BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
KEHUJANAN


__ADS_3

Langit perlahan gelap, bahkan rintik hujan sudah mulai membasahi kota. Lily yang sudah lelah menunggu supirnya datang berusaha mencari tempat duduk sekalian berteduh dari hujan yang turun.


" Ya ampun... hujan, mana belum sampai juga supirnya. Apa jangan-jangan dia nggak tahu alamat kampus ya...? aku mau telfon kak Vendra tapi takut ganggu, soalnya kan sibuk banget akhir-akhir ini... "


Rintik hujan semakin deras, baju Lily juga sudah sebagian basah terkena air. Belum juga angin yang lumayan kencang membuat tubuhnya menggigil sesekali karena kedinginan.


" Dingin sekali.... "


Mengusap kedua telapak tangannya.


Ia langsung mengambil ponsel dan memutuskan untuk menelfon Vendra.


" Aku benar-benar kedinginan, biar aku telfon kak Vendra saja. Kalau dia masih marah biarkan saja... "


Ia dengan gemetar mengambil ponselnya dari dalam tas.


" Ya ampun... baterai habis di waktu yang tidak tepat.... "


Terlihat kesal sambil langsung memasukkan ponsel ke dalam tas.


Vendra yang berada di dalam taksi merasa cemas, ia menelfon Lily berkali-kali namun tidak bisa tersambung.


" Pak bisa lebih cepat sedikit, soalnya saya buru-buru... "


Ucapnya.


" Baik tuan... saya harus berhati-hati juga, soalnya hujannya lebat sekali, anginnya juga kencang... "


Jawab supir.


Vendra makin cemas, ia benar-benar takut kalau sesuatu terjadi dengan Lily.


Bagaimanapun dirinya yang bersalah dalam hal ini, harusnya dia juga tidak ceroboh sampai-sampai lupa mengirim pesan pada supir rumah.


" Bagaimana kalau dia kehujanan.... argh.... sudah pasti kehujanan, harusnya dia meneleponku tadi...! "


Perjalanan terasa sangat lama karena hujan dan rasa cemasnya yang sudah menguasai pikiran Vendra kali ini.


Kini taksi sudah berhenti di depan kampus Lily, Vendra dengan cepat langsung keluar dan menyuruh supir taksi untuk menunggunya.


Tanpa membawa payung Vendra berlari menuju kampus. Dengan cemas ia melihat sekeliling sudah sangat sepi, hannya ada satpam yang masih bertugas.


Vendra juga mengecek kantin namun tidak ada satupun mahasiswa atau mahasiswi yang nongkrong disana.


" Kemana dia.... "


Berlari kalang kabut mencari keberadaan Lily.


Ia langsung kembali keluar dan menyusuri halaman kampus yang biasa ia menjemput kekasihnya.


"Tidak ada juga.... "


Terlihat Frustasi.


" Dimana kamu Lily.....!! "


Masih berlari mencari keberadaan kekasihnya.


" Kak Vendra..... "


Suara yang tidak asing memanggilnya.


" SIAL....!!!! I'm sorry baby.... "


Ia mengumpat melihat kondisi Lily yang basah kuyup, ditambah melihat rambutnya yang benar-benar lepek.


" kamu baik-baik saja... "


Langsung memeluk tubuh mungil dan basah Lily.


" Em... aku baik-baik saja, aku menunggu supir tapi tidak datang-datang.... "

__ADS_1


Ucapan Lily terdengar gemetar.


" It's ok... maaf... "


Mengeratkan pelukannya sambil terus mencium pucuk kepala Lily.


" Kamu kedinginan.... wajah kamu pucat sekali sayang.. ya ampun, maafkan aku... "


Meraba pipi Lily yang benar-benar dingin.


" Iya... nggak apa-apa kak... "


Tersenyum.


" Ayo kita pulang.... "


" Kamu tidak bawa payung...? lihatlah... basah kuyup jadinya, bagaimana nanti kalau sakit.... pasti dingin... "


Lily menggenggam telapak tangan kiri Vendra dan mengusap wajah kekasihnya yang basah kuyup dengan tangan kanannya yang gemetar.


" Hentikan... jangan khawatirkan aku, lihatlah dirimu.... ayo kita pulang sekarang... "


Vendra merangkul kekasihnya untuk segera menuju taksi di halaman depan kampus.


Saat hampir sampai di pintu gerbang, Lily sudah tidak kuat menahan tubuhnya yang sangat lemas.


Pegangan di Jas Vendra perlahan terlepas dan ia hampir terjatuh.


Vendra yang mengetahuinya langsung bergegas menggendong Lily dan buru-buru masuk taksi.


" Pak jalan.... ke alamat ******** , tolong cepat sedikit pak...! "


Perintah Vendra.


Kecemasan Vendra masih berlanjut, apalagi sekarang kondisi Lily pingsan dan kedinginan.


Vendra terus menggosok-gosokkan telapak tangannya dan Lily. Ia menempelkan tangannya di pipi Lily berusaha untuk memberikan kehangatan pada kekasihnya.


" Pak tolong lebih cepat... !! "


" Baik pak... baik... "


Butuh waktu 30 menit lebih untuk akhirnya sampai di rumah baru Vendra.


Vendra langsung turun dan bergegas menggendong Lily menuju kamar.


" Sayang, bangunlah.... bi, siapkan air hangat untuk mengompresnya... "


Kini Lily sudah berada di kamar, Vendra langsung mengambil baju Lily dan menggantinya tanpa ragu.


Tubuhnya yang dingin membuatnya ketakutan bukan main, dengan gemetar ia mencoba menghubungi dokter pribadi untuk mengecek kekasihnya.


Dokter Steve yang mendapat kabar dari Vendra langsung bergegas menuju alamat yang diberikan.


" Ini tuan.... "


Menyerahkan baskom berisi air hangat.


Vendra langsung mengompres kening Lily, kedua matanya menatap penuh sesal melihat keadaan kekasihnya saat ini.


Tubuh dingin, bibir pucat dan juga keadaannya yang pingsan sejak tadi.


" Sayang, bangunlah.... "


Tanpa ia sadari kedua matanya berair melihat kondisi Lily, tangannya terus menggenggam telapak tangannya yang dingin.


" Vendra.... "


Ucap Steve yang sudah masuk kedalam kamar.


" Steve.... cepatlah...!! periksa dia.... "

__ADS_1


" Kenapa...? apa kau melakukannya lagi...? "


" Jangan ngasal kalau bicara...!!! dia kehujanan.... "


Dokter Steve bergegas mengeluarkan alat dan segera melakukan pemeriksaan terhadap Lily.


" Bagaimana...? dia baik-baik saja kan..? "


" Tidak perlu cemas... dia baik-baik saja, demam karena kehujanan dan menahan dingin cukup lama. Nanti akan aku kasih obat, diminumkan setelah sadar.... "


Steve menatap Vendra yang langsung duduk di ranjang sambil membelai lembut pipi Lily.


" Kau masih bersamanya.... "


" Jangan kasih tahu siapapun kalau aku, em.. maksudnya Lily tinggal disini Steve... rahasiakan alamat rumahku yang ini... "


" Apa ada sesuatu yang mengancamnya... ? "


" Begitulah.... "


" Lain kali jangan hujan-hujanan.... "


Ucap Steve sambil membereskan alatnya.


" Aku lupa menjemputnya di kampus... "


" Kampus...? "


" Ya, aku memaksanya melanjutkan sekolah dan mendaftarkannya ke salah satu universitas terbaik di kota ini... "


" Berhati malaikat ternyata.... "


Steve tersenyum.


" Aku tidak berhati batu sekeras ayahku Steve..... "


" Ya.. aku tahu soal itu.... "


Vendra dan Steve mengobrol cukup banyak, menanyakan kabar dan bercerita soal Lily dan juga masalahnya.


Bukan karena tidak pernah bertemu, tapi memang jadwal pekerjaan yang padat jadi tidak memungkinkan bagi mereka untuk kumpul, terakhir Steve bertemu dengan Lily saat Vendra sakit di rumah utamanya dulu dan pada saat kejadian mengerikan yang dilakukan Vendra pada Lily.


" Sepertinya kau sudah menemukan hatimu.. "


" Sepertinya begitu, aku harap kau tahu apa tugasmu... "


Vendra berusaha membuat Steve diam dan menyembunyikan soal Lily dari siapapun.


" Lalu ayahmu...? "


" Aku akan menyelesaikan semua... kemungkinan aku akan pulang menemuinya.. "


" Kapan...? "


" Aku belum tahu Steve... aku harap kau mau menjaganya untukku... "


" Tentu saja... dia memang gadis yang baik, cocok denganmu... kau seperti sudah menemukan tuan mu... hahahaha.... "


" Hentikan ucapanmu... "


" Tapi itu benar.. bukan dia yang kau jinakkan... tapi dia yang men jinakkan mu... "


Ledeknya.


" Terima kasih, kau bisa pergi dari sini... "


" Lagi-lagi kau mengusirku...? ya, baiklah... aku akan pergi. Jangan lupa minum obatnya kalau dia sudah sadar... "


" Iya, aku tahu Steve... cepat pergilah... aku bosan melihatmu... "


Steve langsung pergi meninggalkan rumah Vendra dan kembali ke Rumah Sakit kembali.

__ADS_1


__ADS_2