BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
ANEH


__ADS_3

Sudah 4 hari Lily berada dirumah dan Vendra yang masih belum pulang.


Ia yang semula ingin pergi keluar rumah akan tetapi mendengar perkataan Vendra tempo hari akhirnya niat itu ter urung kembali.


Lily mematuhi semua apa yang pesankan oleh Vendra, ia juga masih mengingat kejadian tempo lalu saat laki-laki itu menyeretnya ke dalam club' yang biasa Vendra kunjungi.


" Non....ada apa..? kenapa melamun..? "


" Ah..bibi...tidak...aku hannya sedang menonton televisi..."


" Tapi non lily tidak melihat ke arah televisi..? apa non Lily sedang sakit...? "


" Tidak bi...aku baik-baik saja..kapan bi Susi pulang...? "


" Nanti sore mungkin sudah sampai non..."


" Aku bosan sekali..."


" Apa non Lily ingin sesuatu...? "


" Tidak....."


" Jika non Lily ingin sesuatu katakan saja..."


" Bi...aku ingin makan bakso...apa bibi bisa membelikannya untukku...pake sambel yang banyak ya...."


" Baiklah...tunggu ya non.."


" Bi..."


" Iya non...? ada apa...? "


" Apa tuan masih lama...? "


" Kami tidak tahu non...kenapa emangnya.. ? "


" Tidak apa...aku hannya bertanya..."


Vendra yang selalu memantau gerak gerik dan semua yang dilakukan oleh lily dari sana merasa senang melihat gadis yang sudah ia beli itu mematuhi apa yang ia ucapkan.


" Bagaimana keadaan mama...? "


" Sudah lebih baik.....terima kasih kau sudah menjenguk mama...."


" Apa papa masih lama di negara ***** "


" Ntahlah...mama tidak tahu..."


" Apa sudah kau kirim pesan..? "

__ADS_1


" Sudah....."


" Tapi tidak dibalas dan bahkan dia tidak pulang menemui mama....suami macam apa dia "


" Sudahlah Vendra... mungkin papa kamu itu sibuk...."


" Sibuk....?


Bukankah memang dia selalu sibuk sejak dulu...."


" Vendra....ayolah..mama mohon jangan seperti ini...."


" Mama sudah boleh pulang, aku akan mengurus semuanya...."


" Terima kasih nak...."


Vendra meninggalkan ibunya di kamar rawat inap yang sangat mewah.


Sebenarnya ia juga sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, sakit tanpa didampingi seorang suami.


Berbeda dengan Vendra, ia yang sudah terbiasa bahkan ia lupa kalau mempunyai seorang ayah, untuk menyebut namanya saja jarang sekali dan tidak pernah terfikir kan dibenak nya.


Ia langsung menyuruh anak buahnya untuk mengantar ibunya pulang, sementara ia mengurus pembayaran dan langsung menyusul ibunya dengan mobil pribadinya.


" Sedang apa nona Lily....? "


" Sudah kau belikan....? "


" Sudah... "


" Apa dia menanyakan ku...? "


" Iya tuan, tadi dia menanyakan anda dan bi Susi... "


" Kapan bi susi kembali...? "


" Nanti sore...."


" Yasudah.... "



šŸƒšŸƒšŸƒšŸƒ


" Non...."


" Iya bi... ada apa...? "


" Jangan banyak-banyak sambelnya..nanti bisa sakit perut.. "

__ADS_1


" Kalau cuma sedikit gak terasa bi...."


" Non..nanti kalau tuan marah gimana..? "


" Kau jangan bilang bi...."


" Tapi tadi tuan menelfon...."


" Benarkah...??? kapan....??? kenapa dia tidak menelfonku...? "


" Barusan...."


" Apa dia menanyakan ku.. ? "


" Iya..."


" Yasudah terima kasih baksonya bi, kau bisa pergi... jangan mengawasi ku..aku mohon.."


" Baiklah non, bibi akan ke belakang dulu..."



" Dia kapan kembali....tumben 2 hari ini dia tidak menelfonku...."


Lily terus memasukkan bakso dan mie ke dalam mulutnya, sesekali ia menikmati rasa pedas yang benar-benar membuat wajahnya memerah.


" Ah....ini nikmat sekali....pedesnya nampol.


Ngomong-ngomong kapan ka Vendra pulang.


Kenapa lama sekali perginya...? "


Lily kembali melamun sambil mengaduk bakso yang sudah hampir habis.


šŸƒšŸƒšŸƒšŸƒ


" Nak....siapa wanita yang kau bawa pulang...? "


" Kenapa mama bertanya...? "


" Siapa...? "


" Hannya teman Vendra "


" Teman


.....? "


" Ya... "

__ADS_1


__ADS_2