
" Ngapain dia... "
" Dia siapa..? "
" Bocah tengil tadi.. "
" Maksudnya kakak, Alex..? "
" Ya.. emang tadi ada yang lain selain dia di dekatmu..? "
Ketus Vendra.
" Ya ampun kak, jangan mulai deh "
" Mulai apa..? aku hanya bertanya sayang "
" Tapi pertanyaan kamu itu terdengar agak gimana gitu kak di telinga... "
" Oke... aku minta maaf.. "
Ucap Vendra sambil menggenggam tangan Lily.
" Lagian dia baik kak, dia teman aku... kalau aku nunggu kamu lama juga di temani sama dia, bagaimanapun mungkin dia takut kalau aku nanti ada apa-apa... "
" Iya sayang.... aku minta maaf "
" Maaf ya... "
Lily menatap kekasihnya yang memasang wajah manis dengan senyum khas yang selalu membuatnya rindu setiap saat.
" Iya, aku maafin "
" Kamu mau makan siang...? "
" Kak aku ingin pulang... nanti aku masak aja di rumah bagaimana "
" Kamu mau masak apa sayang, sudah jangan terlalu sering melakukan pekerjaan rumah ya, aku tidak suka sayang "
" Ya ampun kak, harusnya kamu senang lho punya pacar kayak aku... serba bisa kan..? masakin kamu juga bisa... "
" Termasuk di ranjang juga jago...? "
Goda Vendra dengan senyum nakalnya.
" Jangan mulai deh.... "
" Tapi beneran... aku suka... "
" Kak.... ayo pulang "
Vendra langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera menuju ke rumah sesuai permintaan Lily.
Sepanjang jalan Lily hanya diam karena malu dengan perkataan Vendra barusan.
Vendra juga sudah tahu dan paham bagaimana sikap kekasihnya, terlihat jelas kalau di wajahnya itu tegang.
" Kak... aku kok pengen makan donat ya "
Ucap Lily tiba-tiba.
" Donat...? kamu pengen...? "
__ADS_1
" Eemmm... "
" Sebentar, aku cari lokasi dulu toko kue nanti kita beli... "
" Makasih sayang.... "
Sambil memeluk Vendra dan kini Lily bersandar di pundak kekasihnya.
" Teruslah panggil aku dengan sebutan itu.. "
" Tapi kakak juga cocok... "
" Emangnya aku kakak kamu apa..? aku tidak mau, mulai sekarang jangan panggil aku seperti itu kalau lagi berduaan seperti ini.
Kalau di keramaian aku memaklumi nya, tapi tidak kalau dalam keadaan seperti sekarang "
" Iya.... maaf... "
" Katakan sekali lagi coba... "
" Ih tadi kan sudah kak... "
" Ish.. aku tidak mau mendengar sebutan itu sayang... "
" Tadi udah lho... "
" Mau donat nggak...? "
Ancam Vendra.
" Kok gitu.. kamu ngancam aku kak.. kamu sudah berani ngancam aku sekarang "
" Ih, terserah... nggak usah beli donat "
Vendra justru tersenyum.
" Kamu marah..? "
" Habisnya kamu gitu... "
" Kamu tahu, kalo marah itu jelek banget muka kamu tuh "
" Jelek tapi kamu mau... kamu juga nyosor mulu kan..? "
" Apa kamu bilang..? nyosor...? what...? emang aku bebek..? "
Kali ini Lily benar-benar tidak bisa menahan tawanya hingga benar-benar Terpingkal-pingkal mendengar perkataan Vendra.
" Kamu jahat banget sayang, kamu samain aku sama bebek...? idih... cakepan juga aku kemana-mana "
" Nggak, siapa coba yang nyamain kamu sama bebek... hahahahaha "
" Tadi kamu bilang aku nyosor... "
" Emang iya kan..? "
" Kan kamu juga mau aku sosor.... "
Lily kini diam, omongan Vendra juga ada benarnya.
Vendra gantian menatap Lily.
__ADS_1
" Bener kan...? kamu juga mau kali... "
" Ih apaan si kak... "
" Hahaha.... nggak usah malu gitu sayang, gemes tahu lihatnya.. "
" Kak.... udah ah.. "
" Siapa tadi yang mulai duluan..? "
" Udah ah "
Vendra gantian tertawa melihat Lily kehabisan kata-kata.
Hampir 10 menit akhirnya Vendra berhenti di sebuah toko kue.
Mereka berdua langsung turun, apalagi Lily benar-benar antusias sekali untuk membeli donat.
" Selamat siap pak... "
" Siang... apa ada donat...? saya mau membeli donat buat istri saya... "
" Oh ada tuan, tunggu sebentar biar saya ambilkan, kebetulan juga baru matang "
" Baiklah.... "
" Mau rasa apa pak untuk topping nya..? "
" Sayang, kamu mau rasa apa..? "
" Rasa coklat aja deh mbak "
" Oh baik ibu.. silahkan tunggu ya "
Mereka duduk untuk menunggu pesanan donat.
" Masak aku di panggil ibu kak.. emang wajahku tua ya..? "
" Tentu saja tidak... kenapa emangnya..? kan dia mungkin tadi panggil ibu juga karena aku bilang buat istriku... "
" Kak tapi aku tidak suka di panggil ibu ih.. terdengar tua banget "
Tak lama kemudian pelayan tadi keluar dan memberikan satu bungkus donat yang sudah di pesan oleh mereka.
" Mbak bisa minta tolong...? "
" Iya tuan.. tentu.. apa yang bisa saya bantu..? "
" Ini istri saya Lily, dan saya mau mbak memanggilnya sekali dengan sebutan Nona Lily bukan dengan sebutan ibu seperti tadi... katanya dia berasa tua dengan sebutan Ibu..."
Lily justru terkejut dan malah terlihat malu.
Dengan tersenyum lalu pelayan itu mengulangi perkataannya.
" Saya minta maaf nona Lily... dan Terimakasih karena sudah mampir ke toko kami... "
" Iya mbak, nggak apa-apa.. maaf ya.. sekali lagi Terima kasih... "
" Sama-sama nona Lily.... "
šš
__ADS_1