BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
MAAF LAGI


__ADS_3

Malam ini Vendra mengajak Lily keluar untuk jalan-jalan, sebelumnya ia mengajaknya untuk makan malam tetapi Lily tidak mau fan memilih untuk membeli roti dan minuman saja.


" Kita akan kemana..? "


" Nanti kau juga tahu... "


" Owh... "


" Apa kau dingin...? "


" Tidak begitu.... "


Mereka masih sama-sama canggung.


Setelah setengah jam lamanya akhirnya Vendra menghentikan mobilnya.


" Kita sudah sampai "


" Pantai...? malam-malam...? "


" Ya... aku sering ke pantai malam hari, ntah kenapa suasana sunyinya aku suka, kau bisa melihat lampu kota di depan mu... "


" Kau suka pantai..? "


" Ya.. aku suka... deburan ombaknya membuatku tenang... "


" Ini lumayan jauh dari kota... tapi pemandangannya indah sekali... "


Kini Lily tersenyum memandang ke arah pantai.


" Kau suka...? "


" Ya... aku suka... "


Walaupun suasana malam hari, namun pantainya lumayan ramai dan ada beberapa lampu unik disana.


" Duduklah.. akan aku belikan sesuatu... "


" Tapi kamu mau kemana...? "


" Hannya 5 menit saja... tunggu... "


Vendra berniat membelikan coklat hangat untum dirinya dan juga Lily, bagaimanapun pergi ke pantau malam hari pasti anginnya banyak dan sedikit dingin walaupun sudah memakai jaket.


" Minumlah... "


" Terima Kasih... "


" Kau masih marah padaku...? "


" Tidak, sejak. kemarin pun aku tidak marah padamu... "


" Maaf... "


" Tak apa.... "


" Kau mau makan sesuatu..? biar aku belikan.. "


" Tidak, aku sudah kenyang.. terima kasih untuk tawarannya... "


Angin berhembus kencang hingga sesekali membuat rambut Lily berantakan.


" Sepertinya akan turun hujan Tuan... "


" Ayolah jangan panggil aku Tuan.... "


" Hm... om..? "


" Apa aku om mu..? "


Jawab Vendra.


" Kak... ini sepertinya mau hujan... "


" Sepertinya begitu, apa kita pulang sekarang..? warung juga udah ada yang tutup... nanti kita ke tempat parkirnya juga lumayan jauh... "


" Kita balik sekarang aja... "


Lily sudah merasakan tetesan air dari langit yang semula cerah dengan kerlip bintang, namun terlihat gelap saat ini.


" Ayo ka...! "


" Oh.. ayo... "


Mereka berjalan sedikit cepat karena takut kehujanan, apalagi menuju tempat parkir hampir 15 menit baru sampai.

__ADS_1


Namun sepertinya malam ini cuaca tidak bersahabat dan mendukung, dalam hitungan menit hujan langsung turun deras.


" Ka... gimana ini... "


" Sebaiknya kita berteduh di gubug depan saja, keburu basah kuyup... "


" Emp... ayo ka.... "


Teriak Lily yang memang baju dan rambutnya sudah basah.


Kini mereka berteduh di gubug kecil, padahal tempat parkir tinggal 10 menit lagi, tapi karena memang hujan sangat lebat dan petir nya juga menggelegar membuat mereka takut kalau terjadi sesuatu.


" Basah.... "


Vendra mengibas rambutnya sekilas.


" Kak.. ini gimana nanti... "


" Tunggu saja, nanti juga reda... "


" Ka, bagaimana kalau lama... disini juga sepi... bagaimana ka... "


Lily terlihat sangat cemas, kondisi sekitar juga lumayan gelap, apalagi sudah jam 11 malam.


" Tenanglah... "


Lily terduduk sambil memeluk tubuhnya sendiri karena merasa sangat dingin, jaketnya juga basah dan tidak mungkin kalau tubuhnya tidak kedinginan.


Mereka sama-sama diam, Vendra sesekali menatap ke arah Lily yang kedinginan.


" Lily... are you okay...? "


" Emm.... aku baik-baik saja... "


" Apa kau sangat dingin...? "


" Sedikit... "


Lily mencoba tersenyum ke arah Vendra.


" Tapi bibirmu pucat sekali.... "


" Tak apa kak.... memang kedinginan, itu wajar.... "


" Beneran...? "


Hujan bertambah lebar, petirnya juga terdengar sangat nyaring.


Lily yang merasa tidak kuat menyenderkan kepalanya di pundak Vendra.


" Lily... kamu tidak apa-apa kan..? "


Memegang pipi Lily yang ternyata sangat dingin.


" Aku... dingin... sekali... "


Vendra merasa takut, ia bingung harus


berbuat apa, apalagi kondisi mereka sekarang sama-sama terjebak.


Mau melanjutkan perjalanan tapi masih hujan lebat, telfon juga mendadak tidak ada sinyal.


" S**l....!!!! no signal... "


Vendra langsung memegang tubuh Lily dan membawanya kedalam pelukannya agar dia bisa mendapatkan kehangatan sedikit pada tubuhnya.


" Ka... "


Lirih Lily.


" Diam...! "


" Dingin sekali... "


Kini Lily memeluk tubuh Vendra sangat erat.


" Bertahanlah... aku mohon Lily, hannya sebentar... pasti hujannya akan reda, bertahanlah... "


" Aku... aku tidak tahan... "


Bibir Lily gemetar.


Vendra langsung mempererat pelukannya, ia bingung harus bagaiman sampai merasa sangat kesal.


" Bagaimana ini...!!! argh.... sinyal juga tidak ada...! aku lupa ngecas ponselku...!!!! "

__ADS_1


" Lily.. apa kamu bawa ponsel..? "


" Tidak.... "


" Ya Tuhan.... terjebak sudah, bagaimana kalau dia kedinginan seperti ini dan hujannya lama redanya...? ayo Vendra.... ayo putar otakmu... cari cara apapun untuk membuatnya bisa bertahan.... "


Sesekali ia memejamkan kedua matanya untuk memutar otak dan mencari cara bagaimana mengatasi masalah ini.


" Aaa... aku ingat...


.


.


tapi di dalam film itu aku harus membuka bajunya, bagaimana kalau dia marah padaku..? bagaimana kalau..... "


" Dingin..... "


Lirih Lily, bibir dan wajahnya sangat pucat.


" Aku harus melakukan ini atau bisa berakibat fatal untuknya, ini cara paling baik daripada aku harus melakukan cara ke dua.


Mana mungkin...? kami bukan suami istri.. "


" Lily....


dengarkan aku...


hey...! Lily....!


kau mendengarkan ucapanku..?


Dengarkan aku, hujan lebat sekali dan kemungkinan reda ntah kapan, aku harus melakukan sesuatu biar kamu tidak kedinginan atau nyawamu bisa melayang, bolehkah aku membuka bajumu...? "


Lily menatap Vendra dengan sekuat tenaga, ia menghembuskan nafas kesal tetapi tidak punya tenaga untuk berbicara.


" Lily... ini demi kau.... cepatlah... "


Tak lama kemudian Ia menganggukkan kepalanya ke arah Vendra.


" Aku minta maaf hannya ini satu-satunya cara untuk membuat kita bertahan dalam situasi ini, maaf... "


Vendra melepas baju dan jaketnya terlebih dahulu hingga memperlihatkan tubuh kekarnya dan dada lebar tang berotot miliknya.


Kini tangannya beralih memegang baju Lily, namun sedikit gemetar, ia heran kenapa ia merasa takut dan ragu membuka pakaian wanita yang ada di depannya..? bahkan sebelumnya ia juga pernah membuka banyak pakaian wanita tanpa ragu dan tanpa rasa malu.


Sedikit memejamkan mata ia langsung membuka semuanya hingga hannya menyisakan Br* hitam yang dikenakan Lily malam ini.


" Maaf aku haris memelukmu..."


Kali ini Lily hannya pasrah, tubuhnya yang kecil sangat pas di dada lebar Vendra hingga membuatnya sedikit merasa hangat.


" Tuhan.... semoga dia tidak melakukan hal yang lebih padaku.... "


Sebenarnya Vendra juga kedinginan hingga kini mereka berdua merasa sedikit hangat, perlahan Lily juga memejamkan kedua matanya dan pulas tertidur di pelukan laki-laki yang bersamanya sekarang.


" Maaf.. aku mungkin terlalu banyak melakukan salah padamu.. semoga kau tidak marah setelah hari ini berlalu.. "


Vendra membelai lembut pipi Lily dan memeluknya sangat erat.


Hujan masih turun namun tidak begitu deras dibanding tadi, tubuhnya juga sudah merasa sedikit hangat.


Ia berusaha untuk mengirim pesan pada anak buahnya sebanyak mungkin karena melihat sinyal sudah ada di ponselnya.


Ia juga menyuruh anak buahnya untuk membelikan satu selimut untuk Lily nanti.


" Akhirnya.... kau bisa terkirim juga..! "





Vendra menunggu hampir setengah jam hingga akhirnya satu mob hitam kini sudah berhenti tepat di depannya.


" Ini tuan selimutnya.. "


" Buka... masa aku yang buka..!! cepat... "


Vendra menutupi seluruh tubuh Lily dengan selimut dan menggendongnya masuk kedalam mobil.


" Apartemen...! "


" Baik tuan... "

__ADS_1


Pergilah Vendra ke apartemen dengan membawa Lily yang tengah tertidur atau pingsan yang jelas kini ia membawanya ke apartemen bukan ke rumah.


__ADS_2