
" Kenapa nyerinya masih terasa ya, apa aku keluar membeli obat saja...? tapi aku kupa kata sandi pintunya.... "
Lily memanaskan kembali air dan dimasukkannya kedalam wadah botol yang kosong untuk di kompres di perutnya yang terasa nyeri.
Berkali-kali ia meringis menahan nyeri di perutnya.
" Awh..... "
Wajahnya sudah pucat, ditambah lagi badannya sedikit gemetaran karena sudah jam 11 siang dan dia belum makan apapun.
Perlahan ia berjalan menuju ranjang dan mengambil ponselnya di atas meja untuk menanyakan pada Vendra berapa kode pintu apartemen miliknya.
Tut....
tuut.......
tut.......
" Hallo ka..... "
Lirih Lily.
Dengan seksama dan cukup lama Vendra mengangkat telfon dari Lily, namun kini Lily malah mematung.
Air mata sudah memenuhi ke dua matanya, ntah kenapa ini terasa sakit untuknya.
" Jadi kamu pergi meninggalkan aku sendiri untuk ini ka... "
Ia langsung menutup ponselnya.
" Kenapa aku menangis....? hiks... hiks... "
Ia meremas erat seprei sambil terus menangis dan menundukkan kepalanya.
Rasa pusing yang sudah ia rasakan kini justru bertambah pusing.
Sekilas ia menatap ruangan seperti berputar.
Bughhhhhh......
Tubuh mungil itu terjatuh kelantai, ya Lily pingsan dengan tangan yang masih memegang ponsel.
š
Flashback on....
Kring...
kring....
" ponselku berbunyi.... "
__ADS_1
Setengah mendesah.
" Biar aku ambilkan saja sayang, kau hannya perlu menikmatinya.... "
Sambil terus menggoyangkan pinggulnya di atas tubuh Vendra.
Wanita itu langsung mengambil ponsel Vendra dan melihat nama yang terpampang di layar ponsel.
Lily'love
Ya, seperti itulah Vendra memberi nama nomor Lily di ponselnya.
" Sepertinya ini kekasihnya...?
Tapi apa dia sungguh punya kekasih...? "
Jalang itu berusaha mencerna nama yang terpampang di ponsel laki-laki yang tengah menikmati kenikmatannya di bawah sana.
" Siapa...? "
Suara serah Vendra terdengar jelas di telinga Lily.
Jalang itu sengaja mengangkatnya dan tanpa menjawab ia menggoyangkan pinggulnya dan memuaskan Vendra dengan sangat lihat.
" nikmat sekali baby..... "
Seru Vendra dengan suara yang sungguh sexy tanpa ia tahu kalau Lily sekarang bisa mendengar jelas erangan dan kenikmatan yang mereka nikmati.
" Ganti posisi sayang.... "
Mereka lalu mengganti posisi hingga kini Vendra berada di atas tubuh wanita jalang yang bersamanya saat ini.
Desahan demi desahan terdengar jelas dan memenuhi kamar itu.
" Lakukan dengan cepat Ven.... "
" Peluk aku baby... "
Seru Vendra.
Keduanya melakukan pelepasan secara bersamaan hingga mengerang hebat.
Sementara itu sambungan telfon masih terhubung tanpa Vendra sadari hingga Lily sendiri yang memilih untuk memutuskan sambungannya.
Flashback Off..
š
š
š
__ADS_1
š
" Keluarlah... kau bisa menikmati pesta dibawah.. "
Ucapnya pada wanita yang sudah selesai memakai bajunya.
" Terima kasih Ven untuk hari ini... bisa kita lakukan lain waktu lagi...? "
" Aku tidak berjanji, pergilah.... "
Wanita jalan itu langsung keluar dan meninggalkan Vendra di kamar.
Ia memakai kaos dalamnya dan kemejanya kembali.
" Siapa yang menelfon ku tadi..? wanita itu belum menjawabnya... "
Dengan cepat Vendra langsung mengambil ponselnya.
" Sial....!!! "
Ia mengecek panggilan yang masuk adalah dari Lily, sementara durasinya berlangsung 15 menit sebelum sambungan terputus.
" ****.....!!!! "
Dengan cepat ia mengecek sambungan CCTV yang berada di apartemennya termasuk kamar miliknya.
Betapa terkejutnya Vendra melihat gadis mungil yang berada di kamar itu tergeletak di lantai sambil memegang ponsel di tangannya.
" Lily.... "
Tanpa menunggu lama ia langsung turun dan berlari untuk keluar dari villa dan kembali ke apartemen.
" Ven....! ada apa...? "
Tanya wanita jalang nya yang sudah memuaskannya hari ini.
" MINGGIR.... !!!! "
Ia langsung menghempaskan tangan wanita itu hingga tersungkur di lantai.
Sontak membuat beberapa yang berada di sana terdiam dan menatap kepergian Vendra.
" Ven.. kamu mau kemana...?!!! "
Teriak Rayen.
Mobil Vendra langsung dengan cepat meninggalkan halaman villa dan bergegas menuju ke kota.
.
.
__ADS_1
.
" Lily... i'm so sorry..... "