BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
CEMAS


__ADS_3

Memang sudah 2 hari ini Vendra tidak ke kantor dan hannya sibuk mengantarkan kekasihnya ke kampus, menjemput dan menghabiskan waktu di rumah.


" Hay Lily, mau buat apa..? tidak kuliah...? "


Rayen melihatnya sibuk di dapur.


" Masak kak, buat sarapan pagi... katanya kak Vendra pengen nasi goreng buatanku... "


" Dia makan nasi goreng...? "


" Iya, tapi lebih tepatnya aku yang masak... "


" Kamu tahu, dia dulu anti sama nasi goreng. Kayaknya itu makanan yang berminyak ucapnya, tapi dulu si... "


Ucap Rayen.


" Benarkah....? "


" Ya, tapi sepertinya sudah pindah haluan semenjak kau yang memasaknya... jangan lupa buat yang banyak, aku juga mau... "


Goda Rayen.


" Hehehe.... siap kak, ngomong-ngomong kakak nggak ke kantor...? "


" Tidak, semua sudah terkendali dari rumah... "


" Oh, apa kakak lama nanti disini...? "


" Ntahlah.... kenapa... ? "


" Tidak, aku hannya bertanya... sering-sering pulang kak. Kayaknya kasihan deh sama kak Vendra nggak pernah ada yang jenguk ke indo.... "


" Dia sudah terbiasa... "


" Kakak tunggu aja di meja makan, nanti sebentar lagi aku selesai... "


" Oh, okay... aku akan mandi dulu... "


" Baiklah.... "


Rayen berlalu menuju kamarnya.


" Bi, siapkan semuanya di meja ya... jangan sampai ada yang berantakan, minuman hangat saja untuk pagi ini karena cuaca yang dingin nggak baik kalau minum minuman yang dingin... "


Ucapnya sambil melepas celemek.


" Baik non, siap... "


" Aku tinggal ke atas mandi sama bangunin tuan dulu... "


" Iya non, monggo.... "



Lily bergegas mandi dan memasuki kamar, ia menengok ke sana kemari tidak menemukan keberadaan kekasihnya yang terakhir kali ia masih melihatnya tidur pulas di ranjang.


" Kak.... kamu dimana....? "


Mencari ke segala tempat namun tidak menemukannya.


" Lebih baik aku mandi saja, mungkin dia sudah turun atau menemui kak Rayen... "

__ADS_1


šŸ’•


Setelah setengah jam berlalu akhirnya Lily selesai mandi.


Karena terburu-buru dan tidak memperhatikan jalannya, ia menabrak Vendra yang memang mencari Lily dan mengajaknya segera sarapan.


" Bugh.... "


" Aaaa..... "


" lain kali jangan begitu kalau jalan sayang, perhatikan langkah dan keadaan di depanmu... bagaimana kalau kau terjatuh di tangga hah..! "


" Kak.... aku, aku... "


" Tidak ada yang sakit...?


Lily hannya menggeleng.


Vendra langsung mengangkat kekasihnya dan mendudukkan nya di ranjang.



" Kak maaf... lengan kamu coba aku lihat, kebentur lantai takutnya terluka... "


" Tak perlu, aku tidak apa-apa.... "


Vendra memperhatikan kedua kaki putih Lily.


" Kak, aku tidak apa-apa.... "


Tersenyum.


" Maksudnya...? "


Lily terlihat bingung.


" Kalau aku kerja bagaimana...?! "


" Oh.... yasudah, ayo turun kak.. aku sudah masak nasi goreng... "


" Benarkah...? kamu memasaknya langsung pagi ini...? "


" Tentu saja... "


Mereka langsung turun ke ruang makan untuk segera sarapan, Rayen juga pastinya sudah menunggu kedatangan adik dan kekasih adiknya yang super pintar dalam menaklukkan hati sang adik.


šŸ’•


" Lama sekali.... kalian tak tahu kalau aku sudah menelan air liur dari tadi...? "


Lily hannya tersenyum mendengar ucapan Rayen.


" Kenapa lenganmu...? "


Melihat kebab di siku Vendra.


" Terbentur meja tadi malam.. kenapa..? "


Tanya Vendra.


" Tentu saja aku bertanya, aku kira terbentur apa atau.... "

__ADS_1


" Sudah... cepat makanlah, katanya tadi lapar.. "


" Iya, ayok sarapan.... "


Sebenarnya ada sedikit yang mengganggu pikiran Lily mengenai omongan Vendra tadi di kamar.


Walaupun ia tidak memikirkannya terlalu serius, tapi ia merasa ada sesuatu di balik kata-kata kekasihnya.


" Kamu tidak kuliah...? "


" Aku libur kak... kenapa...? "


" Oh, tidak apa-apa.. hannya bertanya... "


Rayen melihat raut wajah Vendra yang tidak bisa di bohongi bahwa adiknya sepertinya masih memikirkan soal masalah perjodohan yang diatur oleh ayahnya.


" Kak... kamu baik-baik saja kan..? "


Tanya Lily tiba-tiba hingga membuat Rayen terkejut.


" Emangnya dia terlihat sakit...? "


Tanya Rayen.


" Ntahlah.. aku merasa dia sakit, kamu sakit kak...? "


Vendra hannya diam tanpa menjawab.


" Heh... pacarmu bertanya...! "


Bentak Rayen.


" Kak... kamu beneran sakit...? "


Lily meletakkan sendoknya.


" Tidak... aku baik-baik aja, apa aku terlihat buruk sampai-sampai kamu mengira aku sakit hah..? "


" Ya sudah kalau baik-baik saja, aku hannya cemas... "


Ucap Lily, Rayen hannya diam tanpa berbicara apapun.


" Kamu nanti dirumah saja, aku ada urusan... "


" Kemana..? "


" Urusan pekerjaan seperti biasanya, ada kak Rayen disini, apa kau takut...? "


" Bukan begitu kak... aku cuma bertanya "


" Paling juga urusan pekerjaan seperti biasa Lily, kau tidak perlu cemas... dia pasti cepat pulang.... "


Goda Rayen.


" Oh, yasudah.... "


" Jangan keluar kemana-mana.... "


" Siap... "


Tersenyum menatap Vendra.

__ADS_1


__ADS_2