BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
MURAH....


__ADS_3

Karena merasa risih dengan apa yang ia alami sekarang, lily mendorong Vendra dan berlari keluar dari kamar itu.


Cek lek.....


Ia sudah masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu dari dalam.


" Awh... apa yang dia lakukan...!


lily... apa yang kau lakukan ini sekali lagi kau membiarkannya menikmati mu. "


Ia langsung duduk di depan meja rias dan memandangi bibirnya yang sudah sedikit bengkak karena ulah Vendra.


Sementara itu di kamarnya sendiri Vendra masih duduk dan berusaha mencerna apa yang sudah ia lakukan pada lily, ini bukanlah dirinya ketika berhadapan dengan seorang wanita.


Apalagi dia sampai meminta maaf di depan lily secara langsung hannya masalah kecil.


" Ada apa denganku...


apa yang aku lakukan, kenapa aku se nafsu itu dengannya.


Bagaimana kalau lily nanti risih terhadapku..?


apa aku tertarik dengannya...?


tapi bukankah aku berhak atas dirinya, dia milikku... aku bahkan membelinya sangat mahal dari Weni... "


Sejujurnya ia malah bingung dengan sikapnya sendiri yang dianggap menurutnya tidaklah wajar.


❤❤❤❤


" Sudah jam 9, perutku lapar sekali... aku belum makan, tapi bagaimana aku bisa turun..? apa kata pelayan dirumah ini melihat bibirku...?


mereka pasti akan berfikiran buruk padaku... "


Lily berjalan menuju ke balkon, sementara itu ia sudah mengganti bajunya dengan pakaian tidur berupa dress kecil yang press body.


Walaupun dia tidak terlalu tinggi kalau dibandingkan dengan Vendra, namun bagi laki-laki yang sekarang sudah merenggut ciuman pertamanya justru berbeda.


Tubuh yang mungil malah membuatnya candu dan bahkan gemas.


" Lily.... "


Kedua mata lily membelalak, ia hafal betul suara siapa ia dengar.


Tubuhnya kini terdiam dan kaku, ia tidak berani untuk membalikkan badannya di hadapan Vendra, apalagi dengan pakaian yang ia kenakan.


" Apa ya g dia lakukan di kamarku...


bagaimana ini...


kenapa dia bisa membuka pintu ku...?


Dan sekarang apa yang akan aku lakukan, lancang sekali dia main masuk kedalam. kamarku... "

__ADS_1


" Lily.... kau mendengarku tidak...? "


" Iya tuan.. ada apa...? "


" Kenapa kau membelakangiku? "


" Tuan maaf... "


" Makanlah, kau belum makan malam bukan..? "


" I... Iyiyaa.... tarus saja di meja tuan... "



Glek....


Vendra menelan slavinanya berkali-kali karena melihat lily dengan baju tidurnya yang sangat minim.


" Tuan pergilah.... "


" Cepat makan... "


Ntah kenapa Vendra malah ingin terus menerus berada di dalam kamar lily.


" Tapi tuan... aku sedang berpakaian kurang bahan malam ini, kau harusnya tidak masuk seenaknya saja seperti ini... "


" Kau memarahiku..?


apa kau mengusir ku...? "


" Tidak...! "


" Cepat... "


Dengan wajah yang sudah memerah karena malu dengan pakaiannya, kini lily berjalan pelan dengan menunduk dan tanpa memperhatikan jalannya.


" Dia terlihat menggemaskan... "


Lily masih berjalan pelan ke arah Vendra dengan sedikit menutup kedua matanya karena menahan malu, namun justru malah ia tertabrak kursi kecil yang berada di depannya yang biasa ia gunakan untuk mengambil buku di rak buku di dalam kamar luasnya.


" Aaaaa..... "


"lily.. awas... "


Vendra menaruh piring di mejanya dan langsung melangkah lebar dan menangkap tubuh mungil lily.


bugh.....


Mereka jatuh di lantai dengan posisi lily berada di atas Vendra.


" Akh.... "


" Taun.... "

__ADS_1


Kedua matanya membulat menatap Vendra dengan rasa takutnya.


" Kau...! kenapa kau jalan dengan cara menunduk...! "


" Tuan maaf... tadi aku sudah menyuruhmu keluar... aku memakai pakaian seperti ini, aku hannya tidak enak... "


" Apa kau fikir aku akan tergoda dengan wanita murah sepertimu... "


Deg....


deg....


Jantung lily tersentak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Vendra.


Ia menyadari kalau tidak sepatutnya ia takut karena menatap lily saja pasti Vendra tidak akan tertarik dengannya.


Tanpa sengaja air matanya jatuh dan tepat mengenai bibir Vendra.


Lily langsung beranjak dari tubuh Vendra dan berlari ke kamar mandi.


Vendra merasakan sesuatu yang menetes di bibirnya bahkan terasa sedikit asin.


Ia memang tidak begitu jelas melihat lily kalau sudah menangis oleh perkataannya karena wajahnya memang tertutup oleh rambutnya.


" Lily tunggu....! "


Vendra merasa bersalah dengan ucapannya, ia merasa takut jika lily memang benar menangis dan terluka oleh apa yang sudah ia katakan.


" Lily... aku minta maaf.. bukan itu mangsutku.."


Terdengar isak tangis yang begitu lirih, Vendra merasa sedikit sesak mendengar tangisan lily.


" Lily... maafkan aku... kau keluarlah.. makanlah makan malammu... "


" hikss.... hiks.... "


" Lily.....maafkan aku... keluarlah "


Lily masih menangis di dalam dengan menutup mulutnya, tangan kirinya memegang dada, hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan yang menyebutnya wanita murah.


" Lily... keluar...!!! "


" Pergilah tuan... aku baik-baik saja.. "


Ucap lily lirih dari balik pintu kamar mandi.


" Aku... aku tidak sengaja.. "


" Pergilah.... "


Vendra masih terdiam di depan pintu, ia merasa sangat menyesal, ada sesuatu yang membuatnya aneh.


Ia merasa kecewa dengan apa yang dilakukan, apalagi mendengar jawaban dari lily yang menyuruhnya untuk pergi.

__ADS_1


" Kenapa rasanya seperti ini...? "



__ADS_2