BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
DARAH


__ADS_3

Entah sejak kapan mereka saling nyaman hingga terbiasa tidur satu ranjang.


Vendra juga sering merasa rindu setiap kali berpergian untuk mengurus beberapa pekerjaan nya, sementara Lily hatinya sedang bergelut.


Ia berusaha untuk memahami apa yang terjadi diantara mereka maupun hatinya yang kerap merasa rindu bahkan nyaman di pelukan laki-laki yang dulu membelinya 3M.


Ponsel Vendra berdering, layar ponsel menampilkan nama kakaknya.


Mereka yang masih nyenyak tertidur akhirnya terbangun mendengar suara berisik ponsel.


" Kak... ponselmu... "


Ucap Lily.


" Tolong ambilkan.... "


" Siapa..? "


" Kak Rayen... ada apa dia menelfon jam segini...? "


Vendra membuka pintu balkon dan berbicara dengan kakaknya melalui telfon sambil duduk.


" Jam 2, kenapa kak Rayen menelponnya tengah malam...? "


Lily masih diam di atas ranjang, ia mengambil. satu gelas air di sampingnya dan meneguk nya sampai habis.


" Hallo ka... ada apa...??? kau benar-benar tidak kenal waktu, menelfonku jam segini...! "


" Tidak apa-apa, temanku hannya mengundangmu ke ******** besok... apa kau mau datang... ? "


" Gila...!!! kau membangunkanku hannya untuk berkata hal yang tidak penting seperti ini...! "


" Kenapa... besok pasti aku akan bangun siang, bisa-bisa aku lupa, kau datanglah.... "


Vendra merasa sangat kesal dengan tingkah kakaknya malam ini, fikiran nya sudah travelling kemana-mana tapi ternyata yang keluar hannya omongan tidak berfaedah.


" Hey jawab...! "


" Tidak usah berteriak...!! tidurlah.. aku mengantuk...! jangan terlalu banyak minum, itu tidak baik untuk kesehatanmu... "


Vendra tahu kalau Rayen saat ini sedang mabuk, nada bicaranya menunjukkan begitu.


" Tidurlah... jangan lupa datang besok... lagipula kau free bukan..? "


" Ya..."


Ia langsung mematikan ponselnya dan kembali ke kamar untuk tidur.


" Kemana Lily...? "


Melihat tempat tidur tidak ada Lily.


" Merah... ini noda apa..? "


Ia mengerutkan dahinya, hatinya sedang bertanya-tanya noda apa yang ada di seprei nya itu..? .


Brak...


brak...


Vendra berlari ke kamar mandi, ia berfikir kalau Lily terluka dan langsung ke kamat mandi.

__ADS_1


" Lily...! Lily....! kau baik-baik saja..? "


" Iya.. aku baik-baik saja "


Sahut Lily.


" Lily keluarlah... kamu ngapain..? "


" Sebentar ka... "


" Kamu ngapain...? cepatlah keluar...! "


Tak butuh waktu lama Lily keluar dari kamar mandi dengan raut muka datar dan mematung berdiri di depan pintu.


" Kamu kenapa...? ada apa..? kau terluka... ? "


" Ka.. aku baik-baik saja... "


" Tapi darah itu.. mana yang terluka..? tunjukkan padaku... "


Vendra memegang kedua tangan Lily mencemaskan keadaannya.


" Lily...! "


" Maaf... aku tidak sengaja..? katakan dengan jelas, ayo duduklah... "


" Tidak... aku... "


" Ayo duduk dulu...! "


" Ka.. hentikan...! "


" What...? kau membentak ku.. ? "


" Ka.. maaf... "


Vendra hannya diam menatap Lily dari ujung rambut sampai kaki berusaha menemukan apa yang ia cari, namun terlihat jelas kalau tubuh Lily masih utuh dan mulus tanpa goresan apapun.


" Kenapa...? "


Lirih Vendra, ucapannya kali ini membuat hati Lily bergetar setiap kali nada bicaranya begitu pelan dan lembut.


" Ka... aku... "


" Ya.. katakan.. kenapa.. mana yang terluka Lily... jangan membuatku khawatir... "


" Ka... sebenarnya....


aku....


.


.


.


.


aku datang bulan... "


" Datang bulan... ? "

__ADS_1


Ucap balik Vendra.


" Iya, maafkan aku, aku mengotori seprai mu.. aku minta maaf... "


" Huft.... kau membuatku takut.... "


Raut muka terlihat lega sekali.


" Duduklah... "


Ia meminta Lily untuk duduk di kursi.


" Apa kau bawanya...? "


" Tidak... aku lupa kalau ini sudah jatuh waktu aku datang bulan, aku minta maaf... "


" Tak apa, biar aku telfon anak buahku.. duduk dan diam saja... "


Vendra menghubungi anak buahnya namu tidak ada yang mengangkat telfonnya, tentu saja jam segini siapa yang masih bagun dan terjaga.


Lily yang melihat semuanya langsung angkat bicara.


" Ka... tidak perlu... sebentar lagi pagi, aku akan membelinya sendiri... "


" Tidak usah... tunggulah disini, ganti bajumu...... "


" Tapi bajunya semuanya gaun, bagaimana kalau kotor, baju tidur yang satu aku cuci... "


Sahut Lily yang juga kebingungan.


" Sebentar... "


Vendra membuka almarinya dan mengambil satu kemeja yang menurutnya lumayan panjang.


" Pakailah... "


" Tidak ka.. nanti kotor kena noda darah, itu pasti menjijikkan... "


Lily berusaha menolaknya.


" Pakailah... aku bisa membeli 100 kemeja seperti ini.. pakailah... kau masih punya C* kan..? "


Lily hannya mengangguk dan berlalu ke kamar mandi, sementara Vendra pergi keluar untuk membelikannya pembalut.



Sudah setengah jam lebih Vendra belum kembali, Lily yang merasa khawatir mondar mandir kesana kemari menunggu kedatangannya.


Ceklek....


" Cepat pakai... "


Ia menyerahkan satu kantung plastik yang lumayan besar berisi pembalut dengan berbagai merk dan variasinya.


" Ka... "


" Cepat pakai, aku tidak tahu kamu biasanya pakai yang mana, jadi aku membelinya beberapa jenis biar kau bisa memilihnya... "


Lily langsung berlari kecil ke kamar mandi.


" Huft.... sungguh ini hal yang memalukan yang pernah aku lakukan, mamah saja menyuruhku aku tidak mau.

__ADS_1


Bagaimana kalau pegawai kasih tadi mengingatku...? ah... tapi tidak mungkin.. aku memakai masker, topi dan kaca mata, aku yakin dia tidak mengingatku... "


__ADS_2