BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
KABUR


__ADS_3

Kalang kabut Vendra mencari keberadaan Lily hari ini pasalnya dia yang semula berada di cafe justru saat Vendra mencarinya di sana hasilnya nihil.


Kali ini pak Jamal tidak mendapat amukan dari tua mudanya karena memang sadar semua juga karena permintaan Lily sendiri.


" Sep... kamu cari Lily...! "


" Emang dia kemana..? "


" Udah cari saja tidak usah banyak tanya! "


" Oke ... aku kan mencarinya, terakhir kau melihatnya dimana? "


" Kata pak Jamal tadi di cafe milik temannya yang kecentilan itu, Alex... "


Vendra langsung mematikan ponselnya.


Flashback....


Sesampainya di cafe Lily menyuruh pak Jamal buat pulang karena dia memang mau menyendiri untuk sementara waktu, walaupun sudah menolak tapi ucapan Lily akhirnya berhasil juga membuat supir pribadinya kembali ke rumah.


" Aku harus cepat pergi dari sini, mana mungkin aku masuk? yang ada aku ketemu Alex dan masalah jadi tambah runyam "


Terlihat ia memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit.


" Dia benar-benar kelewatan, tega sekali melempar ku seperti tadi? emangnya aku ini barang atau apa si...? "


Dengan terus melangkah dan tidak tahu harus kemana, akhirnya Lily memutuskan untuk menarik uang tunai dari kartu yang sudah di berikan Vendra sejak dulu.


" Aku akan mengambil beberapa uang, bukankah dia memberikannya untukku...? aku rasa kebutuhanku tidak banyak, nggak apa-apa kali ya aku pake uangnya? "


Walaupun ada sedikit keraguan, tapi Lily tetap akan menarik sejumlah uang di ATM.


Di kediaman rumah Vendra, suasana nampak tegang. Terlihat dengan wajah kesal, bingung dan ada juga sedikit kepasrahan campur aduk di sana.


Ponsel berbunyi....


" Gimana..? "


" Aku rasa dia tidak ke cafe, dan aku sudah mengecek semua CCTV cafe maupun sekitar situ, tapi Lily pergi sesampai di depan pintu... dia tidak masuk, artinya dia tidak disana "


" Terus kemana..... "


" Sabar, nanti juga ketemu... "

__ADS_1


Ucap Septian.


" Lacak semuanya, aku mau dia ketemu.. dan ya, jangan memaksanya atau apalah... aku mau aku sendiri yang menjemputnya nanti "


" Ya.. aku tahu "


Sambungan terputus.


šŸ’•šŸ’•


Pukul 2 siang.


" Akhirnya.... aku lebih baik di sini dulu "


Merebahkan badannya di kasur empuk yang memang tidak terlalu empuk di banding semua fasilitas yang Vendra berikan.


Lily sengaja menyewa kontrakan yang sederhana, tidak begitu mewah sekalipun dia juga sanggup membayarnya.


Di sana lengkap, ada kamar tidur, kamar mandi, dapur dan juga televisi maupun lemari pendingin.


" Bagaimana dengannya ya sekarang..? dia mencari ku atau tidak..? "


" Tapi kenapa aku peduli, dia yang salah "


Seperti biasa, banyak sekali pesan dan panggilan dari Vendra yang masuk.


" Aku lapar, sebaiknya aku makan dulu... lepas itu tidur, capek sekali rasanya badanku "


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


Vendra terlihat mondar-mandir menunggu kabar dari Septian soal kekasihnya yang berani kabur dari rumah dan Zona mewahnya.


Dia sampai melupakan makan siang dan benar-benar memikirkan bagaimana keadaan Lily di luar sana.


" Tuan... di bawah ada tuan Septian... "


" Ya, aku akan turun "


Ucapnya.


.


.

__ADS_1


.


" Bagaimana...? "


" Sabar.... ceritanya gimana sih sampai dia bisa kabur dari penjaramu ..? "


" Kamu menemukannya atau tidak...! "


" Tentu saja aku menemukannya "


" Dia baik-baik saja..? "


" Dia sangat baik... dia menarik uangmu delapan ratus ribuan... "


"Buat apa..? "


Vendra terkejut, bukan soal uang tapi soal sikap Lily kali ini yang mau mengambil uangnya.


Biasanya juga kalau tidak dipaksa kartu itu cuma akan jadi pengganjal di dompetnya tanpa mengurangi saldo di ATM yang sudah di berikan oleh kekasihnya Vendra.


" Buat apa dia menarik uang...! "


" Kau keberatan..? "


" Tentu saja tidak, kenapa dia cuma menarik uang recehan seperti itu...? "


" Recehan, tapi baginya juga sudah banyak... aku yakin dia pasti akan mengatakan kalau uangnya akan aku ganti.. "


Sedikit tertawa sambil meledek Vendra.


Septian juga tahu betul bagaimana sifat Lily, dan dia bukan wanita yang gila uang ataupun gila belanja.


Bahkan apa yang sudah di ambil pasti akan di kembalikan walaupun dia tahu sampai kapanpun tidak akan bisa membayar untuk semua apa yang sudah Vendra berikan.


Septian langsung menceritakan segalanya soal Lily pada Vendra hingga akhirnya laki-laki itu bisa bernafas sedikit lega.


" Aku pikir dia sudah kabur keluar kota...! "


" Kau akan ke sana..? "


" Tentu saja, aku mau menjemputnya..! "


" Kamu pikir dia akan mau..? aku rasa tidak "

__ADS_1


Vendra terdiam.


__ADS_2