BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
MAKAN BAKSO


__ADS_3

Di dalam mobil Vendra terus memandangi Lily, ia merasa bersalah soal keterlambatan menjemputnya.


Terlihat Lily asyik bermain dengan ponselnya, sedari tadi ia memang membalas pesan dari Mellanie.


" Kau sibuk....? "


Ucap Vendra.


" Em....? tidak, hannya membalas pesan dari teman baruku. Kau tahu, aku punya satu teman, namanya Mellanie. Dia sangat baik, ramah, lucu juga sih.... tadi juga dia menemaniku waktu menunggumu yang terlambat menjemputku "


" Perempuan...? "


" Emang ada nama Mellanie laki-laki...? aku tidak pernah mendengar.... "


" Maaf soal tadi, kerjaan di kantor banyak dan mendadak.... "


" Tak apa kak, harusnya kalau tadi kau sibuk bisa menghubungiku... nanti aku bisa naik angkot... "


" Apa kamu bilang....! "


" Naik angkot... kenapa...? aku terbiasa... "


" Jangan lakukan hal itu...! "


" Kenapa...? dari dulu aku juga sering naik angkot, tidak ada apa-apa.... kamu jangan khawatir berlebihan seperti itu.


Kamu kan sibuk, jadinya aku tidak enak kalau kau harus meninggalkan pekerjaanmu hannya untuk menjemputku... "


" Sudah, diam..! jangan banyak protes dan ikuti semua perintah dan aturan dariku, kau paham sayang.....? "


" Sudah kuduga... kau pasti seperti ini... "


" Kamu sudah makan siang di kampus..? "


" Belum.... "


" Kita cari makan...? gimana...? "


" Boleh kak, tapi makan bakso saja... gimana...? kakak mau kan...? "


Bujuk Lily.


" Bakso...? pinggir jalan...? "


" Tidak.... di atas monas hahahahah tentu saja pinggir jalan kak... mau ya...? aku pengen lho....... "

__ADS_1


Lily memelas memandang Vendra agar kekasihnya itu mau di ajak makan bakso pinggir jalan.


Terlihat Vendra menghembuskan nafas tanpa menjawab apapun, sebaliknya Lily tersenyum menandakan


dia tahu kalau Vendra menyetujui usulnya makan siang bakso.


Setelah muter, lurus, belok hampir setengah jam akhirnya Vendra berhenti di warung bakso pinggir jalan yang cukup ramai.


" Bungkus saja.... "


Ucap Vendra.


" Ka.... kalau dibungkus tidak enak.. makan sini saja.... "


" Ramai sayang.. kamu yakin...? "


" Namanya juga warung bakso, ya pasti ramai pembeli.... kamu mau kan...? "


" Bungkus aja 2 nanti makan di apartment.... kamu seharian kepanasan.... disana ungkep, pengap... panas.... "


" Yasudah.. aku makan sendiri.. kamu tunggu saja di mobil... "


Lily langsung keluar karena sudah benar-benar kelaparan menunggunya sejam lebih.


Kali ini Vendra diam di dalam mobil sambil melihat ke arah Lily yang memesan ke tukang bakso lalu duduk.


Cukup lama 10 menit ia memantau kekasihnya dari dalam dan masih belum menurunkan egonya untuk makan bersama Lily.


" Dia masih tidak mau turun...? apa dia sudah makan siang...? segitu beratnya buat makan di warung...? hah.... orang kaya.... biarkan saja.. "


Lily menikmati satu gelas es teh yang sudah tersaji di depannya.


Melihat Lily duduk bersebelahan dengan laki-laki yang juga makan disana kakinya langsung tergerak untuk melangkah keluar.


" Benar-benar.... hari ini mungkin sejarah baru untukku....! "


Ucapnya kesal dan berlalu menghampiri Lily.


" Makan pelan saja.... "


" Lho.. kak.. kamu mau makan juga...? "


Lily sekilas tersenyum menatap wajah kekasihnya.


" Aku hannya menemanimu, bagaimana kalau ada orang jahat.... "

__ADS_1


Lily hannya diam menatap Vendra sekali lagi, terlihat ia tersenyum.


Mau tidak mau akhirnya mereka makan bakso berdua di sana.


❤❤❤❤❤❤


" Ka... kita pulang kan...? kok lama.... emangnya mau kemana lagi...? "


" Ada beberapa berkas yang ketinggalan, tak apa kan ikut ke kantor sebentar.... "


" Oh... baiklah.... "


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, Vendra masih sibuk dengan laptopnya, sementara Lily berkali-kali menguap menahan kantuk.


" Ya ampun... aku mengantuk sekali, capek... "


Perlahan ia meluruskan kakinya di sofa dan menaruh ponselnya di meja.


Waktu berjalan begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore.


Vendra berdiri dan berusaha mengajak Lily pulang, namun ia tertegun menatap kekasihnya terlelap di sofa.


" Kecapekan mungkin dia.... "


Vendra menarik kursi kerjanya.


Dengan senyum tipis ia menatap dan membelai wajah mungil Lily.


" Hay baby... kau tidak mau pulang...? "


Lily hannya menggeliat.


Vendra berusaha duduk di sofa dan mengangkat kepala Lily dan menaruhnya di pangkuannya.


" Cantik.... "


Tersenyum sambil membelai lembut pipi Lily.


Sejenak ia melihat bibir ranum tanpa lipstik yang melihatnya saja ia sudah menelan ludahnya.


" Kenapa aku bisa mencintai gadis seperti dia ya...? berbeda.... ya pasti.


Aku ingin tahu Lily, apakah kau mencintaiku...? yang aku tahu selama ini hannya aku yang menyatakan cinta padamu, kau pun tidak pernah menjawabnya.... "


Vendra tetap tersenyum dan mencium kening wanita yang berada di pangkuannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2