
Hari ini Lily makan malam sendirian dirumah, sementara itu Vendra sedang ada urusan di luar yang sangat penting.
" Dia kemana, jam segini belum pulang...? ini sudah jam 11 malam, telfonnya juga tidak aktif... "
Ia berdiri di balkon menatap langit sambil membayangkan bagaimana dirinya dulu dan sekarang, pertemuannya dengan Vendra merubah segalanya.
" Terima kasih, aku bingung harus berkata apalagi padamu ka.. sungguh... "
Kedua matanya langsung tertuju pada mobil yang memasuki halaman rumah.
Lily merasa bahagia dan ingin berlari turun menemui Vendra, namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti.
" Bagaimana bisa aku se senang ini, baru melihat mobilnya saja aku sudah bahagia.
Tapi mana mungkin aku menyambutnya di bawah, apa kata orang rumah nanti...? "
Tangannya menggenggam erat ponsel yang dari tadi tidak lepas darinya.
BrakkkKkkk.....
Lily langsung menoleh ke arah pintu dengan senyum yang mengembang.
" Kak, kamu...... "
Seketika senyum itu hilang dari wajah Lily melihat keadaan Vendra di depannya.
Dengan gerakan cepat ia menutup pintu kamar Lily.
" Ka.... "
Melihat Vendra semakin mendekat ke arahnya justru Lily dibuat ketakutan.
Baju Vendra sudah basah yang kemungkinan oleh keringat dan bau alcohol yang menyengat.
" Ka.... "
Ucapnya gemetar.
" Please bee... kemarilah.. "
Ucap Vendra setengah sadar sambil terus mendekat ke arah Lily.
" Kemarilah sayang... aku mohon... "
Lirihnya sekali lagi.
" Ti... ti... dak...!! menjauh dariku...!!! "
__ADS_1
Teriak Lily, untung kamar itu kedap suara.
" Maaf sayang, aku mohon mengertilah malam. ini saja, aku merindukanmu.... "
Vendra berencana meraih kaki Lily namun karena tidak sadar justru ia menarik dress yang di pakai Lily sekarang.
" Ka...! hentikan...!! apa yang kau lakukan... hiks... hiks... "
" Maaf.. maafkan aku sayang... "
Meraih tubuh itu dan memeluknya, sementara itu Lily mendorong dan meronta sekuat tenaga namun hasilnya zonk.
" Aku mencintaimu... sungguh.. hannya kau.. "
" Ka... hentikan... "
Vendra terus mencium setiap inci tubuh Lily dari atas kepala hingga di bagian depan sensitif nya.
" Enak bukan...? "
Ucapnya lagi tanpa sadar sambil meremas milik Lily tanpa memperdulikan kekasihnya menahan nyeri oleh tangannya.
" Awh... hentikan ka... hentikan.... hiks.. hiks... jangan lakukan ini... aku mohon... "
" Tapi tidak bisa sayang, kali ini saja.. aku minta maaf.... "
Lily yang memang kalah tenaga dengan Vendra hannya bisa meremas seprei.
" Ka.... "
Vendra langsung melepas pakaiannya, sementara Lily yang beranjak bangkit langsung di dorong oleh Vendra.
" Kali ini saja sayang... "
" Ka... aku tidak mau hiks.. hiks... "
Air mata mengalir deras, ia masih bingung apa yang membuat Vendra bersikap seperti ini padanya bahkan meminta tubuhnya secara paksa.
" Ka, jangan.... !! "
Tangan kekar itu sudah merobek dress yang dipake oleh Lily hingga melemparkannya ke sembarang arah.
Ia lanjut melucuti helaian kain yang masih menempel ditubuhnya dan juga tubuh Lily.
" Sayang, apa yang terjadi padamu... hiks.. hiks.. hentikan aku mohon, bukankah kau kemarin sudah janji tidak akan melakukan hal lebih padaku... "
wajah Vendra sangat kacau, matanya memerah.. otot-otot nya semakin menonjol oleh reaksi obat yang masuk ke tubuhnya.
__ADS_1
" Aku minta maaf... "
Lirih Vendra yang langsung mencium habis bibir Lily.
Hal yang ditakutkan Lily akhirnya terjadi.
Tubuhnya gemetar hebat ketika milik Vendra memaksa masuk dan melakukannya secara kasar.
******* dan juga rintihan beradu jadi satu.
" Ka.. kau menyakitiku.... "
Lirih Lily dengan suara gemetar sambil menahan sakit di area intimnya, sakit... sakit yang luar biasa.
" Hentikan ka... hentikan aku mohon... "
Suara itu terdengar sangat lemah.
Vendra seolah tidak memperdulikan Lily yang kesakitan dan sudah mau pingsan hingga memainkannya begitu kasar dan penuh tenaga.
" Ka... aku tidak kuat.... "
Tangan Lily meraih wajah Vendra yang sudah hampir mencapai klimaksnya dan di akhiri dengan memeluk tubuh Lily sangat erat.
" I'm so sorry baby... "
.
.
.
Perlahan Vendra sudah sedikit sadar dan akal sehatnya juga sudah sedikit kembali.
Saat beralih menatap Lily, ia terkejut melihat wanita yang ia cintai justru sudah se pucat mayat, dengan cepat ia memakai pakaiannya.
Ia bisa melihat jelas darah yang menghiasi seprei warna pink milik Lily.
" Argh......!!! "
Teriaknya.
" Sayang, bagun sayang... aku minta maaf... bagunlah... aku mohon....
Lily...!!! "
Tidak ada reaksi apapun pada Lily.
__ADS_1