
Pukul 8 malam.
Rayen dan Lily terlihat memasuki rumah, terlihat Vendra duduk di ruang tengah dengan memegang laptopnya.
" Darimana saja kau...? "
" Aku mengajak Lily jalan-jalan, lagipula kau juga sibuk kan...? jadi jangan bertanya lagi "
Jawab Rayen.
" Aku bertanya padanya... bukan padamu "
Ketus Vendra.
" Kenapa kau sewot, lagipula aku sudah menjawabnya, jangan bikin keributan malam. ini... "
" Harusnya bilang kalau pergi...! "
" Tuan itu.. tadi aku... "
Jawab Lily gugup.
" Masuk ke kamarmu Lily, kau pasti capek... "
" Tapi kak... "
" Masuk saja... "
Rayen berusaha menyelamatkan Lily dari pertanyaan dan amukan Vendra.
" Hey....berhenti....!!! "
" Vendra...! "
" Ka.. pergilah... "
" Jangan seperti itu, dia seorang perempuan.. bicaralah yang baik jangan berteriak... "
Lily sudah gemetar dan terdiam karena suara Vendra yang terdengar sangat nyaring.
" Pergilah kak... aku sedang bicara padanya... "
" Tapi bisa dengan nada yang lebih rendah, jangan seperti itu.
Kamu berteriak dirumah mau apa..? norak sekali "
" Apanya yang norak..? ini rumahku jadi terserah diriku.. pergilah..! bosan aku melihatmu.... "
Rayen hannya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap aneh dan kekanak-kanakan yang ditunjukkan adiknya.
" Naiklah.... jagan hiraukan dia... "
" Tapi ka.... "
" Sudah.. ayo naik... "
Rayen berusaha membuntuti dan menemani Lily menuju ke kamarnya.
" Berhenti Lily....!!!!! "
__ADS_1
Teriakan itu terdengar lagi, Lily menoleh melihat ke arah Vendra tapi Rayen langsung mengajak ngobrol dirinya agar tidak merasa takut.
" Kurang ajar sekali dia, aku memanggilnya tapi dia malah mengacuhkan orang yang telah menyelamatkan hidupnya, dasar tidak tahu terima kasih...!!! "
Vendra langsung menutup laptopnya dan segera pergi menuju ke kamarnya.
" Awas saja... aku akan beri pelajaran untuk wanita itu....!!! "
Ia meletakkan ponsel dan laptopnya di meja, kemudian merebahkan badannya di ranjang besar miliknya.
" Pergi kemana mereka seharian ini...? dan apa yang mereka lakukan..?
Apa jangan-jangan kakak sudah menggoda wanita itu sampai-sampai berani melawanku..? kemana mereka sebenarnya...? sungguh ini membuatku pusing...!! "
Banyak pertanyaan yang melintas di fikiran Vendra, ia seperti ingin melarang Lily dekat dengan kakaknya ataupun pergi bersama kakaknya.
Rayen juga langsung membersihkan dirinya di kamar karena ia harus pergi lagi bersama temannya malam ini.
Ia tidak melewatkan hari ini untuk pergi berjalan-jalan, pagi dengan Lily dan malamnya dengan teman-temannya dulu.
Sementara Lily juga selepas mandi langsung rebahan di ranjang, ia masih merasa takut bagaimana nanti harus menghadapi Vendra.
Ia masih ingat betul waktu laki-laki itu menyeretnya ke club karena sudah membuat Vendra kesel.
" Sungguh... jangan sampai dia menyeret ku ke tempat kotor itu lagi, sungguh aku benar-benar takut.
Dia sampai berteriak tadi, dan dia juga berani sama kakaknya sendiri, adik macam apa dia..? tidak tahu sopan santun apalagi sama perempuan... "
" Kau mengutukku...!!! "
Lily langsung berbalik dan terkejut melihat laki-laki tinggi sudah berdiri di pintu balkon dekat tempat tidurnya.
" AaaaaaAaaa...... "
Vendra dengan cepat langsung membungkam mulut Lily hingga membuat mereka terjatuh di atas ranjang dan posisinya tepat di atas Lily.
" Emmmmm... emm.. emmm... "
Lily berusaha berteriak namun tangan Vendra masih membungkam mulutnya.
" Jangan berteriak...! "
Ia melepaskan tangannya dan melihat Lily langsung mengambil nafas dalam-dalam, wajahnya terlihat sangat merah.
" Kau..!! "
" Kenapa...? "
" Darimana... maksud ku kau masuk dari mana..? "
" Tentu saja balkon... "
" Kau melompat...? "
" Terbang... untuk apa melompat... "
" Tuan.. kau bisa jatuh, apa yang ada di fikiranmu sebenarnya...? kau bisa datang mengetuk pintuku itu lebih baik... "
" Ini rumah siapa...? "
__ADS_1
" Tentu saja rumahmu... aku dan semua orang tahu... kau menanyakan hal konyol... "
" Diam...! "
" Ada apa..? apa ada yang bisa saya lakukan tuan Vendra "
" Jangan panggil aku tuan sudah aku bilang kan..!! "
" Baiklah... lalu apa..? "
" Seperti kemarin.. "
" Kak..? "
" Ya... itu lebih baik... "
" Ada perlu apa..? apa kau butuh sesuatu..? "
" Tidak...!!! kau banyak sekali bertanya... "
" Maaf... tolong lepaskan tanganmu dari pinggangku... "
" Tidak sengaja... "
" Iya aku tahu... "
" Pergi kemana kau seharian..? "
" Tadi kan kak Rayen sudah menjelaskan padamu... "
" Aku bertanya padamu ... "
" Cuma jalan keliling kota... "
" Terus...? "
" Makan.... "
" Terus...? "
" Tentu saja pulang... kenapa kau bertanya terus... pergilah tidur... aku juga sudah mengantuk... "
" Kau ini seenaknya saja menyuruh ku... "
" Tapi ini sudah jam 9 lebih tuan... besok anada masih banyak kerjaan atau ke kantor bukan..? "
" Kau bilang apa...?!!! "
" Kakak Vendra... "
" Aku tidak percaya kau pergi jalan-jalan saja..? kemana kakak membawamu..? "
" Aku kan sudah bilang.... kenapa bertanya terus.... "
" Benarkah...? "
" Ya.... "
Vendra melihat sudut bibir Lily yang terluka, ia langsung berfikir terlalu jauh kalau itu perbuatan kakaknya hinggan menggigit bibir Lily.
__ADS_1
Tidak ada angin tidak ada hujan Vendra langsung pergi dan kembali kamarnya tanpa bicara apapun hingga menutup pintu sangat kencang membuat Lily kaget sekaligus bingung.