Celana merah jambu

Celana merah jambu
PMS


__ADS_3

Laporan hasil audit Alya pada bosnya berjalan lancar tanpa kendala, namun entah mengapa hati Alya masih terasa dongkol akibat ulah tak bertanggung jawab Utari, apalagi ponsel Utari tidak bisa di hubunginya, membuat hati Alya semakin kesal di buatnya, dia akhirnya mutuskan untuk mampir ke rumah kontrakan Utari untuk menyelesaikan masalah ini, Alya juga tak mau jika Utari semakin seenaknya dalam bekerja dan dia semakin berlarut-larut merasakan kekesalan pada Utari yang sudah di anggapnya sebagai teman dekat itu, bukan berarti karena kedekatan mereka lantas Utari jadi menyepelekan pekerjaan dan dirinya, bukan?


Alya melajukan mobilnya menuju ke rumah kontrakan Utari, butuh waktu sekitar kurang dari satu jam saja dia sudah sampai di area rumah kontrakan Utari.


Namun Alya mendadak menginjak pedal remnya secara tiba-tiba begitu mobilnya berada di dekat gang masuk ke rumah kontrakan Utari, rumah sahabatnya itu memang berada di dalam gang, dan harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke rumahnya setelah memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya, hanya saja yang membuat Alya kaget saat ini, karena tepat di mulut gang menuju rumah Utari, dia melihat mobil suaminya terparkir, bahkan dia melihat suaminya keluar dari gang itu bersama seorang wanita muda, entah siapa wanita muda itu, namun sepertinya dia tidak ikut masuk ke dalam mobil Ivan, wanita itu hanya mengantarkan Ivan saja sampai masuk kr dalam mobil lalu pergi begitu saja.


Entah apa hubungan Ivan dengan wanita yang Alya sendiri baru melihatnya itu, namun dari gesture tang mereka perlihatkan mereka cukup akrab satu sama lain, tentu saja hal ini membuat Alya terpaksa harus menambah daftar 'tersangka' selingkuhan Ivan selain Kartika yang sampai kemarin masih menjadi kandidat terkuat, namun setelah melihat pemandangan ini, hati Alya kembali goyah, ada kandidat lain yang harus dia selidiki lagi.


Oh, betapa lelahnya menjadi Alya, setelah lelah seharian mengerjakan tugas kantor, masih harus menjadi 'detektif dadakan' demi menyelidiki pemilik ****** ***** berwarna merah jambu yang dia temukan beberapa hari yang lalu itu.


Alya meraih ponselnya dan menghubungi Ivan segera.


"Kamu di mana Van?" Tanya Alya tanpa basa basi, matanya masih bisa melihat belakang mobil Ivan yang semakin menjauh dari pandangannya, dia hanya ingin tau jawaban apa yang Ivan berikan padanya.


"Di kantor, ini baru mau siap-siap pulang," jawabnya tanpa dosa dan tapa curiga kalau ternyata Alya memperhatikan nya dari kejauhan.


"Oh, masih di kantor ya, oke deh, sampai jumpa di rumah, aku juga udah mau pulang." Kata Alya, mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Utari di kontrakannya, karena moodnya sudah semakin acak-acakan setelah melihat Ivan bersama seorang wanita asing barusan, meskipun tidak ada gerakan spesifik yang Alya lihat seperti pelukan atau ciuman dari tindakan mereka, namun tetap saja iti mengganggu pikirannya, apalagi dengan deretan catatan hitam Ivan yang kini di kantongi Alya, tentu saja semua tindakan Ivan sudah tak ada baiknya lagi di mata Alya.


Namun tak lama setelah nya, saat Alya baru saja hendak meninggalkan tempat itu, Utari terlihat keluar dari mulut gang yang tadi Ivan lewati dengan wanita muda itu, di belakangnya juga terlihat ada beberapa orang pria yang berjalan seperti mengangkut barang-barang.


"Tar, mau kemana?" Seru Alya setelah kembali mematikan mesin mobilnya dan berjalan menuju mulut gang dimana Utari berdiri sambil menggendong putrinya yang berusia 5 tahunan dan sebuah koper besar yang di geretnya.


"Ah Al, sorry banget ya aku gak balik ke kantor lagi tadi siang, karena aku harus pindahan rumah, aku gak sempet izin kamu karena sangat mendadak, tapi aku sudah izin Pak Joko tadi." Utari menyebut nama pimpinan tertinggi di divisi tempat mereka bernaung, namun wajah kaget dan tegangnya tidak bisa dia sembunyikan dari Alya saat itu, dia juga terlihat gugup, mungkin karena merasa bersalah atas pekerjaan yang dia tinggalkan hari ini.

__ADS_1


Ada rasa kecewa dan gondok juga di hati Alya, kenapa Utari harus mita izin pada Direktur keuangan, tentu saja dia merasa di langkahi, karena logikanya selain mereka berdua cukup dekat, bukankah seharusnya Utari meminta izin padanya, karena Alya atasan langsung Utari? Kenapa harus meminta izin ke atasan Alya?


Untungnya Alya masihbbisa berpikiran jernih dan tak sampai terbawa emosi saat itu, dia sadar kalau saat ini dirinya sedang di terpa banyak masalah, mungkin akan menimbulkan masalah baru jika dirinya membahas tentang masalah pekerjaan pada Utari, apalagi waktunya juga sepertinya kurang tepat, karena Utari terlihat seperti benar-benar sedang sibuk karena acara pindahannya itu.


"Kamu pindahan? Kok mendadak, pindah kemana?" Tanya Alya, selama ini Utari sering menceritakan tentang hidupnya, tentang kekasihnya, tentang anaknya, namun tak sekalipu dia bercerita kalau dia akan pindah rumah, padahal biasanya, apapun dia ceritakan padanya.


"Iya, aku pindah ke Sektor 3," Jawab Utari, masih terlihat gugup dan serba salah.


"Lha, deket sama perumahan ku dong?" Ujar Alya, karena memang alamat yang di sebutkan Utari hanya sekitar sepuluh menit dari tempat tinggalnya.


"iya, biar deket sama sekolahan Lea."Utari mengelus kepala putri kecilnya yang berada dalam gendongannya.


Alya mengangguk, "Ayo bareng sekalian aku pulang, kita sejalan, kebetulan aku juga pengen lihat rumah baru mu!" Ajak Alya.


"Ah tidak usah, aku masih harus menunggu mobil pengangkut barang datang, nanti kalau sudah beres, aku undang kamu ke kontrakan baru ku." Tolak Utari.


***


"Apa kamu siap jika menjadi simpanan selamanya? Atau kalau di nikah juga jadi istri ke dua, itu resiko punya pacar suami orang."


Suara Ivan samar-samar terdengar darj balik tembok dapur, panras saja sesampainya di rumah Alya merasa keadaan sangat sepi, rupanya Ivan sedang mengobrol di dapur dengan Fitri.


Alya mengernyit dan mengingat-ingat lagi apa yang baru saja di ucapkan Ivan pada Fitri, simpanan? Istri kedua? Suami orang?

__ADS_1


Otak kecurigaan Alya kembali merinta-ronta, kenapa sekarang malah dirinya curiga sepenuhnya pada Fitri asisten rumah tangganya yang masih berusia 19 tahun itu.


Alya meraba wajahnya perlahan, kulitnya masih terasa kenyal, tak ada keriput sedikitpun karena usianya juga kini baru dua puluh lima tahun, apa Ivan melihat dirinya sudah sangat tua, sehingga dia memilih selingkuh dengan Fitri yang usianya masih belasan itu.


"Jadi simpanan siapa kamu Fit? Suami siapa yang kau goda dan kau pacari, hemh?" Mata Alya membelalak menunggi jawaban dari mulut Fitri yang seolah- olah mendadak menjadi gagu, Gadis kecil itu malah terlihat tampak ketakutan, sehingga bibirnya seperti tak sanggup lagi untuk berkata-kata sekedar menjelĂ skaan atau mrlakukan pembelaan diri.


"Ah, kamu sudah pulang, sayang? Anu, itu tadi kita cuma lagi nanggepin cerita sinetron yang tadi di tonton Fitri, tentang wanita yang di jadiin selingkuhan gitu, terus aku iseng tanya sama Fitri, kalau dia jadi wanita yang di sinetron itu, cuma bercandaan, kok." Tepis Ivan, dia menjelaskan dengan sangat santai agar Alya tidak salah tangkap dengan apa yang sedang mereka bahas sebelum menyadari keberadaan Alya di sana.


"Fit, kamu masih muda, wajah mu juga tidak jelek, sebaiknya jauhi yang namanya membuat komitmen dengan pria beristri, akan fatal nantinya, jangan hancurkan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan mu sendiri, karena bahagia harusnya tidak menyakiti siapapun." Tegas Alya, kali ini dia tidak ingin menahan diri lagi untuk tidak mengeluarkan unek-unek dalam hatinya itu.


Mendapat omelan seperti itu, Fitri hanya bisa menunduk dan tak berani menjawab ucapan Alya, mengangkat wajahnya sedikit pun, Fitri terlihat sangat ketakutan pada Alya.


"Oh sayang, kenapa jadi serius gini sih, ini kan kita cuma lagi review sinetron aja. Ayo naik, mandi dan makan malam, Fitri udah masakin makanan ksesukaan mu lho!" Goda Ivan, seraya menjawil dagu lancip Istrinya yang tampak menggemaskan di matanya saat sedang dalam keadaan marah seperti itu.


"Fit, ingat, tidak ada kebahagiaan yang di dapat dari hasil menyengsarakan dan air mata orang lain," kata Alya seolah belum puas mengungkapkan semua kata-kata yang ingin dia buncahkan malam itu, namun sayangnya Ivan menarik paksa tangan Alya agar segera naik ke kamar mereka agar Alya tidak semakin marah.


"Kamu lagi PMS ya, sayang? Kayaknya bete banget?" Seloroh Ivan.


"Iya, lagi PMS, Pengen Mukul Suami, kaya kamu ini" Ketus Alya menghentakkan tangannya sehingga terlepas dari cekalan tangan Ivan yang sejak tadi memaksanya untuk meninggalkan dapur dengan menggeret paksa tangan istrinya itu.


"Kok jadi aku, sih!" Protes Ivan.


"Aku gak salah apa-apa malah kena imbasnya!" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Pede amat, gak merasa salah!" Cebik Alya.


"Jalan-jalan aja yuk, ke mana kek, mumpung weekend, biar kamu gak bete gitu!" Ajak Ivan, berusaha merayu dan menyogok istrinya yang sedang marah tanpa dia tahu kenapa sebabnya.


__ADS_2