
Setelah menampar Vendra sejak itu Lily berusaha menjauh darinya, sesekali ia menghindar dan tidak pernah menyiapkan makan.
Rayen yang mengetahui semuanya merasa penasaran sebenarnya ada apa...? malam ini ia langsung menemui Lily selesai makan malam di kamar karena merasa ada yang tidak beres.
Jam 8 malam...
Vendra dan Rayen sama-sama berada di balkon.
" Ven.... "
" Ya... kenapa...? apa kamu butuh sesuatu..? "
"Kenapa kau begitu...? "
" Begitu apanya...? "
" Kenapa kau bersikap kekanak-kanakan...? "
" Apa yang kekanak-kanakan...? "
" Lily.... "
" Kenapa...? "
" Kenapa kamu bilang... kamu tahu... ucapanmu itu menyakiti perasaan dan hatinya Ven... dia perempuan... "
Ucap Rayen kesal.
" Aku minta maaf. ... "
" Apa kamu bilang...? maaf...? "
" Ya.. aku minta maaf.. aku tidak tahu... "
Elak Vendra.
" Kau tidak tahu atau kau curiga tanpa alasan..! kenapa kau curiga pada gadis itu...? "
" Aku hannya tidak ingin kau kurang ajar pada pelayanku... "
" Cih...!!!
kurang ajar..? pelayanmu...?
bahkan aku melihatnya kalau kau cemburu... "
Ucap Rayen santai sambil meledek.
" Untuk apa aku cemburu padamu... terlebih untuk wanita tidak berkelas sepertinya...! "
Vendra masih berusaha mengelak.
" Tidak berkelas...? benarkah...? "
" Ya... aku membelinya dari club malam, dan disini dia budak ku...! pelayan ku..! yang bernilai 3 M "
" Jangan sampai kau menyesali ucapanmu dan berbalik kau lah yang akan menjadi budak cintanya... "
" Omong kosong...! "
" Minta maaf padanya...! "
" Aku tidak mau... kenapa kau seperti kekasihnya, menyuruhku meminta maaf... "
__ADS_1
" Ven... minta maaf...! kau itu laki-laki.. gentleman sedikit lah.. jangan cuma diluar saja kau sok jagoan.. "
" Pergilah...! "
" Bayangkan jika dia menangis setiap ingat perkataan mu... apa perlu aku mengembalikan uang 3 M itu agar kau mau minta maaf...? "
" Itu tidak perlu... pergilah.. jangan menggangguku... kau membuatku pusing...! "
Rayen langsung pergi meninggalkan Vendra untuk pergi bersama teman-teman nya, ia tahu betul kalau saat ini adiknya sedang bergelut dengan fikirannya sendiri usai berbicara dengannya.
Ia juga tahu kalau adiknya akan selalu mempertimbangkan dan menuruti semua perkataan yang sudah dia lontarkan, maka dari itu Rayen terlihat santai, mungkin beberapa menit adiknya akan membereskan segalanya tanpa rasa malu.
" Apa benar perkataan ku terlalu menyakitkan..?
aku rasa tidak... kenapa aku harus minta maaf, aku hannya bertanya saja.
Aku juga cuma ingin memastikan bahwa tidak terjadi apapun pada pelayan ku dan siapapun di dirumah ku "
Ia menatap gelasnya begitu lama, gelas yang mulanya terisi dengan penuh oleh coklat hangat namun sudah kosong.
" Arghhhh... ini semua mengacaukan otakku...! "
Vendra langsung meletakkan gelasnya dan berjalan menuju ke kamar.
Saat sampai di depan pintu, ia seolah bingung antara mau masuk ke kamar tapi kakinya seakan berbelok menuju ke kamar Lily.
" Ayo lakukan boy... bersikaplah gentleman "
Tok
tok...
" Masuk.... "
Vendra langsung masuk ke dalam.
Lily menatap ke arah laki-laki yang ada di depannya.
" Ada yang bisa saya bantu tuan...? "
Ucapnya.
Vendra menatap Lily, ia melihat kedua matanya memerah dan juga sedikit sembab serta hidungnya yang kemerahan.
" Aku... "
" Kenapa...? kalau tidak ada yang penting anda bisa meninggalkan kamar saya "
Lily berbalik merapikan tempat tidur karena gugup.
Vendra berjalan mendekat ke arah Lily.
" Aku minta maaf... "
" Untuk apa... "
Masih sibuk membenarkan karung bantal.
" Perkataan ku kemarin... aku minta maaf, sungguh.. aku kira kakakku berbuat senonoh padamu... "
" Lupakan itu, perkataan mu sedikit ada benarnya tuan... "
__ADS_1
" Bukan Lily... maksud dari perkataan ku kemarin itu... "
" Mau sebaik apa diriku tetap dunia akan menganggap diriku buruk karena aku terlahir di tempat yang kotor, dengan pekerjaan ku yang kotor, aku tahu itu "
" Maafkan aku, aku sudah berkata-kata yang tidak sepantasnya padamu.... "
" Tak. apa... "
Vendra tiba-tiba melihat sesuatu yang menetes membasahi seprei dan kurung bantal yang di pegang Lily.
" Lily.... "
Lirih Vendra, kali ini ia sepertinya sudah kelewatan dan benar-benar merasa khawatir.
" Tuan.. keluarlah jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan... "
Vendra hannya terdiam, kali ini terdengar isakan tangis di telinganya yang betul-betul menyayat hati.
Baru kali ini ia berkata kasar kepada wanita dan membuat wanita itu menangis, bahkan sebelumnya ia bisa lebih pedas dalam mengucapkan sesuatu kepada wanita yang ia temui di club tanpa ada yang meneteskan air mata sedikitpun.
" Maafkan aku.. sungguh.. dari hatimu paling dalam... "
Vendra meraih telapak tangan Lily.
" Tidak apa-apa.... "
wanita yang ada di depannya justru menangis semakin menjadi, Vendra yang terkejut langsung memeluk Lily dan menenangkannya.
" Sungguh maafkan aku... "
" Kenapa kamu selalu mengulanginya..? kenapa menghinaku....? sungguh aku capek jika harus mengingat semua perkataan yang kau ucapkan padaku, hatiku terasa sangat sakit.... aku bukan wanita rendah ataupun wanita kotor... "
" Maaf... "
Lily menangis tersedu-sedu di pelukan Vendra hingga membuat kaos miliknya basah oleh air mata Lily.
" Kamu sudah makan...? "
Lily hannya menggeleng.
" Makanlah.. nanti sakit... "
" Aku tidak lapar.... "
" Makanlah... kamu ingin makan apa...? "
" Tidak perlu.... "
" Matamu merah... pipi kamu juga merah... jangan mengusapnya terlalu kasar... "
Vendra berusaha menyentuh pipi Lily dan mengusap air mata yang tersisa.
" Ikutlah denganku... "
" Kemana..? ini sudah jam 8 ... "
" Ikut saja... pakailah jaket... "
" Tapi kita mau kemana..? "
" Ikut saja Lily, sebagai permintaan maaf ku... aku tunggu di bawah... "
" Hm... "
__ADS_1
Lily langsung mengambil jaket, dan cuci muka terlebih dahulu.