BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
KEMBALI


__ADS_3

Sesampainya dirumah Vendra langsung membopong lily dan menidurkan di kamar.


" Maaf.... "


Vendra terlalu sering meminta maaf di depan lily.


" Kalau kau tidak membantah ku dan kabur dari rumah pasti tidak akan seperti ini....! "


Wajahnya terlihat kesal bercampur khawatir, matanya terus menatap lily yang masih terbaring di atas ranjang.


" Kenapa dia gampang sekali pingsan, dasar wanita lemah... "


" Tuan.... "


Lily langsung memeluk Vendra yang tengah duduk disampingnya dan langsung menangis, tubuhnya gemetar mengingat apa yang terjadi tadi.


" Aku.. aku tidak mau kembali ketempat seperti itu.. aku.. akuuu "


"Tenanglah... "


" Kenapa kau menyerahkan ku pada pria itu hiks... hiks... aku tidak akan pergi dari sini, aku janji.. aku bersumpah Demimu tuan... "


" Hey... tenanglah... kau sudah aman.. "


"Aku tidak mau.... "


" Dengarkan aku lily... dengar dan tatap aku..!!! "


Vendra memegang wajah lily. Ia merasa sedikit iba dan kasihan, bagaimanapun semua ini juga karena perbuatannya.


" Kau sudah dirumah.. kau aman... maafkan aku.. aku tidak akan pernah membawamu ketempat terkutuk itu... "


Perlahan ia mengusap air mata lily, wajahnya sangat sendu.


Apalagi matanya merah akibat semalaman ia tidak tidur dan tidak makan.


" Kau belum makan kan..? "


" Sudah.. aku makan roti.. aku tidak lapar.. "


" Aku akan mengambilkan makan untukmu.. "


" Jangan pergi... "


Lily memegang erat tangan Vendra yang sudah turun dari ranjang.


" Tidak... "


Air mata kembali menetes di pipinya.


" Kenapa kau menangis lagi..... "


" Aku takut sendirian... "


Mungkin rasa syogh dan trauma lily yang mengakibatkan sikapnya berubah.


" Aku mohon... jangan tinggalkan aku... "


Dengan tangan gemetar ia mencoba menghentikan langkah Vendra.


" Apa segitu takutnya sampai-sampai ia gemetar seperti ini..


Apa aku sudah keterlaluan padanya..?


tapi aku hannya ingin memberikan pelajaran agar dia kembali kerumah dan tidak pergi dari rumahku... "


Tanpa disadari kini lily terlelap dan tidur di pelukan Vendra, begitu juga dengannya yang ikut tertidur di ranjang yang sama.


" Tuan..... "


Vendra membuka matanya dan menatap raut wajah lily yang sangat jelas.


" Kau sudah bagun.... "


" Maaf... "


" Tak apa.... kau lapar....? akan ku ambilkan makanan... "


" Tuan tidak perlu...


" Jangan panggil aku tuan... itu terdengar tua sekali... "


" Lalu aku harus memanggil apa..? "


" Terserah.. asal jangan tuan.. "

__ADS_1


" Em


.... "


Lily berusaha memundurkan tubuhnya karena ia merasa canggung dekat dengan Vendra apalagi posisinya sekarang ia tertidur di lengan kekar laki-laki yang membuatnya menangis.


" Jangan mundur, kau bisa jatuh.. "


" Aku rasa tidak.... "


" Aku minta maaf... "


Lily hannya dia, ia bingung harus menjawab apa.


Disisi lain memang ia lebih aman dan nyaman berada di rumah Vendra, di sisi lain laki-laki itu juga sudah membuatnya ketakutan dan bahkan ia masih trauma dengan kejadian lalu.


Lily ingin sekali memarahi habis-habisan pria yang ada di depannya, tapi seakan mulutnya tidak mengizinkan ia mengatakan sesuatu ataupun memakinya.


" Tidurlah jika kau mengantuk, aku akan membelikan obat mata untukmu... "


" Terima kasih... "


" Nanti biar bibi yang mengantar makanan ke kamar... "


Laki-laki itu langsung berlalu meninggalkan kamar lily, sementara itu ia masih bingung dengan semua yang dilaluinya hari ini.


Ia melihat ada 2 sisi di dalam diri Vendra, kasar dan baik.


" Aku bingung dengannya...?


dia itu kasar sekali kalau berbicara, tapi kadang ada kelembutan di balik sikapnya.


Ntah aku harus marah atau gimana..?


Sebenarnya kau itu bagaimana si Vendra.


Dan aku...? kenapa bisa aku memohon dan bersumpah untuk tinggal disini... aku benar-benar sudah tidak punya harga diri di matanya... "


Tok..


tok...


" Iya masuk.... "


" Non.... "


Terlihat pelayan itu langsung menutup pintu dan tergesa berjalan ke arahnya.


" Non lily kemana saja...? ya ampun Non... kau tidak tahu kan hampir seisi rumah ini kehilangan pekerjaan....


Untung saja Non lily ditemukan tuan Vendra "


" Apa.. ...????????? kehilangan pekerjaan...?? "


" Iya.. "


Terus pelayan itu menceritakan dengan detail apa yang sudah terjadi di rumah besar itu.


" Bi... maaf... "


" Tidak apa Non, kalau bi Susi ada pasti suasana hati tuan tidak seburuk tadi pagi... "


" Kenapa dia berkata seperti itu... kenapa kalau aku pergi, lagipula aku cuma apa disini bi.. cuma budak nya saja, aku seperti tawanan disini...! "


" Non.. sabar.. jangan bicara seperti itu, tuan baik sebenarnya... hannya saja memang nada bicaranya sedikit kasar... "


" Aku benar-benar tidak menyangka dia setega itu sama kalian... "


" Non.


udah.. jangan di bahas.


Jangan bilang sama tuan ya, bibi mohon... bibi cukup senang Non lily bisa pulang.. "


" Iya bi... sekali lagi aku minta maaf... "


" Iya.. gak apa-apa.. makan ya.. pasti lapar kan semalam juga belum makan.. "


" Iya bi... aku benar-benar lapar sekali... aku tidak punya uang untuk beli makanan juga.. "


Lily menceritakan semua kejadian sejak dia kabur sampai kejadian dimana Vendra membawanya pulang hingga ia harus menjadi tukang cuci piring untuk mendapatkan makan.



Tak lama kemudian Vendra kembali dengan membawa satu bingkisan yang berisi obat tetes mata yang akan ia berikan untuk lily.

__ADS_1


" Apa itu...? "


" Obat untuk matamu..."


" Harusnya tuan tidak mem...


mangsutku...."


Lily ingat kalau ia tidak boleh memanggilnya tuan, karena gugup ia langsung terdiam.


" Panggil saja Vendra...umur kita cuma selisih 7 tahun..."


" Tapi itu terdengar lancang.."


" Kau sudah makan..? "


" Sudah..."


Vendra langsung duduk di ranjang dan mencoba melihat ke arah mata lily.


" Kemari...."


" Aku bisa melakukannya sendiri tuan..."


" Kemari....! "


" Tidak....aku bisa melakukannya sendiri, aku bisa kok..."


Vendra menaikkan kakinya dan memajukan tubuhnya yang kini sudah tepat di depan lily.


" Makanya jangan sok kabur...! "


" Maaf..."


" Lihat ke atas...biar aku teteskan, ini tidak terlalu sakit..."


" Tapi aku..aku...aku gugup..."


" Hannya tetes mata saja kau gugup...? payah sekali..."


" Bukan itu mangsutku...


aku gugup karena kau yang mencoba membantuku, apalagi posisinya berhadapan gini..."


Vendra mendongakkan kepalanya untuk meneteskan obat di kedua mata lily.


" Awh... "


" Perih..? salah sendiri kabur... "


Hembusan nafas lily membuat Vendra memejamkan kedua matanya.


" Jangan lagi Vendra... ingat.. dia cuma wanita rendah yang sudah kamu beli dengan sangat mahal.. "


Namun kenyataannya berbeda, ia menelan slavinanya seperti biasa setiap dekat dengan lily.


" Vendra sudah... "


Untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang memanggilnya namanya dan bahkan dia sendiri yang menyuruhnya.


" Sudah jangan mendongak terus seperti itu "


" Ah.. maaf... "


" Apa kau belum tidur semalaman..? "


" Belum... "


" Jangan berfikir untuk bisa kabur dari rumah ini...! camkan itu baik-baik... "


" Apa aku tidak boleh kalau hannya keluar..? apa kau menjadikanku tawananmu...?


itu tidak adil untukku... "


" Turuti saja perintah ku, semua yang kau perlukan tentu ada disini, jika kau ingin sesuatu bilang saja...! "


" Aku hannya ingin menikmati hidupku... apa itu salah..? aku ingin melihat dunia.. apa itu juga salah..?


Kau mengurung ku..... aku tidak suka itu "


" Kau sudah aku beli jadi ikuti saja perintah tuanmu, kau budak ku...!! "


" Ya... aku budak mu.. lakukan apa saja yang kau mau... apa aku harus melayani mu juga di ranjang... aku akan melakukannya... "


dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Vendra hannya diam, sementara lily sudah berusaha membuka kancing baju di hadapannya.


__ADS_2