
Sarapan pagi sudah terhidang dan tertata rapi di meja makan.
Semua juga sudah siap, sementara itu di kamar Lily sudah dandan untuk pergi kuliah di antar sama supir, itu memang rencananya tapi tidak dengan Vendra yang bingung harus berbuat apa melihat Lily diam sejak semalam dan bahkan memilih tidur di kamar tamu.
Tanpa menunggu Vendra Lily langsung turun, ia tahu kalau kekasihnya Vendra sudah berjalan di belakangnya namun mereka sama-sama diam.
" Selamat pagi non... tuan... "
" Pagi bi.... "
Sahutnya.
Duduk di satu meja yang sama, namun posisi berbeda.
Lily tidak ingin berhadapan dengan Vendra ataupun duduk disampingnya sekalipun.
Semua pelayan yang melihat pemandangan pagi ini hanya diam, mereka sama-sama sudah tahu dan memang semua juga salahnya Vendra sendiri.
" Biarkan saja seperti ini...
lagian siapa suruh, aku sudah masak banyak untuknya agar bisa makan malam, tapi dia malah enak-enak pergi dan sudah makan malam di luar "
Batin Lily.
" Pak, nanti biar saya saja yang mengantarnya "
" Aku tidak mau... "
Bantah Lily.
" Biar aku antar... "
" Aku bilang aku tidak mau... "
Terlihat pak Jamal kebingungan, ia harus bagaimana.
" Pergilah, biar saya yang mengantarnya ke kampus... "
" Baik tuan... "
" Aku mau di antar pak Jamal...! pak panasin saja mobilnya, sebentar lagi aku sudah akan berangkat "
Pak Jamal semakin bingung, ia harus mengikuti perintah siapa.
" Baik non... "
Vendra hanya diam, dari raut wajahnya sudah terlihat kalau dia juga benar-benar kesal terhadap Lily.
Bagaimanapun dia ingin memperbaiki kesalahannya kemarin dengan mengantarnya ke kampus.
Setelah selesai sarapan, Lily buru-buru mengambil tas yang masih berada di kamar dan segera menyusul pak Jamal.
__ADS_1
Terlihat Vendra juga buru-buru menyusul Lily dan langsung ikut masuk juga ke dalam kamar.
" Aku buru-buru, minggir lah... "
" Kamu masih marah...? aku sudah minta maaf padamu berkali-kali "
" Terus...? kalau sudah berkali-kali emangnya kenapa..? kamu juga melakukan kesalahan berkali-kali kan padaku "
" Ayo biar aku antar ke kampus... aku minta maaf "
" Nggak usah kak... minggir... "
Lily langsung mengambil tasnya dan melangkah meninggalkan Vendra di kamar.
" Lily berhenti....!!!! "
Bentak Vendra.
Langkah Lily langsung berhenti mendengar suara Vendra yang menggema di kamar.
" Bagaimana ini, dari suaranya sepertinya dia benar-benar marah padaku...tapi kenapa dia yang marah, harusnya kan aku..."
Lily sudah ketakutan dan menggenggam tangannya sambil meremas baju.
" Aku mau ke kampus.... "
" Tidak usah ke kampus...!!! "
" Tidak usah...!!! aku bilang tidak usah ya tidak usah..!! "
Vendra masih membelakangi Lily.
Lily berusaha maju beberapa langkah menuju pintu, namun tangannya langsung terasa sakit karena di tarik paksa oleh Vendra hingga membuatnya tersungkur di lantai.
...Bughh.........
" Awwwww..... "
Lirihnya menahan sakit di pergelangan tangannya.
Melihat kekasihnya kesakitan langsung membuat Vendra terkejut dan buru-buru menghampiri Lily.
" Sayang.. maaf, aku minta maaf "
...PlakkkkKkk........
Satu tamparan melayang di pipi Vendra, dan ini kali pertama wajah tampannya mendapat tamparan dari seorang wanita dan itu Lily kekasihnya sendiri saat ini.
Vendra menatap Lily tajam.
" Kau... "
__ADS_1
Ucapnya kesal.
" Kau keterlaluan kak...!! kau kasar..! aku benar-benar benci denganmu, pergi kau dari hadapanku....! "
Vendra terkejut dengan ucapan Lily, sementara di depannya ia melihat kedua mata kekasihnya memerah dan meneteskan air mata.
" Tidak, aku hanya... "
Lily langsung menyuruh Vendra berhenti mendekat ke arahnya.
" Jangan mendekat... "
" Tapi tanganmu.... "
" Jangan mendekat...! "
" Ya ampun Lily aku minta maaf, aku minta maaf... jangan seperti ini sayang aku mohon, aku minta maaf "
" Pergi... "
Lily langsung mendorong Vendra hingga tersungkur dan langsung berlari keluar.
Kali ini ia mengunci kamar agar Vendra tidak bisa keluar dan mengejarnya.
" Lily...!!! "
Dengan cepat dia langsung berlari ke bawah dan menemui pak Jamal sambil menggendong tas ranselnya.
" Non.. ada apa..? "
" Pak berangkat sekarang....! "
" Tapi non... "
" Pak aku bilang berangkat sekarang...! "
Lily langsung masuk mobil dan pak Jamal juga langsung menyalakan mesin mobil meninggalkan halaman rumah Vendra.
Di dalam mobil Lily masih menangis sambil memegang pergelangan tangannya.
Sementara itu pak Jamal tidak berani banyak bertanya melihat keadaan dari perempuan kesayangan tuannya.
" Pak.. nanti berhenti di cafe yang waktu itu ya pak.. "
" Tidak ke kampus non..? "
" Tidak.... "
" Baiklah non... "
Di rumah Vendra kesal dan berusaha mendobrak pintu namun sia-sia sebelum akhirnya anak buahnya mengambilkan kunci cadangan dan membukanya.
__ADS_1