
" Kau mau mengatakan sesuatu...? "
Liriknya menatap Lily sambil terus fokus menyetir.
" Aku bingung.... "
Jawabnya.
" Why.....? "
" Why...? ntahlah... aku hannya bingung, ini terlalu rumit.. bahkan terlalu susah... "
Sejujurnya Lily bingung harus berkata apa, ia masih bingung dengan hubungannya kali ini bersama Vendra.
Dibenaknya hannya ada satu yang ia fikirkan, MUSTAHIL.
Cukup mustahil bukan jika ia menjadi wanita yang disayang dan dicintai laki-laki bernama Vendra, mungkin dunia juga akan menertawakannya.
" Aku mencintaimu...... "
Lily langsung menoleh menatap tajam Vendra.
" Ayolah ka, sungguh ini terlalu singkat jika kau harus mengatakan itu.... "
" Kenapa...? aku menyukaimu... dan itu tidak harus memakan waktu yang lama.... "
" Kau menyukaiku...? "
" Ya sayang... aku menyukaimu... aku mencintaimu.... sungguh Lily.... "
" Apa kau punya niat tertentu...? "
Sambil menatap tajam Vendra seolah mencari jawaban yang sampai kapanpun tidak akan ia dapatkan.
" Apa kau gila....! "
" Aku hannya bertanya..... "
" Kau terlalu berfikir buruk tentang diriku Lily..... apa aku memang sudah kau anggap buruk...? "
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Lily, kini mereka juga sama-sama diam.
" Apa dia benar menyukaiku....
bagaimana kalau itu hannya sesaat setelah kejadian keji waktu itu...? bagaimana kalau dia membuang diriku seperti sampah nanti. Sungguh Tuhan, aku takut.... "
Ia memejamkan matanya beberapa detik dan menatap keluar jendela.
" Kau membuatku sulit berfikir..... "
Tangan kekar Vendra menggenggam telapak tangan Lily.
" Harus bagaimana lagi agar kau yakin....? "
Ucapnya kembali.
" Kau tahu... aku bukan wanita yang baik... "
" Apa yang kau katakan Lily.. kau wanita yang baik.. sempurna... "
" Itu hannya menurut pandangamu saja... bagaimana pandangan orang lain nanti... "
" Kau masih memikirkan orang lain...? aku saja tidak memperdulikan itu semua.... "
" Please... aku mohon kita jalani saja semuanya.... "
Vendra menepikan mobilnya, kedua pasang mata itu langsung saling memandang satu sama lain.
" Apa aku tidak bisa merasakan balasan cinta pada orang yang aku suka...? "
" Bukan begitu... maaf... "
Lily menunduk.
" Maka jangan kau bertanya hal tidak berbobot seperti ini lagi.... "
" Aku hannya memantaskan dimana seharusnya diriku, dan siapa yang sepadan berdampingan denganku.... kau tahu betul apa yang aku maksud... "
Vendra langsung memeluknya, membelai lembut pucuk kepalanya.
__ADS_1
" Lupakan obrolan hari ini, sudah aku bilang... carilah topik yang bermutu.... "
Lily tersenyum sekilas.
" Kita tidak sedang berdebat di kementrian atau semacamnya... untuk apa aku cari topik yang bermutu.... "
Jawabnya setengah kesal.
" Kau selalu membantahku... "
Tidak ada percakapan lagi, mereka masih saling memeluk berusaha memberikan kedamaian untuk masing-masing.
Vendra bukan laki-laki yang bodoh ataupun tidak Peka, akan tetapi ia hannya tidak mu Lily membahas ini semua dan menganggapnya terlalu tinggi derajatnya dibanding dirinya.
" Aku hannya takut, mungkin aku sekarang sudah mulai sayang padaku. Tapi aku juga takut badai yang akan aku hadapi nanti, aku seperti belum siap.
Tuhan, kau memberiku sebuah pilihan yang sangat sulit. Apalagi takdir ini terasa berat bagiku, bagaimana aku bisa mencintai orang sekaya dia, setampan dia.... "
ššš
" Apa kau sudah selesai dengan fikiranmu...? apa kau mengutukku...? "
Tanya Vendra asal.
" Hah...? kau peramal...? "
" Aku tahu semuanya apa ya g kau fikirkan, apalagi aku juga tahu semua.... "
Jari telunjuk Vendra bergerak sedikit nakal dengan senyum nakal menyentuh pipi hingga leher Lily.
" Hentikan...! "
" Apa.. ? kenapa hentikan...? "
" Hentikan fikiran kotor mu itu...! "
" Aku hannya mau bilang kalau aku tahu semuanya tentangmu sayang, bajumu... semua aku yang membelinya untukmu, tentu saja aku tahu semua yang menempel pada tubuhmu.. "
" Ayo pulang.. aku mengantuk.... "
__ADS_1
Pura-pura menguap.
" Aku tahu kau grogi, kau pura-pura... hahahaha...... "