BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
MENGGIGIT


__ADS_3

Malam berganti, namun peristiwa kemarin belum bisa hilang di ingatan mereka.


Baik Vendra ataupun Lily yang masih saja memikirkan tentang apa yang dilakukan satu sama lain.


" Ya ampun... kenapa aku memikirkan kejadian malam itu terus, ada apa dengan ku...?


Tapi bagaimana dengannya, aku rasa dia tidak memikirkan sama sepertiku...?.


Tentu saja, dia sudah terlalu biasa dengan wanita sepertinya... "


Lily memilih duduk di bangku taman belakang saat selesai mengambil jemuran baju yang sudah kering di sore hari.


Terdengar hembusan nafas dari mulut Lily.


" Sekarang kehidupanku sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan dia... aku sudah sempat salah paham dengannya, sebenarnya dia memang baik.


Aku penasaran bagaimana kabar tante Weni, bagaimanapun dia juga sudah merawatku selama ini "


Lily masuk kedalam rumah untuk menaruh baju yang yang sudah ia ambil kemudian bergegas mandi karena hari sudah sore dan menunjukkan pukul 4 lebih.



" Bi..... "


" Iya tuan.... ada yang bisa saya kerjakan...? "


" Ambilkan aku minum... air dingin...! "


Ia memijat pelipis dan terlihat sangat buruk.


" Ini tuan... apa anda sedang tidak sehat...? apa perlu aku panggilkan dokter...? "


" Tidak usah.... "


Diteguklah air dingin itu sampai habis kemudian pergi meninggalkan meja makan.


" Kepalaku sedikit pusing, apa karena kejadian semalam ...?


Sungguh semua gara-gara lilY...! "


Vendra memilih untuk mandi dan istirahat di dalam kamar.


šŸƒšŸƒšŸƒšŸƒ


" Bi....... dimana tuan..? "


" Dia sedang tidak sehat non... "


" Dimana bi susi..? aku tidak melihatnya seharian..? "


" Bi Susi izin pulang kampung... "


" Pulang kampung...? "


" Iya.. katanya ada urusan keluarga.. "


" Tuan sedang tidak sehat kenapa...? tapi pagi dia baik-baik saja... "


" Iya non, tadi pulang pas sore raut wajahnya terlihat sedikit pucat, non Lily makanlah dulu... "


" Aku makan... tapi tuanmu belum makan, bagaimana aku akan makan duluan, aku bisa habis di omelin


.. "


" Tidak apa apa non, seperti biasa, tuan selalu makan di kamar kalau sedang tidak sehat... "


" Bi.. apa makanannya sudah di antar ke kamarnya..? "


" Belum., ini mau saya antar non.. kenapa..? "


" Bi.. biar aku saja ya, nanti habis ini aku makan.. "


" Tapi non, kalau tuan marah.. "


" Tidak... percayalah... "


" Baiklah.. "


Lily langsung mengambil satu piring makan malam dan air putih untuk di bawa ke kamar Vendra.


" Tuan.... "


" Masuk.. "


" Ini makan malamnya... "

__ADS_1


" Kau kenapa mengantarnya, ada pembantu dirumah ini... "


" Itu sama saja tuan, aku juga sama seperti pembantu... "


" Apa katamu...!!!! "


" Ah tidak... ini makan malamnya... "


" Kemari....! "


Lily langsung memajukan langkahnya dengan masih membawa piring.


" Duduk... "


" Tapi.. "


" Duduk....! "


" Apa dia selalu marah-marah seperti ini sama siapapun... sumpah aku benar-benar ingin meninju wajahnya.


Tapi tunggu sebentar, dia memang terlihat sedikit pucat... apa dia sakit karena semalam.....?"


" Tidak usah mengumpat ku...! "


" Apa...? "


" Suapi aku... "


" Tapi tuan... aku "


" Suapi aku, bukankah kau ingin aku makan..? "


Lily menghela nafasnya dan membuat Vendra menatap tajam ke arahnya.


" Kenapa kau bernafas kesal seperti itu..? kau tidak mau melakukannya...? "


" Bukan... aku hannya itu capek menaiki tangga.. "


" Ada lift... kau tidak melihatnya sebesar itu..? "


" Sudahlah tuan, aku tidak ingin berdebat, makanlah.. aku akan menyuapimu.. "


" Kau memerintah ku..? "


" Tidak tuan.


Sambil menyodorkan satu sendok nasi dan lauk.


Vendra membuka mulutnya sambil terus menatap lily yang dari tadi menunduk.


" Apa masih ada lagi tuan..? "


" Ambilkan aku minum... "


" Obat..? "


" Tidak usah.. apa kau fikir aku ini selemah dirimu "


" Baiklah... "


Lily mengambilkan satu gelas air putih, tanpa sengaja tangan Vendra menyentuh tangannya.


Lily merasa kalau sekarang dia sedang demam, bisa di ketahui dari sentuhan tangannya yang hangat.


" Kau demam... "


" Keluarlah.... "


" Apa perlu aku panggilkan dokter..? kau demam tuan... "


" Tidak usah... "


" Bagaimana kalau terjadi sesuatu... "


" Tidak usah Lily...... "


" Baiklah... maaf karena diriku kau jadi demam... "


" Hm.... "


" Maaf... "


" Pijat kepalaku... "


" Apa...? "

__ADS_1


" Pijat kepalaku.... kau tidak dengar...? "


" Aku akan menelfon dokter saja.. "


" Aku bilang pijat kepalaku Lily...!!! kau membuatku semakin pusing dengan berteriak.....! "


" Tapi aku tidak menyuruhmu berteriak.. "


" Kau...! !!!!!! "


" Tuan.. iya tuan... ia aku akan memijatnya.. "


" Good.... "


Lily mulai berjalan dan naik ke atas ranjang, ia berdiri di samping Vendra dan. langsung memijat kepalanya.


Namun saat sudah menuruti semua perintah, ia malah dikejutkan dengan tatapan Vendra.


" Duduk di depanku... "


" Tapi tuan... "


" Tapi .... tapi... tapi... apa tidak ada kata yang lain selain tapi...! "


" Baiklah... "


Lily langsung berpindah posisi dan sudah duduk di depannya dengan sedikit menjanjikan badannya agar tangannya bisa sampai di kepala Vendra.


Kedua mata Vendra tidak berkedip menatap Lily, apalagi baju yang dikenakan memperlihatkan belahan dadanya yang tidak terlalu montok tapi mempunyai magnet yang selalu mendorongnya untuk menatapnya.


Gleg.....


Ia menelan slavinanya pelan agar Lily tidak menyadarinya.


" Cukup....! "


Vendra justru mendorong Lily hingga hampir jatuh dari atas ranjangnya yang cukup tinggi.


" Aaaaaa..... "


Hap....


Vendra langsung setengah berdiri dan meraih pinggang ramping Lily yang langsung membuatnya tertarik dan memeluk tubuhnya.


Bugh.. ...


" Akh.... "


" Maaf... maafkan aku Lily... "


" Em... "


Sementara itu lily masih dalam pelukan kekar tubuhnya, Vendra yang tanpa sadar terus menatap bibir lily yang di poles lipstik tipis warna peach justru membuatnya menelan slavinanya berulang kali.


1


2


3


Cup....


Vendra mencium kembali bibir yang membuatnya candu dan bahkan membuatnya terangsang hannya dengan menatapnya saja.


" Ehmm.... ehmm... "


Lily masih meminta namun tenaganya tidak akan pernah bisa mengalahkan otot kekar laki-laki yang memeluknya.


Sementara itu Vendra semakin nafsu dengan permainannya dibibir hingga memeluk lily sangat erat, ia bisa merasakan buah dada kenyal ya g menempatkan di dadanya.



Vendra yang gemas tanpa sengaja menggigit kecil bibir lily hingga mengakibatkannya terkejut dan langsung mendorong Vendra.


" Awhhhh..... tuan.. kau apa-apa an.. kau keterlaluan...! kau menggigit bibirku...! "


" Lily maaf... "


Vendra langsung meraih tangannya yang sudah berusaha turun dari ranjang untuk keluar.


Kini posisi lily sudah duduk di atas pangkuan Vendra.


" Mana yang sakit...? "


" Kau fikir bibirku ini apa sampai-sampai kau menggigitnya hah...!!!

__ADS_1


kemarin kau mengambil ciuman pertama ku... dan sekarang kau seenaknya mencium dan menggigitnya...! "


__ADS_2