
" Jaga dia baik-baik, sepertinya kau akan hilang akal bersamanya kali ini.... "
Bisik Rayen tepat di telinganya Vendra.
" Hentikan omong kosongmu dan cepat pergi, titip salam buat mama.... "
" Hm... baiklah.... "
Rayen menghampiri Lily.
" Selamat tinggal gadis kecil, jaga diri baik-baik ya, kau bisa menelfonku kalah kau butuh bantuan... "
Memeluk Lily sambil kedua matanya menatap ke arah Vendra.
" Ah, iya ka.. hati-hati ya... kalau senggang datanglah lagi... "
" Oke.. terima kasih tawarannya... jaga dia baik-baik untukku okeyy... "
Lily tidak menjawab apapun.
" Jaga dia...?
dia siapa...?
apa maksud ka Rayen dia...?
lagipula dia sudah besar kali, kenapa aku harus menjaganya...? "
Lily menatap ke arah Vendra.
" Baiklah, aku pergi.... kalian jangan lupa jaga diri .... kalau sempat, ajaklah Lily mampir kerumahku ya.... "
Rayen melambaikan tangan dan langsung berlalu meninggalkan mereka.
" Ayo.... "
" Em... ayo... "
Mereka berjalan meninggalkan Bandara dan bergegas untuk pulang.
" Dia bicara apa...? "
" Tidak ada, hannya salam perpisahan... "
" Kau fikir aku bodoh..? "
" Jangan bertengkar di mobil, aku mau pulang dengan selamat... orang cuma bicara biasa, kan aku sudah menjawabnya.... "
" Katakan....! "
Nada Vendra sedikit keras.
" Jangan berteriak... suaramu membuat telingaku terganggu.... "
" Kau ini benar-benar.... turun kalau tidak mau mengatakannya... "
Lily memutar bola matanya menatap Vendra tidak percaya, bagaimana bisa laki-laki ini bersikap begitu padanya hannya karena masalah kecil.
" Kau mau menurunkan aku hannya gara-gara ka Rayen dan perkataannya...? apa kamu segitu penasaran dengan apa yang dikatakan barusan...? "
" Turun...! "
" Ini sudah malam.... aku tidak mau... aku takut... "
" Turun aku bilang....!!!! "
__ADS_1
Sebenarnya Vendra mungkin cemburu karena Lily membalas pelukan dari kakaknya, ntah ini sikap yang aneh atau apa Lily juga heran.
" Yasudah aku turun...!!! "
Lily turun dan membanting pintu mobil kesal, ia meninggalkan tas dan dompetnya disana, sementara itu Vendra langsung melajukan mobilnya meninggalkan Lily.
.
.
" Aku fikir dia baik, ternyata aku salah.
Bagaimana bisa ada orang seperti itu di dunia ini, bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku...? mungkin dia tidak peduli. "
Lily terus menyusuri jalan, jam sudah menunjukkan di angka 9.
Suasana juga sepi, tubuhnya terasa gemetar.
Bagaimanapun ia takut jika nanti ada seseorang yang menyakitinya, mulutnya terus mengutuk Vendra karena meninggalkannya sendirian di jalan.
" Nona... anda sendirian...? "
Tiba-tiba suara itu muncul dari belakang.
Terlihat sepasang muda-mudi yang sedang berboncengan menyapanya.
" Tidak... "
Jawabnya singkat.
" Nona mari biar kami antar.... "
Jalanan yang begitu sepi membuat 2 laki-laki itu turun dari motor dan mematikan sepeda motornya.
Dari penampilannya terlihat kalau mereka bukan orang baik-baik.
.
.
Di dalam mobil Vendra terdiam memikirkan Lily.
" Bagaimana aku meninggalkannya...?
kalau terjadi sesuatu padanya gimana..? "
Dengan cepat ia memutar balik mobilnya.
.
" Ayo nona, biar kami antar.... "
Tatapan itu begitu menakutkan untuk Lily.
" Jangan mendekat...! atau kalian akan menyesal....!!! "
Lily berlari sekuat mungkin, namun dengan cepat tangan salah satu dari mereka memegang erat dan menariknya hingga tersungkur di aspal.
Jalan yang sepi dan tenggang membuat niat buruk 2 laki-laki itu muncul.
" Awh... "
Siku dan dagu dagunya lecet, terlihat sedikit darah menghiasi luka itu.
" Kan kami sudah bilang, ayo kami antar nona..... "
__ADS_1
" Jangan mendekat...!! "
" Jangan begitu, ayo kami akan mengantarkanmu pulang... "
" Iya nona, tenang saja... kami akan mengantarmu... "
Tanpa sengaja Lily melihat senjata tajam yang dibawa salah satu dari mereka, sepertinya ke-dua laki-laki itu begal.
Tubuhnya bergetar hebat memikirkan bagaimana kalau mereka menyakitinya.
" Cepat seret dia...! "
Ucap laki-laki tinggi itu pada temannya yang sedikit gendut.
" Sepertinya aman... "
Jawabnya.
" Tidak....!!!!!! "
" Ayo...! "
Mereka memegang kedua tangan Lily dan langsung membawanya menuju pepohonan dan menjauh dari jalan.
" Lepaskan....!!! "
" Nanti kami lepaskan.. bukan begitu..? "
" Hahahaha.. tentu saja... "
Lily menggigit salah satu tangan mereka, sementara itu ia juga langsung menendang temannya yang masih menggenggamnya.
" Hey... kurang ajar...!!! "
Ia berlari sekuat mungkin, namun tiba-tiba tangan itu kembali menggenggam dan menyeretnya.
" Lepaskan aku...!! "
Lily mulai menangis.
" Diam...!!! "
" Ka.... Vendra.... hiks... lepaskan..!! "
" Diam...!!! "
Teriak laki-laki berpostur tinggi.
" Jangan.. jangan lakukan apapun padaku... "
" Beri dia pelajaran sedikit biar tidak melawan..... "
Ucap laki-laki gendut pada temannya.
Dengan kasar dan memegang pergelangan tangan Lily, tangannya menampar pipi mulus itu hingga membiru dan berdarah.
" Ini hukuman karena kau sudah berani sama kita hahahaha.... "
" Cepat...! keburu ada orang.... "
Dress indah yang membalut tubuh Lily langsing di tarik dan robek hingga memperlihatkan buah dadanya dan dalaman putih yang di kenakan Lily.
" Jangan... hiks.. hiks... "
Ia mundur dan berusaha menutupi bagian dadanya yang sidah sedikit terexpose.
__ADS_1
" Sudah cepat...!!!! "