BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
USAHA


__ADS_3

Mendapat saran dari Septian, akhirnya Vendra memutuskan untuk tidak menemui Lily. Walaupun begitu hati dan pikirannya tetap tidak bisa tenang dan masih kepikiran keadaan kekasihnya, bagaimana tidurnya, makan malamnya.


" Kamu awasi saja rumah itu, kalau ada yang mencurigakan segera hubungi aku secepatnya, dan jangan sampai dia curiga karena kehadiranmu dan yang lainnya "


" Siap Boss... "


Vendra menyuruh beberapa anak buah untuk mengawasi Lily dari kejauhan.


Rasa takutnya yang tinggi mungkin juga karena dia juga takut kalau ayahnya sampai mendengar kabar ini dan memberikan perhitungan dengan Lily.


" Apa aku datang saja ke tempat itu...? tapi nanti kalau Lily tahu dan dia kabur lagi bagaimana..? benar-benar membuatku pusing "


Di tempat kost Lily justru sudah tertidur lelap bertolak belakang dengan kekasihnya yang masih kalang kabut tidak karuan.


Malam ini dia hanya makan pop mie di temani dengan satu botol air mineral.


šŸ’•šŸ’•


" Ven... besok aku ke kantor kamu ya, kamu di kantor kan..? "


Pesan singkat dari Jessie.


Vendra sama sekali tidak menggubris bahkan tidak membalas pesan yang sudah di kirim oleh Jessie padanya.


Malam ini terasa sulit untuknya tidur, kepalanya sedikit pening memikirkan soal Lily yang benar-benar berani kabur darinya.


" Harusnya aku tidak sekasar itu padanya tadi, tangannya pasti terluka dan sakit.


Apa dia sudah ke dokter...? "


Vendra kembali duduk dan memegang kepalanya.


" Dia benar-benar membuatku pusing "


Berjalan keluar kamar.


šŸ’•šŸ’•


" Tuan, mau kemana... ? "


Tanya pak Jamal.


" Menemui nona muda... "


" Tuan sudah tahu keberadaan non Lily..? syukurlah tuan.. "


" Iya, ambilkan mobil dan siapkan saja "


" Baik tuan, apa perlu saya yang menyetir..? "


" Tidak perlu... "


Dengan buru-buru Vendra malam ini berencana untuk ke tempat Lily dan menemuinya.


Ia tahu betul, tidak akan tenang jika belum bisa melihat pujaan hatinya walaupun hanya sebentar.


Malam ini dia melupakan saran dari Septian juga.


Harusnya sabar, namun bukan Vendra namanya kalau belum melakukan segalanya sesuka hati.


" Aku benar-benar tidak tenang, ada apa denganku...? bahkan dia baru saja kabur belum ada satu hari.


Lihat saja, apa yang akan aku lakukan nanti... "


Dengan kecepatan penuh tak butuh waktu lama, hannya 15 menit akhirnya mobil Vendra sampai di tempat Lily.


Melihat mobil tuan mereka terparkir, anak buah yang berjumlah 5 orang langsung menemui Vendra dengan buru-buru.


" Tuan.. anda kemari...? "


" Ya, bagaimana..? "

__ADS_1


" Semua aman... untuk apa anda kemari di jam segini..? "


" Tentu saja menemui istriku... kamu pikir aku laki-laki macam apa membiarkan wanitaku tidur di kost-kostan seperti ini, pergilah...! "


Mereka langsung pergi meninggalkan Vendra.


Terlihat diam, namun terus memperhatikan bangunan yang sederhana di depannya.


Kalaupun ia ingin meminta kunci pasti itu hal yang sangat mudah baginya, namun kali ini dia memilih untuk tidak gegabah takutnya Lily akan tambah marah padanya.


šŸ’•šŸ’•


Terlihat mentari sudah menyapa seluruh penduduk bumi.


Udara dingin dan berembun menambah suasana pagi ini untuk bermalas-malasan di kamar.


Lily terbangun dan melihat ponselnya.


" Dia tidak mencari diriku ....? bahkan tidak ada pesan masuk semalaman darinya... "


Meletakkan kembali dan berbaring untuk melanjutkan tidurnya karena memang masih jam 5 pagi.


Vendra yang semalaman terjaga tidak tidur sedikitpun, ia hannya mengamati semuanya dari dalam mobil.


" Belikan aku 2 sarapan lengkap dengan minuman hangat ... "


Ucapnya di telfon.


" Aku harap dia sudah tidak marah lagi padaku, tentu saja aku tidak tenang.


Apa dia tidak memikirkan perasaanku saat ini..? aku benar-benar cemas, tapi dia malah cuek seperti ini "


Tak lama kemudian anak buahnya datang sambil membawa makanan dan minuman yang sudah ia pesan dari tadi.


" Kalian pulanglah... "


" Baik tuan... "


Dengan melihat ke arah jam tangannya yang memang baru pukul 6 pagi gak mengurungkan niatnya untuk menemui Lily sambil membawa bungkusan untuk sarapan pagi nanti.


" Siapa....? "


Ucap Lily dari dalam.


Vendra hannya diam dan menunggu kekasihnya untuk membuka pintunya.


Sebelumnya dia bertemu dengan ibu kost sempat berbincang-bincang.


Dia juga mengatakan kalau istrinya marah dan kabur dari rumah.


" Suaminya ganteng begitu tapi kok masih kabur dari rumah "


Ucap Ibu kost pemilik kontrakan yang melihat Vendra dari jauh sambil memegang sapu.


Lily membuka pintu dan langsung terkejut.


" Kau...? "


" Selamat pagi cintaku... "


Buru-buru langsung menutup pintu, namun sepertinya usahanya sia-sia.


" Kamu mau apa kemari..? mau menyiksaku lagi...? aku tidak mau pulang...! pergilah "


" Lily sayang hentikan... di luar ada pemilik kontrakan sama beberapa tetangga kamu, kamu tidak mau apa bersikap seperti ini... "


Ucap Vendra.


Kini Lily membiarkan Vendra masuk.


Laki-laki itu langsung menaruh bingkisan nya di meja dan memeluk kekasihnya.

__ADS_1


" Maaf.... "


" Kenapa kamu se marah ini padaku..? "


" Aku minta maaf baby... sungguh, maafkan aku.. "


Lily diam tanpa membalas pelukan Vendra.


" Aku mau mandi... "


" Kamu mau kemana..? kuliah..? sepagi ini? "


Goda Vendra.


" Aku tidak boleh mandi emangnya...? "


" Tentu saja boleh, duduklah.. sarapan, aku sudah membawakan makanan "


" Aku tidak lapar... "


" Duduk... makanlah "


Lily masih diam dan acuh tanpa memandang Vendra.


" Kamu ada kuliah pagi ini.. ?


" Iya.... "


" Duduk, sarapan terus kamu bisa mandi nanti biar aku antar "


Lily hannya diam dan duduk bersama Vendra untuk sarapan karena memang sudah keroncongan perutnya.


" Kamu tarik uang tunai...? "


Ucap Vendra.


" Ya... nanti aku ganti nggak usah khawatir "


" Ya ampun sayang, aku nggak nyuruh kamu ganti.. aku cuma tanya "


" Nanti aku ganti... "


" Terserah kau saja "


Vendra tahu kalau Lily tidak akan pernah bisa menggantinya, mau ganti pakai apa kalau di saja tidak punya celengan.


Mau bekerja juga dia tidak akan membiarkan kekasihnya bekerja.


" Mandilah, biar aku antar... kamu bawa baju ganti...? "


Lily diam dan langsung meninggalkan Vendra ke kamar mandi.


Sementara itu dia keluar dan mengambil bingkisan yang berisi baju baru yang sudah ia persiapkan untuk Lily semalam lengkap dengan lipstik dan juga sepatu.


Terlihat dengan santai menunggu sambil melihat kondisi tempat yang di sewa kekasihnya.


" Gimana nak... sudah tidak marah istrinya..? "


Suara ibu pemilik kontrakan tiba-tiba membuat Vendra terkejut.


" Oh, ibu... "


" Iya.. gimana...? udah baikan.. "


" Sudah kok, Ngomong-ngomong uang kontrakan sudah dibayar apa belum? "


" Oh, sudah nak.. langsung di bayar nak Lily lunas... "


" Oh, baiklah... "


Vendra terlihat canggung dan tidak nyaman, bagaimanapun kali ini dia sedang berbohong soal statusnya dan Lily.

__ADS_1


" Kalo gitu ibu permisi nak... "


" Oh iya bu, monggo... "


__ADS_2