BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
SEJAK KAPAN..? NTAHLAH


__ADS_3

Sudah 2 hari Vendra terbaring lemah, ia memilih dirawat di apartemen pribadinya.


Dan Lily juga ikut untuk merawat dan menemani dirinya.


" Hay baby... bangun.... "


Vendra mengelus pipi Lily dengan jemarinya yang runcing.


" Em... kamu sudah bangun...? "


" Ya.... apa kamu capek...? "


" Tidak... "


Lily masih memejamkan kedua matanya di pelukan Vendra.


" Love you gadis kecil..... "


Bisiknya di telinga Lily.


" Em.... "


Sambil tersenyum.


" Kamu tidak menjawabnya...? kamu tidak mencintaiku...? "


" Ih.. aku malu, sudah 2 hari dan kau mengatakan itu terus-terusan padaku... apa kamu tidak malu...? "


" Kenapa aku harus malu sayang...? "


" Sudah diam... kau membuatku tambah malu "


Vendra langsung memeluk dan mencium kening Lily.


" Kita tinggal disini saja.... bagaimana..? "


" Kau mau mengosongkan rumahmu...? "


" Tentu saja tidak, dirumah banyak orang kali.. apa kau lupa pada penghuninya...? "


" Em..... tapi bagaimana kalau orang rumah membicarakan diriku nanti...? "


" Kenapa..?. jangan cemas... tidak akan ada yang berani membicarakan dirimu sayang... cintaku... si kecil kesayangan tuan Vendra.. hahahahahha.... "


Kali ini Vendra tertawa gemas, bagaiman tidak..? semua yang di omongkan memang kenyataan.


Tubuh Lily kecil baginya, mungil, bahkan membuatnya semakin nyaman dan ingin terus memeluk nya.


Sebenarnya ia juga berusaha keras menahan hasratnya, tapi ia tahu kalau ini masih Terlalu singkat untuk Lily.


" Apa masih sangat sakit...? "


" No baby.... kenapa...? "


" Aku bertanya... kenapa aku tidak boleh melihatnya saat dokter selalu datang untuk mengecek lukamu..? "

__ADS_1


Lily terlihat kesal menatapnya.


" Aku tidak mau membuatmu terlalu khawatir padaku... kau pasti akan ketakutan... "


" Tapi aku ingin melihatnya..... "


" Sudah.. jangan bahas itu.... "


Vendra menatapnya, tapi Lily langsung membuang muka karena gugup.


" Kau lapar...? "


" Tidak.... apa kau mau mandi...? "


" Ya.... ayo mandikan kau... "


Memang biasanya Lily yang memandikan Vendra, akan tetapi laki-laki itu masih cukup sopan hannya meminta tolong untuk membersihkan tubuhnya bagian atas saja.


" Yasudah... cepat, kau bisa memanggilku setelah selesai nanti... "


Ucap Lily.


" Baiklah gadis kecil... "


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi Lily, sementara Vendra langsung bergegas menuju kamar mandi.


" Apa-apaan ini...?


ih, sungguh membingungkan, aku tidak menolaknya...? bagaimana bisa... ta ampun, dia benar-benar lancang main seenaknya mencium ku berkali-kali "


Pagi ini jam 9 mereka sarapan bersama di balkon, seperti 2 hari terakhir Lily selalu menyuapi Vendra dengan telaten tanpa mengeluh sedikit pun.


" Kamu makan juga, jangan aku terus... "


" Iya, kamu sudah kenyang..?


tanya Lily.


" Belum, sedikit lagi... "


" Apa masih sakit perut mu..? hari ini ada jadwal kontrol kan..? "


" Ntahlah... aku lupa... "


" Nanti aku temani.... "


" Tidak usah baby.... nanti biar dokter kesini "


" Oh... yasudah, minum obatnya dulu... "


Lily menyodorkan beberapa butir obat untuk Vendra.


" Makasih... "

__ADS_1


" Kenapa...? "


" Tentu untuk semuanya, terima kasih kau sudah merawatku.... "


" Owh... sama-sama, cepat sembuh... maaf aku penyebab semua yang kau alami... "


Lirih Lily yang masih merasa bersalah.


" Tidak sayang, kenapa kamu bilang begitu... aku yang harusnya minta maaf.


Mungkin aku laki-laki yang kurang ajar membiarkanmu di jalan dan menurunkan mu malam itu... maaf... "


" Kenapa kamu melakukannya....? "


Dengan cepat Vendra menarik pinggang Lily dan memposisikan dirinya di atas paha kekar milik Vendra.


" Kau...! "


" Bukankah kau ingin tahu jawabannya...? "


" Ini, lepaskan... "


Sambil memegang tangan Vendra yang melingkar di pinggangnya, namun sepertinya sia-sia.


" Nanti dilihat orang kak.... "


" Biarkan saja... kenapa..? "


" Malu.. lepaskan aku... aku mau ke dalam, kamu juga jangan mengencangkan pelukanmu... "


" Diam...! "


Mata Lily membulat mendengar satu bentakan dari Vendra, ke-dua mata saling memandang, hembusan nafas juga saling menggoyangkan bulu halus di wajah mereka.


Cup...


Vendra mendaratkan bibirnya di bibir Lily, sentuhan lembut dan penuh arti.


Lily hannya diam hingga sampai pada akhirnya ia menutup kedua matanya sambil tangan kanannya merangkul leher jenjang Vendra.


" Kau tahu artinya...? "


Lily hanya menggeleng.


" Aku menyayangimu, mencintaimu.... ntah sejak kapan, tapi aku jujur.


Kau penting bagiku Lily, apapun akan aku lakukan, kalau luka ini hannya masalah kec untukku... tidak seberapa "


Lily langsung menelan ludahnya mendengar perkataan yang keluar dari mulut Vendra pagi ini.


Jantung mereka berdetak kencang saling sahut menyahut, Vendra sudah sangat nyaman dengan wanita yang duduk di pangkuannya.


Sementara Lily sendiri juga tidka bisa menolak apapun sentuhan dari laki-laki yang sudah membelinya tempo lalu.


Tubuhnya kaku, tapi sentuhan demi sentuhan dapat ia rasakan sampai ke jantungnya, bahkan membuatnya hampir gila setiap hari.

__ADS_1



__ADS_2