BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
FIRST KISS


__ADS_3

Kedua mata sudah saling menatap dan beradu, mereka sama-sama memandang satu sama lain dengan tangan kiri Lily yang sudah memegang wajah Vendra.


" Tuan maaf.... "


Sementara Vendra masih menatap pekat ke wajah dan mata Lily, pandangannya mulai turun dan beralih ke bibir mungil yang sudah ranum.


" Bagaimana ini... kenapa dia menatapku seperti itu.. apa ada yang salah denganku...? bajuku juga masih belum selesai aku pakai... "


Kini giliran Lily yang menelan slavinanya kasar hingga terdengar bunyi yang membuat Vendra menyadari kalau wanita yang ada di depannya sedang gugup.


Tangan Vendra mengarah dan langsung memegang pinggang langsung Lily, mungkin ia memang sudah kehilangan kesadarannya sejak beberapa jam yang lalu.


" Tuan... kau.. apa yang kau lakukan... "


" Diamlah... "


Ucapan Vendra kali ini lirih dan sangat sopan, tapi kedua matanya masih terus menatap lily.


Ia menarik pelan pinggang wanita yang ada di depannya hingga secara tidak sengaja lily langsung terpentok di dada lebar miliknya.


Deg...


deg....


" Apa ini, kenapa jantungku secepat ini...? "


Gerutu Vendra dalam hati, ia memang tidak menyangka akan seperti ini ketika dekat dengan lily.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi lily, wajahnya sudah merah padam mendapat serangan tiba-tiba dari laki-laki yang dia anggap sebagai Bossnya yang sudah membelinya sangat mahal.


Lily terdiam karena ini kali pertama baginya mendapatkan ciuman dari seorang laki-laki.


Kedua mata mereka kembali beradu, sementara raut wajah Vendra sudah penuh dengan nafsu.


Berbeda dengan Lily yang setengah tegang tapi tubuhnya dan otaknya tidak menolak atas apa yang Vendra lakukan padanya.


" Aku tidak bisa menahannya lagi... "


Vendra langsung meraih dagu Lily dan mencium bibirnya dengan penuh rasa penasaran.


" Emmmh.... "


Hannya suara itu yang keluar dari Lily yang berusaha meronta akan tetapi ia seperti menikmati sentuhan Vendra di bibirnya.


" Uhuk.... uhuk.... hentikan tuan... "


Lily mendorong sekuat tenaga hingga Vendra terpentok kursi mobil.


" Maaf... maafkan aku ... "


Ia langsung tersadar dan terkejut dengan apa yang ia lakukan pada lily, dengan cepat ia langsung membenarkan baju Lily.


" Berhenti tuan... "


" Maaf... "


" Aku bisa sendiri... "

__ADS_1


Lily langsung menyelesaikan urutan memakai bajunya karena terpending dengan tinju siku di mata Vendra hingga berakhir ciuman.


" Aku akan mengecek mesin mobilnya... "


Ucap Vendra gugup dan langsung keluar.


" Lily... apa itu tadi...?


Kau berciuman dengannya... dan kau membiarkan hal sebesar itu terjadi, kau bisa saja menolaknya tadi, apa yang kau lakukan... "


Cukup Lama Vendra berada di luar mengecek mesin mobil, sejujurnya ia tidak tahu apa-apa tentang mesin mobil dan itu bukan keahliannya.


Berbeda lagi kalau urusan bisnis, jangan ditanya... apapun pasti bisa ia dapatkan dengan sangat mudah.


" Apa yang aku lakukan tadi... "


Kakinya langsung menendang ke ban mobil.


Hampir 20 menit lamanya tapi masih belum ada lanjutan apa-apa, Lily memutuskan untuk keluar menemuinya.


" Apa masih lama..? "


" Masuk....! diluar dingin... "


" Kau juga... kenapa masih di luar kalau dingin, kalau tidak bisa ya udah.... "


" Kau mengejekku...? "


" Tidak.. mangsutku bukan begitu, kalau kau tidak bisa ya sudah gak apa-apa, ini sudah hampir setengah jam... "


" kalau bukan karena kau pasti aku tidak akan terjebak tengah malam seperti ini... "


" Jangan bicara... ayo jalan kaki... "


" Jalan kaki...???? "


" Bukankah kau tadi tidak keberatan kau jalan kaki, apalagi dalam keadaan hujan.. "


" Baiklah... tapi bagaimana mobilnya.. kalau dicuri orang bagaimana..? "


" Mobil itu terlalu murah...! akan aku buang...! bisa-bisanya mogok di waktu yang tidak tepat seperti ini, mobil tidak guna...! "


Vendra berjalan pelan membiarkan Lily yang masih memandang ke arah mobil.


" Bagaimana bisa ada orang se sombong itu,


aku tahu dia kaya tapi tidak begitu juga.


Bagaimanapun kan dibeli pakai uang... "


Lily berjalan mengikuti langkah Vendra dari belakang.


Bisa sampai 40 menit jika mereka terpaksa jalan kaki malam ini, apalagi jam. juga sudah menunjukkan pukul 2 malam.


" Kapan sampainya... huft.. aku benar-benar capek... aku gak kuat lagi, aku tidak makan malam juga, mau jalan tenaganya dari mana kalau kaya gini.... "


Vendra menoleh ke arah belakang, ia melihat Lily yang mengusap keringat sambil memegang perutnya.


" Dia belum makan malam, jelas kalau perutnya sakit.. dasar bodoh...! "

__ADS_1


Ia berbalik menyusul Lily yang sudah jongkok karena berusaha memulihkan nafas dan tenaganya.


" Capek...? "


" Em. ... "


" Berdiri.... "


" Tidak tuan, tunggulah sebentar.. kau bisa duluan kalau kau tidak sabar... "


" Berdiri...! "


"Tapi aku capek... "


" Lily, sudah aku bilang berdiri Lily.... kau ini kenapa susah sekali kali di suruh dan di atur si..! "


Dengan cemberut ia langsung berdiri memegangi perutnya.


" Naik... "


Vendra sudah jongkok tepat di depan Lily dan menampakkan punggung lebarnya yang kekar.


" lily...! "


" Ah... iya tuan... "


" Cepat naik....!!! "


" Tapi tuan... aku tidak mau... "


" Lily cepat naik aku bilang...!!!! "


" Tapi aku berat... "


" Naik Lily...!!!! "


Lily langsung naik ke punggung Vendra dengan cepat mendengar bentakannya.


" Berat kan...? "


" Tidak.... "


" Kalau kau capek. bilang... aku akan turun.. "


" Hm.... "


Vendra berjalan dengan tegap sementara lily tubuhnya bergoyang karena takut jatuh.


" Lily hentikan...!!!! kau bisa menambah bebanmu nanti, kalung kan tanganmu di leherku "


" Tapi tuan... "


" Bantah saja terus...!!!! "


Vendra sudah sangat kesal dibuat Lily yang tidak mau mengalungkan tangannya dileher melainkan melipat tangannya kebelakang bermaksud untuk tidak menyentuh Vendra.



" Kau mau kepalamu pecah...? "

__ADS_1


" Iya.. baiklah..... "


__ADS_2