
Lily berdiam di taman sampai hujan reda tanpa berteduh.
Pandangannya kosong, tubuhnya sangat dingin dan wajahnya pucat.
" Harusnya kamu bilang, kalau kamu ada janji makan siang dengan wanita lain.
Kamu berbohong padaku kak, kamu pembohong... "
Menyeka air matanya.
" Siapa wanita tadi...?
apa dia punya wanita lain selain diriku...?
dia cantik, sepertinya juga dari kalangan yang sama seperti dia "
Di sisi lain Vendra kebingungan setengah mati belum menemukan keberadaan Lily.
" Kamu benar-benar membuatku kecewa kak, sangat kecewa.... "
♡♡♡
" Kamu sudah menemukannya...? "
Tanya Septian.
" Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya Sep....? bagaimana kalau dia marah dan pergi meninggalkanku... bagaimana...!!!! "
" Sabarlah dulu, aku sudah menyuruh anak buah mencarinya.
Nanti kita tunggu saja sampai mereka menelfon, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan Lily... "
" Kamu tidak tahu, dia sedang tidak enak badan dari kemarin Sep...!!! itu yang aku khawatirkan....!!!!! "
" Dia sakit...? kau tidak memanggil dokter? "
" Ah.. sudahlah... kau membuatku pusing..!! "
Sejenak Vendra mengingat perbuatannya waktu terakhir kali dia menyentuh kekasihnya dan lupa menggunakan pengaman.
Dia benar-benar takut kalau Lily sedang hamil dan malah pergi ntah kemana siang ini di saat hujan lebat juga.
" Apa kita pulang saja...? "
" Kamu memang benar-benar GILA Sep... !! bagaimana aku pulang...? Lily belum ketemu..!"
" Kau ganti baju dulu, kita sudah mencari kemana-mana juga belum ketemu, makanya aja kita pulang dulu.... kamu aku antar, nanti kita cari lagi... jangan egois juga "
Vendra hanya diam sementara Septian langsung menyalakan mesin mobil untuk segera menuju ke rumah Vendra.
♡♡
Terlihat Vendra berdiri dari duduknya sambil mondar mandir sejak tadi, pasalnya sudah jam 4 lebih Lily belum juga ditemukan.
" Tugas mereka itu apa...?!! mencari satu gadis saja tidak bisa...!! "
Duduk dan diam, kepalanya sedikit pusing karena kehujanan dan juga memikirkan Lily.
.
.
.
.
" Non.... tuan... "
__ADS_1
Terlihat Lily berjalan dengan langkah gontai dan sedikit gemetar.
Vendra yang mengetahui kepulangan Lily langsung berlari dan menghampiri kekasihnya.
" Akhirnya kamu pulang... kamu kemana saja "
Ucapnya sambil terus membelai kepala Lily dan memeluknya.
Lily hanya diam dan melepaskan pelukan Vendra.
Ia berjalan tanpa bicara menaiki tangga untuk ke kamar.
Vendra langsung memberikan isyarat pada semuanya untuk tidak ada yang berani naik ke lantai 2.
Mereka berdua memasuki kamar, Vendra langsung menggandeng Lily.
" Kamu kemana saja... bajumu basah kuyup seperti ini... "
Mengambil handuk selimut dan langsung menutup tubuh Lily.
Terlihat kekasihnya masih diam tanpa bicara apapun.
Lily merasa tubuhnya sangat sakit, dingin dan juga sangat lemas.
" Bicaralah... jangan seperti ini.... "
Ucap Vendra panik menatap wajah Lily yang sudah pucat hingga membuatnya semakin mempererat pelukannya.
" Wanita tadi siapa...? "
Deg...
deg...
" Wanita yang mana...? "
Vendra terkejut mendengar perkataan Lily dan spontan memeluk erat kembali kekasihnya.
" Siapa kak...? "
" Dia rekan bisnis.... hannya rekan bisnis, percayalah... "
" Apa kamu bersikap sama pada semua rekan bisnismu perempuan...? "
" Maksudnya...? sungguh dia hannya rekan bisnis, percayalah padaku untuk hal ini aku tidak berbohong sayang... "
Lily hannya diam.
" Kamu bahkan berbohong padaku hannya untuk makan siang dengannya... ? "
" Bukan begitu... aku tadi memang "
" Memang apa...? memang ingin makan siang dengannya....?
Oh Tuhan... bodohnya aku yang percaya denganmu begitu saja selama ini, kamu tahu apa yang paling sakit di dunia ini..? sekalipun itu dari sebuah luka kak..? bahkan dari sebuah kematian...? apa kau tahu..? "
Vendra hannya diam.
" Jangan katakan apapun Lily... "
" Kamu tahu apa...?
kamu tahu nggak...!!
kamu udah ngelakuin itu, kamu berbohong padaku, kamu pikir nggak sakit apa..!! "
" Aku tidak berbohong.... "
__ADS_1
" Cukup....
cukup kak... "
" Aku bersumpah aku tidak berbohong Lily "
" Aku nggak mau denger apapun...!! sekalipun kamu bersumpah di hadapanku "
" Sayang dengarkan aku dulu, aku akan ambilkan baju untukmu, kamu bisa sakit nanti. "
" Tidak usah...! "
" Lily jangan keras kepala... kamu tahu aku benar-benar cemas memikirkanmu... "
" Siapa yang nyuruh mikirin aku hah...! "
" Lily...!!! "
" Apa....!!! "
" Aku mohon jangan kayak gini sayang, dengerin omongan aku kali ini, dia bukan siapa-siapa..... cuma rekan bisnis, kamu bisa bertanya pada Septian "
Ucap Vendra yang berusaha meyakinkan Lily.
" Jangan menyentuhku... "
" Apa yang kamu katakan hah..!! tidak ada larangan seperti itu untukku...! "
" Aku bilang jangan menyentuhku...!! "
" Lily...! "
" Keluar.... "
" Hentikan sikapmu ini Lily, atau "
" Atau apa...!! aku lebih baik pergi saja dari rumah ini... aku bilang pergi dari hadapanku bajingan...!!
Kamu benar-benar bajingan...! kamu menikmati diriku... kamu... "
Plakkkk.....
Karena merasa kesal dan tersulut emosi Vendra menampar Lily hingga tersungkur.
Ya, Lily langsung tersungkur dan jatuh ke lantai hingga pingsan.
" Lily....
sayang, bangun... maafkan aku... "
Dengan gemetar ia mengangkat tubuh mungil Lily ke atas ranjang.
Betapa terkejutnya ia melihat darah di sudut bibir kekasihnya karena tamparan yang di berikan barusan.
" Ya Tuhan.... "
Vendra langsung mengambil handuk dan membersihkan noda darah di sudut bibir pucat itu.
Dia juga langsung mengganti pakaian yang dikenakan Lily karena basah kehujanan.
Dengan langkah gemetar dan cemas Vendra memanggil Septian untuk segera menghubungi dokter.
" Apa yang kau lakukan Ven.... kau memukulnya..? harusnya tidak perlu se kasar itu padanya "
" Aku tidak sengaja... aku sudah bilang kan.. "
" Kau membuatnya pingsan.... "
__ADS_1