Vendra langsung diam, tangannya sudah dingin.

__ADS_1


" Perutmu sakit...? "


" Ya..."


" Kau perlu obat, nanti biar aku infus, kau kekurangan cairan Vendra...dan itu bahaya sekali..."


" Kau memang kurang ajar...!!! "


" Sudah dok lakukan apa saja biar dia cepet sembuh..."


" Hey...! berhenti memerintahkannya...dasar!! "


Steve dan Lily hannya bisa mendengus kesal.


Mau tidak mau Vendra terpaksa mengikuti apa saran Steve setelah berdebat dan berteriak.cukup lama.


" Pejamkan matamu jika kau takut melihat jarum "


Vendra langsung memejamkan kedua matanya dengan tangan kiri yang tanpa sengaja langsung melingkar di pinggang ramping Lily.


" Aaaaaaa....."


Kali ini yang berteriak malah Lily karena Vendra meremas kuat pinggang ramping Lily.


" Nona..kenapa anda berteriak...? "


" Dok...dia meremas pinggang ku..."


" Hey, apa yang kau lakukan bodoh...! kau melukainya..."


Vendra hannya diam.


" Jangan banyak bergerak atau infusnya akan lepas dari tanganmu dan aku akan melakukan suntikan lagi..."


" Berapa lama..? "


" Kalau kau sudah tidak sakit perut, besok aku akan kesini.


Minumlah obat dengan teratur..."


" Hm. pergilah....! "


" Nona...saya pamit dulu, awasi dia dan jangan sampai dia tidak meminum obatnya.."


" Baiklah dok..terima kasih..."


" Apa pinggang mu baik-baik saja...? ada noda merah di bajumu..."


Steve melihat noda merah yang sepertinya memang darah tapi ia tidak tahu separah apa luka dari cakaran Vendra yang melukai pinggangnya.


" Ah...tidak apa dok...nanti akan aku kasih obat merah, sekali lagi terima kasih..."


" Obati lukamu..."


" Tentu saja..."


Steve langsung turun dan meninggalkan mereka berdua di kamar.

__ADS_1


__ADS_2