
Sudah lebih dari 3 hari Vendra tidak mengirim pesan pada Lily walau hanya bertanya kabar ataupun menanyakan tentang kuliahnya.
Sudah 2 hari juga Rayen pergi dan tidak menengok keadaan Lily di rumah baru yang dibeli Vendra.
Pagi ini ia bangun dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan, hatinya merasa sakit.
Dipandangnya foto Vendra, tanpa sadar air matanya menetes membasahi layar ponselnya.
" Aku mengirimnya pesan selama 5 hari, banyak banget. Tapi kamu tidak satupun membacanya atau membalasnya kak, kamu sebenarnya kemana...? "
Hari-harinya terasa sangat hampa, walaupun kadang Vendra meninggalkannya ke kantor, tapi kali ini ia merasa Vendra benar-benar meninggalkannya sangat jauh.
Ingin sekali ia pergi dari rumah, namun penjagaan yang sangat ketat membuatnya terkurung, belum lagi kalau kuliah ia harus berhadapan dengan bodyguard yang menjaganya benar-benar 24 jam dan ekstra ketat.
Dengan langkah kosong ia turun ke lantai satu untuk sarapan pagi.
" Selamat pagi non.... "
" Pagi bi.... "
" Ini sarapannya sudah siap, silahkan non, jangan lupa susunya di habiskan... "
" Baiklah, makasih bi... "
Sudah 5 hari juga ia makan di meja makan sendirian, hanya suara perpaduan sendok dan piringnya yang menghiasi meja makan.
" Non Lily hari ini berangkat...? "
" Tidak bi, aku sedikit tidak enak badan... "
Ucap Lily.
" Apa perlu aku panggilkan dokter non...? "
" Tidak perlu bi, mungkin aku hanya kecapean ngerjain tugas dan begadang... "
" Jangan terlalu capek non, takutnya nanti sakit... "
Ucap pelayan itu menatap Lily prihatin.
" Siapa yang peduli bi... aku rasa tidak ada... "
__ADS_1
Lily langsung beranjak dan pergi ke kamarnya untuk menenangkan hati dan pikiran nya.
Hampir setiap harinya memang ia habiskan di kamar.
" Aku capek..... "
Ucapnya sambil menangis menatap langit-langit.
Ia menangis sesenggukan hingga membuat mata dan wajahnya memerah.
" Apa harus seperti ini caranya, harusnya kamu bisa mengasih kabar. Kalaupun kamu ingin pergi, pergilah dengan cara baik-baik kak, aku terima apapun keputusan yang sudah kamu buat.
Bukan kayak gini, kamu pikir tidak sakit rasanya...? sakit banget kak... sakit.... "
Dengan kesal ia menutup jendela dan tirai.
Tak ada cahaya ataupun celah yang membuat sinar matahari masuk ke dalam kamarnya.
Menangis dan berteriak sejadi-jadinya, itu yang ia lakukan beberapa hari ini.
Baginya semua terasa sepi, lebih baik ia kembali tinggal dengan Weni dari pada harus merasakan seperti ini.
" Apa yang dia lakukan hari ini...? "
" Dia tidak sakit bukan...? jangan sampai dia jatuh sakit, kalau perlu kamu bisa panggilkan dokter untuk mengecek kesehatannya tiap hari.... "
" Tapi maaf tuan, non Lily menolaknya... "
" Lakukan saja....!!! kalian semua yang disana aku suruh merawat dan menjaganya, lakukan apapun, cek terus ke kamarnya.... dan ya, jangan sampai dia keluar rumah.
Kalau butuh sesuatu urus saja semuanya secepat mungkin, jangan sampai istriku kesusahan dalam mendapatkan sesuatu apapun itu yang dia inginkan...! "
" Baik tuan.... kami akan menjaga non Lily dengan sebaik-baiknya.... "
Telpon itu lalu terputus begitu saja.
" Ven..... kamu dari mana... ? "
" Mah... mama butuh sesuatu...? "
Vendra memandang wajah ibunya yang terbaring lemah dengan selang infus.
__ADS_1
" Tidak..... "
" Aku.. "
" Kau mencemaskan Lily bukan...? pergilah nak, jika kau mencintainya... tak apa... jangan hiraukan keinginan papa kamu... "
Vendra terdiam.
Tak lama Rayen terlihat memasuki kamar dan ikut duduk di samping Vendra.
" Bukankah aku menyuruhmu tetap disana...? "
" Bagaimana aku bisa tenang melihat keadaan yang seperti ini... ? lagipula Lily pasti aman, kau melakukan penjagaan ketat bukan...? itu cukup Ven.... "
" Harusnya dia tidak setega ini sama mama.. "
" Apapun bisa dia lakukan "
Timpal Rayen.
" Maafkan mama..... mama tidak bisa melakukan apapun... "
" Mama tidak perlu minta maaf... jangan berkata seperti itu "
" Kau akan mengorbankan sesuatu yang besar dalam hidupmu... kau mengorbankan cintamu.... "
" Lupakan masalah ini, jangan banyak pikiran, aku ingin mama cepat sembuh... "
" Sebenarnya apa yang dilakukan papa sampai mama ngedrop seperti ini...? "
Rayen terlihat emosi.
Namun saat ibunya pingsan, Vendra juga tidak ada di rumah.
Mereka hanya mendapat kabar dari pelayan rumah dan langsung melakukan perawatan di rumah pribadi ibunya.
" Kenapa mama selalu diam setiap ada pertanyaan seperti ini... ? "
Ucap Vendra.
Suasana berubah menjadi hening, tak ada jawaban dari mulut ibunya ataupun pertanyaan lain yang di lontarkan Rayen maupun Vendra.
__ADS_1
Mereka berdua tahu betul keadaan ibunya sekarang, hanya diam dan patuh yang mungkin jalan terbaik saat ini.
Entah apa yang akan terjadi pada ibunya jika ia maupun Rayen mendesak ibunya untuk berbicara yang sejujurnya.