
Vendra sudah meninggalkan apartemen dengan mobil pribadinya, sementara Lily duduk dari balkon melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
" Apa ini...? "
Rasanya sungguh munafik jika baru sekarang ia bertanya tentang semua yang sudah terjadi di antara dirinya dan Vendra.
" Apa aku..... "
Ia tidak meneruskan kalimatnya, sejenak ia berfikir kenapa dirinya tidak melakukan penolakan apapun saat Vendra melakukan semua kepadanya.
Justru akhir-akhir ini tubuhnya seakan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Vendra untuknya.
" Kenapa dia harus melakukan ini padaku...? mungkinkah aku dianggap wanita murah sekaligus pemuas nya saja...? "
Ia memegang perut bagian bawah yang terasa sedikit nyeri karena datang bulan, sebenarnya ia juga berbohong pada Vendra kalau keadaannya baik-baik saja.
Lily takut kalau dia bilang yang sebenarnya soal nyeri dan sedikit pusing yang di alaminya nanti akan membuat perjalanan Vendra batal hannya karena dirinya.
" Lebih baik aku oles pakai minyak.... "
Dia berjalan masuk menuju kotak P3K untuk mencari minyak yang ia perlukan.
Sesekali ia terlihat meringis menahan nyeri yang dirasakan saat ini.
Perlahan ia ke dapur untuk membuat teh hangat.
.
.
.
.
Sementara di mobil Vendra memantau gerak-gerik Lily dari layar ponselnya, terdapat CCTV di setiap sudut apartemen miliknya.
" Kenapa aku seperti berat hati meninggalkannya sendirian di apartemen...? apa sebaiknya aku suruh dia pulang kerumah..? tapi kalau dirumah dia tidak bisa diam bukan.....? "
Vendra kadang merasa kesal melihat Lily mengerjakan pekerjaan dirumahnya karena sejujurnya dia bukan pembantu ataupun asisten rumah tangga di sana.
Ponselnya berdering.
__ADS_1
Kling...
kling.....
" Ada apa....? "
Tanyanya pada Rayen.
" Kau sudah berangkat...? "
" Iya, perjalanan... kenapa...? "
" Tidak, hannya bertanya... hati-hati "
" Cih... sejak kapan kau perhatian..? "
" Kau ini memang tidak tahu sopan santun, apa kau berangkat sendiri...? "
Selidik Rayen.
" Tentu saja, kau berharap aku berangkat dengan siapa..? Lily....? "
Ya, setiap ada acara apapun dengan teman-temannya atau teman-teman kakaknya ia selalu mengajak wanita jalang nya untuk menemani dirinya sampai acara selesai.
Bahkan hannya untuk sekedar memuaskan nafsunya sesekali.
" Aku berangkat sendiri.... "
Ucapnya langsung mematikan ponselnya.
š
š
š
š
š
Satu jam berlalu, mobil sport hitam terparkir di halaman villa.
__ADS_1
Vendra akhirnya keluar sambil menggandeng wanita yang sudah ia jemput dari tempat langganan seperti biasanya.
Sebelumnya ia berubah fikiran untuk datang sendiri, namun dia juga tahu kalau acara kakaknya pasti mereka semua membawa teman kencannya untuk bersenang-senang seperti tahun-tahun kemarin.
" Ven... ... pembohong...! "
Rayen menatap Vendra sambil tersenyum.
" Aku paham bagaimana pertemuan kali ini, ... pasti kakak juga membawa jalang kesini...? "
Tidak dipungkiri memang apa yang di katakan Vendra benar adanya, akan tetapi Rayen hannya menyuruh jalang nya untuk menemani minum saja.
" Masuklah..... "
Rayen merangkul pundak adiknya, di sana sangat ramai.
Ada kurang lebih 12 orang dan masing-masing membawa jalang nya ataupun pacarnya.
" Hey Ven... "
Sapa salah satu teman Rayen.
" Hm... "
" Selamat datang di party kita kali ini... "
" Em... lumayan menurutku... apa kau menyediakan stock minuman banyak hari ini......? "
Tanya Vendra.
" Kau bertanya hal konyol Ven.. tentu saja soal itu... "
Sahut Rayen.
" Mari kita pesta.. .... "
Kini Vendra sudah bergabung dengan 12 orang lainnya, tak lupa dengan jalang yang menemani mereka semua.
Suasana berlangsung sangat meriah, bau alcohol sudah menyengat dan menyebar di dalam ruangan.
Tak luput juga beberapa di antara mereka sudah ada yang mabuk dan mencari tempat nyaman untuk segera bermain dengan jalan mereka masing-masing.
__ADS_1