BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
VILLA LAGI


__ADS_3

Vendra sudah berada di halaman kampus untuk menunggu kepulangan kekasihnya siang ini.


Sengaja tidak makan siang, karena berencana untuk makan di luar dan me time dengan Lily.


" Aku balik duluan, kakak jemput aku soalnya.. "


" Kakak kamu udah balik...? "


" Udah Mel... kemarin... "


" Ya udah, hati-hati ya... "


" Oke... "


Lily langsung bergegas keluar karena sudah mendapat pesan dari Vendra.


Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Jake dan Alex.


" Hey.. buru-buru kayaknya... "


Sapa Jake.


" Iya.. mau kemana..? "


Tanya Alex.


" Aku mau pulang.... "


" Mau aku anterin...? "


" Terus aku gimana hah..!! "


Lily tertawa.


" Nggak usah Lex... aku di jemput sama kakak... makasih tawarannya, tenang aja Jake nanti di antar sama Alex... "


Guraunya.


" Udah pulang..? "


" Udah.... "


" Owh.... "


" Duluan ya.... "


" Oke... "


Alex menatap kepergian Lily.


" Emang kakaknya habis dari mana..? "


" Kemarin aku ketemu Lily di cafe... "


" Cafe nyokap...? "


" Ya, tapi tumben dia sendirian Jake, makan aja aku tanya... ternyata kakaknya keluar kota.. "


" Tumben... sama pengawal dia kemarin..? "


" Tidak, sama supir cuma supirnya pulang, tumben banget. Apa segitu terkekang nya dia kali ya... "


" Ya, kita juga nggak tahu... dia adik perempuan satu-satunya Lex, wajar.


Kalo aku punya adik juga pasti kayak gitu mungkin, apalagi cewek... "


" Benar juga si, tumben pinter... "


Jake hannya tersenyum kesal menatap Alex.


šŸ’•šŸ’•

__ADS_1


" Kak.. maaf lama... "


Vendra tersenyum dan langsung mencium pipi kekasihnya.


" Udah makan..? "


" Belum.. aku langsung buru-buru pulang "


" Kita makan siang dulu... "


" Kamu juga belum makan..? "


" Tentu saja belum... "


" Oh, Oke.... "


Vendra menyalakan mobilnya dan meninggalkan halaman kampus.


" Kita pergi ke suatu tempat.. kamu mau..? "


" Kemana...? "


Tanya Lily.


" Menghabiskan waktu berdua... "


" Kakak nggak sibuk...? nggak kerja..? "


" Kenapa....? kamu tidak mau..? "


" Bukan... aku mau kok.. mau... "


Lily terlihat antusias, selama ini memang ia tidak pernah menolak apapun yang ditawarkan oleh Vendra.


Mereka akhirnya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di restoran untuk mengisi perut karena memang sudah jam makan siang.


" Kak.. mau kemana si...? "


" Tentu saja aku mau... tapi aku kan penasaran aja... "


" Kamu nggak pernah belanja..? tidak ada tagihan apapun yang aku terima... "


Lily terdiam menatap Vendra.


" Masak sih...? aku kemarin belanja kok... "


" Belanja apa.. ? tagihannya saja tidak sampai satu juta.... "


" Tapi itu banyak lho... aku juga tidak membutuhkan apapun, semua ada di rumah.. "


" Sekali-kali belanja... buat aku terkejut dengan tagihan yang kamu keluarin per bulan... "


Ucap Vendra enteng sambil memakan makanannya.


" Tapi aku kan tidak biasa boros... "


" Kamu terlalu hemat... kamu harus sedikit boros.. biar sebanding dengan kerja keras yang aku hasilkan.. "


" Emangnya aku wanita apaan... "


" Tentu saja wanitaku... istimewa... "


Lily tersenyum.


Tak butuh berlama-lama, mereka langsung meninggalkan restoran dan bergegas menuju lokasi yang sudah di siapkan oleh Vendra.


" Kak... "


" Udah.. jangan banyak tanya.... "


" Kamu mau ngajak aku ke puncak..? "

__ADS_1


" Hm... "


" Kita mau ngapain...? "


Vendra hannya diam dan tidak menjawab.


Kali ini Vendra membawa Lily ke sebuah Villa yang terlihat sangat mewah.


Bahkan penjaga juga lengkap di sana.


" Ini Villa kamu...? kamu punya berapa..? banyak ya..? "


" Tidak... aku hannya lupa punya berapa, nanti aku akan mengingat-ingat nya... "


Lily terkejut heran.


" Dia benar-benar kaya sekali... padahal kemarin-kemarin kan aku sudah pernah di ajak ke Villa miliknya, dan ini...? ini juga miliknya..? "


" Ayo baby... kamu ngapain di luar berdiri di situ, masuk donk... "


Ucap Vendra.


" Oh.. iya... "


Langsung berjalan mengikuti Vendra.


" Kamu mau mandi...? "


" Kamu nggak ngajak aku keliling dulu..? "


" Ntar aja.. ayo ke kamar... "


Vendra menggandeng Lily memasuki kamar pribadi mereka.



Vendra langsung memeluk erat Lily dari belakang, hingga membuat suasana sejenak menjadi hening.


" Aku benar-benar merindukanmu... "


" Aku tahu, dan aku juga begitu... "


" Aku minta maaf, aku merasa kamu masih kesehatan denganku... "


" Tidak... yang berlalu biarlah berlalu... "


Ucap Lily.


" Aku tidak akan mengulanginya... aku janji.. "


Lily hannya diam.


" Kenapa kamu diam..? "


" Tidak... aku hannya takut, aku takut kamu meninggalkan aku kembali seperti kemarin, aku takut.... "


" I'm promise.... "


" Kamu janji...? "


Lily terlihat berkaca-kaca.


" Jangan menangis... "


Vendra memeluk kembali Lily dan berusaha menenangkannya.


" Jangan menangis... aku akan merasa sangat tersakiti oleh air matamu... "


" Tapi aku tidak bisa menahannya kak... hiks.. hiks... "


Vendra hannya tersenyum sambil terus mengelus punggung dan kepala kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2