
" Ka.... "
" Ya...? kau perlu sesuatu...? "
Vendra berdiri dati sofa tempat ia berbaring dan menatap Lily.
" Ka, hujannya lebat banget.... "
" Apa kau kedinginan...? "
" Sedikit..... "
" Aku akan ambilkan selimut.... "
" Kak.... "
" Ya....? "
" Bisakah kau temani aku tidur malam ini...? "
" Tentu saja..... apa kau takut...?
Vendra kini sudah berada di ranjang bersama Lily.
" Kak, temani aku ya.... "
" Kau takut...? tidak akan mati lampu baby.... "
" Ntahlah... aku hannya ingin kau menemaniku..... "
" Tidurlah.... "
Vendra memeluk Lily kedalam pelukannya.
" Makasih.... "
" Itu tidak perlu kau ucapkan... "
" Kau ini.... apa kau akan mengantarku besok...... ? "
" Tentu saja.... kau tahu rumah Mellanie...? "
" Aku belum pernah kesana si... tapi nanti aku tanya sama dia.... "
Lily sejenak memejamkan kedua matanya, menikmati harumnya tubuh Vendra yang benar-benar membuatnya nyaman.
" Tidurlah.... "
" Kau juga tidur... ini sudah jam 11 malam kak...... "
" Kak... apa kau benar-benar menyayangiku...? "
" Pertanyaan macam apa itu...? "
Vendra melihat ke arah Lily yang memejamkan matanya sambil tersenyum.
" Aku bertanya... apa tidak boleh...? "
" Kau pasti sudah tahu jawabannya... kenapa menanyakan hal seperti itu.... "
" Aku ingin mendengarnya.... "
" Tidak....! "
" Tidak...? "
Lily terkejut dan membulatkan matanya.
" Ya.... Tidak.... "
" Oh... aku kira kau benar-benar menyayangiku kak.... ternyata aku keliru... "
Dengan gerakan cepat Vendra mengunci kedua tangan Lily hingga posisi saat ini membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang.
" Kak...! apa-apaan sih... "
" Kamu itu kenapa...! kau menanyakan hal yang konyol berulang kali padaku.... "
" Emang tidak boleh...? "
__ADS_1
" Bukan tidak boleh..... kau kan tahu aku menyayangimu Lily.... bahkan aku mencintaimu gadis kecil.
Tapi sepertinya hannya aku, apa mungkin cintaku bertepuk sebelah tangan...? "
Menatap Lily dalam-dalam.
" Kak... kenapa kau bilang begitu.... "
" Ya... mau gimana..? kau saja tidak pernah bilang bahwa kau mencintaiku...? "
Godanya.
" Bukan begitu ka... kenapa kau malah menilai ku sesukamu...? "
" Terus... ? "
Mereka saling menatap, Vendra menunggu kata-kata yang sangat ingin ia dengar dari mulut kekasihnya, sementara Lily ingin berteriak kalau ia menyayangi Vendra namun hannya ada di fikirannya saja.
" Ah... sudahlah.... aku yang terlalu berharap lebih.... "
Vendra langsung berbaring ke posisi semula dan memeluk Lily.
" Tidurlah.... "
Lily hannya diam, terdapat perasaan tidak enak bahkan merasa tersiksa dengan apa yang dia alami saat ini.
Kenapa ia tidak bisa mengatakannya dengan mudah...? itu yang memenuhi otaknya.
" Kak.... "
" Tidurlah.... "
" Kak..... "
" Iya... tidurlah... tidak usah kamu fikirkan lagi soal tadi... "
" Aku..... "
" Aku.... "
Vendra hannya diam sambil memejamkan kedua matanya yang memang sebenarnya ia sudah sangat lelah dan mengantuk.
" Kak.... "
" Maaf... "
" Untuk apa....? tidurlah... aku juga mengantuk...tidurlah sayang.... "
" Kak... aku ingin mengatakan sesuatu.... "
Lily menatap wajah Vendra.
" Katakan saja... "
Masih memejamkan matanya.
" Kak.... aku......
.
.
.
aku mencintaimu..... "
Vendra tersenyum puas mendengar jawaban dari Lily hannya saja ia masih pura-pura memejamkan matanya.
" Kak....? kau sudah tidur....? "
Lily memang mengira Vendra sudah tidur, hadi ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan memilih untuk mendekat ke pelukan Vendra.
" Apa sesulit itu untuk mengatakannya.... "
Vendra tersenyum sambil menatap Lily.
" Kau... kau belum tidur...? "
" Tentu saja.. mana mungkin aku tidur sebelum kau bermimpi...? "
__ADS_1
Lily menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
" Sering-seringlah mengatakan itu padaku... kau tahu.... aku merasakan hal berbeda ketika aku mendengar ucapan itu darimu Lily.
Hatiku berbunga-bunga.... "
" Berbunga-bunga....? hahahahaha sungguh...? "
" Iya.... kau tak percaya, lihatlah wajahku... kau akan menemukan kecerahan di wajahku pasti.... "
" Coba aku lihat... "
Lily tertawa menatap Vendra.
" Kau bahkan sangat tampan.... "
Pujinya lagi.
" Aku tahu..... "
" Kenapa. kau bisa menyukai gadis sepertiku... aku yakin banyak wanita yang mengejarmu di luar sana... "
" Ntahlah.. aku tidak tahu... "
" Ish.. kau ini mana mungkin tidak tahu.... "
"Aku tidak peduli.... "
" Kau benar-benar ya.... "
" Berjanjilah padaku... "
" Apa...? "
" Bisakah kau jangan pernah meninggalkanku.... bilang lah pada semua temanmu kalau kau sudah mempunyai tunangan.... "
" Kenapa...? "
" Kau keberatan...? "
" Bukan begitu kak... tapi kenapa coba...? "
" Aku tahu banyak hal sayang, siapapun pasti akan terpikat padamu... walaupun kau berdandan simpel.
Kau hannya perlu mengatakan iyu saja, aku tidak ingin berbagi dirimu dengan siapapun, dan aku tidak mau ada orang lain yang mendekati wanitaku.
Ya, sekalipun aku tahu... kau belum siap jika aku mempublikasikan hubungan kita bukan...? lagipula itu juga terlaku beresiko untukmu... "
Ucap Vendra.
" Beresiko...? maksudnya...? "
" Kau tidak perlu mencari tahu maksud dari perkataanku.... turuti saja... "
" Tapi bagaimana kalau orang-orang tanya siapa kekasihku...? "
" Jawab saja dia laki-laki pekerja keras yang sedang bekerja merantau untuk meminangmu.... "
" Ish.. kau ini benar-benar lucu... kau konyol.. "
" Jangan pernah bongkar identitas ku... kau paham...? "
" Terserah kau saja.... "
" Tidurlah.... ini sudah jam 12 lebih sayang... tidur... tidak baik untuk kesehatanmu nanti.. "
" Iya.... apa kau bisa memelukku... "
" Tentu saja... lebih dari itu aku juga akan melakukannya dengan senang hati.... "
Lily tahu apa maksud dari perkataan Vendra barusan, ia cukup paham betul.
Bagaimanapun hubungan mereka terbilang sedikit rumit, ia juga belum pernah bertemu dengan ayahnya.
Dan untuk soal menyembunyikan identitas Vendra, bagi Lily tidak masalah.
Terlalu berat juga jika seluruh dunia tahu kalau dirinya adalah kekasih seorang Vendra yang bahkan namanya sangat familiar di seluruh dunia bisnis.
Bagaimana nanti ia harus mempersiapkan dirinya....? bahkan untuk menghadapi berbagai pertanyaan sudah pasti sangat sulit bagi Lily.
__ADS_1