
Terlihat Vendra marah tanpa berkata apapun dan langsung melajukan mobil meninggalkan Septian yang masih membawa tas Lily.
" Ka... aku minta maaf... "
Vendra masih diam.
" Aku tadi sudah menelfonmu.. tapi tidak bisa
.... aku juga sudah mengirim pesan padamu tadi.... "
Lily berusaha menjelaskan semuanya sama Vendra, namun sepertinya kekasihnya tuli mendadak.
Tangan Vendra masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Lily di mobil.
Terlihat takut di raut muka Lily, ia hannya takut nanti kalau terjadi sesuatu karena Vendra hannya menyetir satu tangan.
" Ka... "
" Diam...!!!! "
" Ka.. tapi tanganku sakit.... "
Lily berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Vendra.
" Sudah aku bilang kan... langsung pulang...! jangan kelayapan....!!!!! "
Lily terlihat ketakutan mendengar suara menggelegar Vendra.
" Aku minta maaf ka.... "
Lily menangis.
Hampir 10 menit akhirnya sampai juga di apartment.
Vendra masih mencengkeram pergelangan tangan Lily hingga masuk ke dalam apartment.
" Ka... sakit... "
Lily menangis tanpa dipedulikan Vendra.
Ia justru dengan kasar melempar Lily hingga tersungkur di lantai.
" Baru juga dua hari kau sudah membantah perkataan dan melanggar apa yang aku katakan....!!! aku suruh pulang... itu pulang...!! kau malah enak-enakan main sampai lupa waktu....! "
" Ka.. tapi aku tadi sudah mengirim mu pesan
.... "
" Terus kau lupa waktu gitu...!!!! hah....!!!! "
" Ka bukan begitu maksudnya... aku tadi memang benar-benar lupa...
aku minta maaf.... "
Vendra mendekati Lily dan meraba bajunya yang terkena noda dari tumpahan minuman Alex tadi di restoran.
Vendra sejujurnya tersulut emosi melihat Alex tanpa sengaja tadi memegang pundak Lily dan memakaikan jaket pada kekasihnya.
Bukan masalah lupa waktu ataupun apa, ia memang sudah tersulut emosi karena cemburunya.
" Noda ini.... lepaskan bajunya....!!!! "
Lily hannya menangis, ia ingin melepas kemejanya namun tangan Vendra dengan kasar menarik paksa hingga membuat semua kancing tercecer di lantai dan membuang bajunya di tempat sampah.
" Ka.. kamu kenapa... aku minta maaf.. tapi tolong jangan seperti ini.... hiks... "
" Terus seperti apa hah...!!!! "
" Aku sudah minta maaf ka.. dan soal noda itu.. aku minta maaf.. temanku tidak sengaja tadi menumpahkan minuman di bajuku... aku minta maaf... hiks... hiks... "
Vendra mencengkeram lengan Lily dan menatap tajam kekasihnya.
" Bukankah aku pernah bilang.. jangan ada laki-laki manapun yang menyentuhmu... siapapun.....!!! "
Lily hannya diam dan menahan sakit oleh cengkeraman Vendra.
" Pergi dan mandilah....!!!!! "
Ia mendorong Lily dan langsung membalikkan badannya tanpa melihat lengan Lily yang terluka dan berdarah karena tergores pengait jam tangan milik Vendra.
Lily langsung pergi ke kamar mandi tanpa menjawab sepatah katapun lagi.
" Hiks...hiks....
Kenapa dia kasar padaku..... aku sudah minta maaf.... aku tahu aku salah... "
__ADS_1
........
Terdengar bunyi bel.
" Tuan.. ini tas non Lily... "
Dengan tanpa basa basi Vendra mengambil dari tangan Septian dan langsung menutup pintunya.
" Ya Tuhan...
alangkah baiknya tadi aku tidak mengantarnya kemari.... "
Kesal dan langsung pergi meninggalkan apartment boss nya.
Hampir setengah Jam berlalu, Lily keluar dari kamar mandi dan langsung ganti baju.
Tidak terlihat Vendra di manapun.
" Sepertinya dia pergi keluar.... "
Lily masih tidak memikirkan luka goresan di lengannya.
Ia melihat tasnya di atas ranjang dan mengambil ponselnya.
Ada banyak pesan dari Mellanie menanyakan keadaan Lily.
❤❤❤❤❤❤
" Lebih baik aku masak untuk makan malam.... "
Lily beranjak ke dapur untuk masak dan menyiapkan makan malam nanti.
Ntah kenapa ia tidak merasakan sakit hati berkepanjangan soal sikap Vendra siang ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, ia bergegas mandi dan menunggu Vendra pulang.
Pukul 7 malam...
" Kenapa dia belum pulang.....?
apa segitu marahnya padaku...?
Lily melihat ponselnya, tidak ada pesan masuk satupun dari Vendra.
" Kak... kamu dimana...? "
Lily berusaha menghubungi nomor Vendra namun tidak ada jawaban.
Jam berlalu begitu cepat hingga menunjukkan pukul 10 malam, namun Vendra masih belum juga pulang.
" Aku akan menelponnya sekali lagi... "
....
" Ada apa.... "
Lily mendengar bising dari balik ponsel.
" Kamu dimana...? aku sudah masak untuk makan malam.... kakak tidak pulang...? "
" Aku sibuk....! "
.....
" Apa dia di club'.... ? "
Vendra mematikan ponselnya.
Lily terlihat cemas, bagaimana kalau nanti Vendra banyak minum dan mabuk.
" Oh... iya.. dia pernah bilang kalau hannya clubs ******* dia akan menghabiskan waktunya disana.
Apa aku susul saja ya kesana...?
tapi ini sudah malam... aku naik apa kesana......? "
Lily mondar mandir memikirkan Vendra cemas.
" Ah ya... aku telfon supir saja... pasti dia langsung datang.... nanti biar dia yang mengantarku... "
Lily menelfon supir pribadinya dan menunggu di bawah untuk segera menyusul Vendra.
__ADS_1
" Bener ini tempatnya pak...? "
" Iya non.. biasanya tuan kesini.. sering sih... "
Sahut supir.
" Terima kasih... tunggu sebentar ya pak... nanti aku kembali...."
" Siap non... "
Sebenarnya Lily risih kalau harus masuk mengingat masa lalunya dulu.
Dengan keberanian ia masuk dan mencari keberadaan Vendra di dalam sana, rasa khawatir yang tinggi justru mengalahkan ketakutannya.
" Dimana dia.... "
Berjalan sambil menengok kesana kemari.
" Apa tidak ada ya....? "
Masih mencari dan melihat ke segala Sisi.
.
.
.
" Sudahlah.. aku sedang tidak ingin.. pergilah......."
" Tidak biasanya kau seperti ini sayang... "
" Aku sedang malas...! "
****** itu masih menggelayut manja dan duduk di pangkuan Vendra.
Lily masih berjalan dan mencari sosok Vendra.
.
.
.
Tiba-tiba kedua matanya tertuju pada laki-laki yang di depannya sedang asyik bersama wanita sexy yang duduk di pangkuannya.
Momen yang pas dan juga tidak tepat.
Wanita itu mencium rakus bibir Vendra sambil menggerayangi tubuh Vendra dan melepaskan kancing yang masih menyatu.
Vendra yang belum tahu keberadaan Lily di depan matanya sejenak menikmati ciuman itu sambil meremas b*kong ****** montok yang menjijikkan bagi Lily.
Tanpa sadar kedua matanya berkaca-kaca, air mata menetes begitu saja melihat pemandangan yang sangat menusuk hatinya bahkan terasa nyeri.
Saat Vendra melepaskan pelukannya ia terkejut bukan main melihat Lily berdiri tepat di depannya.
Ia bisa melihat jelas kedua mata kekasihnya yang berair dan merah.
" Ka.... kenapa.... kenapa ini sakit untuk ku... "
Sambil memegang dadanya.
Deg...
deg....
" Sakit ka.... "
Perlahan ia berjalan mundur dan ingin berlari sekuat mungkin, namun kakinya terasa lemas dan linu.
.
.
.
" Lily....! "
Vendra terkejut tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia langsung berdiri dan berusaha mengejar Lily yang sudah keluar clubs.
Mungkin bisa dikatakan impas, tapi bagi Lily ini lebih menyakitkan karena ia tidak melakukan perbuatan yang menurutnya menjijikkan.
❤❤❤❤
__ADS_1