
Lily sudah tanpa baju dan hannya memakai bra warna hitam, kulit putih dan tubuh yang kecil namun sempurna di mata Vendra.
Ia meraih tangan Vendra dan langsung menaruhnya di pinggang.
Sementara ia langsung memajukan tubuhnya dan bersiap untuk memeluk Vendra.
Deg....
deg...
Jantung Vendra berdetak sangat kencang ketika melihat tingkah lily yang di anggap nya malah terlihat menjijikkan.
" Lily hentikan...! "
Lily kembali meraih tangan kanan Vendra yang sudah menjauh dari tubuhnya.
Ia meletakkan tangan Vendra di atas bra, dan tangan kiri di pipinya.
" Bukankah aku budak mu... jadi lakukan apa yang biasanya kau lakukan bersama wanita-wanita jalang di tempat menjijikkan di luar sana.
Bukankah aku juga kau pungut dari sana, jadi anggap saja aku sama seperti mereka...
Ayo... lakukan tuan Vendra.. yang terhormat "
" Lily hentikan...!!!!! "
" Kenapa...? apa kau tidak menyukainya...? "
Lily sudah memajukan wajahnya dan kini bibir mereka sudah hampir menempel.
" Lakukan...! lakukan seperti kemarin-kemarin yang kau lakukan padaku, kau sudah mencicipi bibirku bukan... "
Air mata sudah mengalir di pipi lily.
Vendra justru semakin merasa tertekan dan tidak nyaman dengan sikap lily yang menggodanya, ia merasa kalau lily menunjukkan dirinya yang selama ini, bahkan itu terasa amat menyakitkan.
" Apa aku serendah ini selama hidupku..?
aku tidak pernah merasa tertampar dengan perlakuan apapun.
Tapi sikap lily hari ini seolah menunjukkan posisiku yang sangat rendah di hadapan wanita.. "
" Lily... lepaskan tanganku...!!! kau jangan bersikap bodoh...! "
" Cepat lakukan apa yang kau mau... "
" Hentikan lily...!!!!!! "
Sementara itu lily masih terus mencoba memegang tangan Vendra untuk diletakkan di pinggang dan lehernya.
" LILY.... HENTIKAN....!!!!!!!!! "
PLAKK.....
Bentakan dan satu tamparan mendarat di pipi lily hingga menimbulkan bekas tangan di pipi kanannya.
" Astaga... lily... maaf... "
__ADS_1
Vendra berusaha memegang pundak dan wajahnya untuk memastikan keadaan lily.
" Lily maafkan aku... aku minta maaf... maafkan aku... "
Vendra langsung memeluk wanita yang sudah memegangi pipinya dan menangis tersedu.
" Lily.. apa yang kau lakukan...!!!
jangan lakukan ini lagi di hadapanku kecuali aku yang menginginkannya...!!!
Kau...
Aku sama sekali tidak memandangmu serendah ini, dan yang kau lakukan ini benar-benar keterlaluan... "
Lily masih dia, ia tidak membalas pelukan Vendra.
Ia kembali menatap wajah lily, matanya sudah sembab.. pipinya merah membekas telapak tangan Vendra.
" Jangan lakukan ini lagi lily... aku mohon... "
" Kau memohon...? "
" Jangan bicara...! "
" Kau menampar ku... "
" Ini pasti sakit... "
" Tidak.... "
" Aku akan mengompresnya... "
Lily meraih tangan Vendra.
" Apa aku terlihat sangat buruk... "
Tanpa mengubris dan menjawab pertanyaan lily, ia memungut kemeja yang tergelerak di lantai.
Vendra memakaikan kembali baju yang tadi di lepas olehnya, kedua mata lily terus memandang ke arah Vendra.
" Kenapa....
kenapa kau bersikap baik dan bahkan sopan padaku... ...? "
" Berhentilah bicara... "
" Jawab aku...! apa statusku di rumah ini, apa...?????
Tolong jangan katakan aku wanita murah yang sudah kau beli dari tempat kotor... "
" Tidak.... aku minta maaf... "
Kini mereka saling menatap.
" Aku memang pria yang buruk di mata orang lily, tapi ntah kenapa aku tidak pernah berniat sedikitpun memperlakukanmu seperti apa yang kau fikirkan.
Aku hannya ingin kau menurut, jangan membantahku...
__ADS_1
Sikapmu ini jujur membuatku merasa aku laki-laki yang sangat rendah di hadapanmu, bukan kau... "
" Aku minta maaf... "
" Jangan lakukan hal bodoh seperti ini... "
Vendra langsung memeluk lily.
" hiks... hiks.... "
" Sudah.. jangan menangis.... "
" Aku harus apa kalau tidak menangis... "
" Yasudah.. menangislah... "
" Aku minta maaf tuan Vendra... aku hannya kesal, aku merasa kau menampung ku disini, kau menganggapku wanita sampah... "
" Tidak.. kenapa. aku harus menganggapmu seperti itu... "
Vendra membelai wajah lily, dan tanpa di duga ia mencium bibir yang membuatnya selalu ingin merasakan rasa manis di sana.
" emmmp.... "
Vendra memeluk lily sangat berat, begitu juga dengan lily yang tangannya sudah memeluk tubuh Vendra.
Kini posisi mereka sudah sama-sama tidur dan berbaring di ranjang, Vendra semakin membrutal dalam mencium lily.
Kini bibirnya sudah beralih ke leher putih milik lily, sentuhan dan hembusan dari Vendra membuat Lily merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Tangannya memegang erat lengan Vendra, sangat erat.
Tanpa sengaja lily mendesah dan membuat gairah Vendra memuncak.
" Akh......... "
Vendra mengangkat tubuh mungil lily berada di pangkuannya, kini dengan leluasa bibirnya sudah menjelajah leher dan dada milik lily hingga membuat suara desahan dari mulut lily berulang kali keluar.
Ada beberapa bekas merah di dada milik lily hingga itu dapat terlihat jelas karena kulitnya yang memang sangat putih.
" Akh... Vendra... hentikan.. kau menggigit ku.. akh.... "
Vendra melihat wajah lily yang sudah kesusahan untuk mengatur nafasnya, wajahnya sudah merah padam karena malu.
" Jangan pernah melakukan hal itu lagi kecuali aku yang memulainya... kau mengerti... "
" Tapi... "
" Lakukan saja.... "
" Kenapa kau menggigit ku lagi...! "
" Aku terbawa suasana lily... apa itu sakit...? "
" Tentu saja... pasti nanti merah... "
Vendra tersenyum kecil, ia sekilas melihat banyak tanda merah yang sudah ia buat di dada mulus milik Lily, belum lagi lehernya yang mungkin ada 4 tanda merah yang sama sekali. lily tidak mengetahuinya.
__ADS_1