Celana merah jambu

Celana merah jambu
Mari kita coba


__ADS_3

"Ayo pergi, untuk apa bersimpati pada keluarga yang selalu menganggap diri mereka selalu benar dan selalu mencari cari kesalahan orang lain tanpa mau mengintrospeksi diri mereka sendiri, biarlkan mereka memanen buah dari apa yang mereka tanam selama ini, kau tak perlu menaruh simpati pada orang-orang seperti ini, karena mereka tidak layak mendapatkannya!" Ujar Marcel sambil menarik paksa tangan Alya untuk pergi dari tempat itu, jujur saja hati Marcel juga merasa sedikit kesal karena merasa kalau Alya masih saja menaruh perhatian pada keluarga mantan suaminya itu.


"Pak, lepaskan tangan saya." Ujar Alya seraya menarik tangannya dari cekalan Marcel yang terus menarik dirinya semakin menjauh dari keluarga besar Ivan.


"Kenapa? Apa kau sengaja kembali ke sana untuk menunjukkan rasa simpati mu lalu membiarkan mereka menghina dan mencaci mu? Se-begitu cintanya kah kau pada mantan suami mu itu sampai-sampai kau harus mengorbankan diri sejauh itu?" Marcel tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kesal pada Alya, apalagi jika dia mulai mempercayai asumsinya sendiri kalau Alya sebenarnya masih sangat mencintai dan peduli pada mantan suaminnya itu.


"Saya hanya---hanya---" Justru Alya juga tidak bisa menemukan alasan mengapa dia melakukan hal itu.


"Buka mata mu, mereka sudah bukan bagian dari hidup mu lagi, mereka hanya masa lalu yang sudah membuat mu menderita, dan kini mereka masih saja ingin berusaha menyakiti mu, dan kamu masih saja peduli pada mereka? Lantas apa namanya jika itu bukan di namakan masih cinta?" Marcel berapi-api.


"Kenapa bapak repot-repot dan ikut campur dengan masalah saya?" Tersulut emosi Alya akhirnya ikut menaikan volume suaranya pada Marcel.


"Karena aku peduli pada mu, karena aku-- mencintai mu!" Tegas Marcel akhirnya.


Alya terdiam, meski ungkapan perasaan Marcel ini bukan yang pertama kali dia dengar, namun tetap saja, setiap pria itu mengungkapkan perasaannya padanya membuat jantung Alya berdegup sangat kencang, dan sukses membuat Alya serba salah, sehingga saat Marcel menarik dan membawanya masuk ke dalam mobilnya Alya hanya bisa pasrah dan mengikutinya dengan patuh.


"Tolong jangan rendahkan diri mu sendiri, dan jangan biarkan diri mu di sakiti oleh orang lain, karena aku akan ikut merasakan sakit juga." Ujar Marcel yang kini sudah mulai bisa mengontrol emosinya dan mulai berbicara dengan nada yang tidak tinggi lagi.


"Maaf, anda tidak harus merasakan hal itu untuk saya," lirih Alya.


"Aku tidak akan merasakan hal itu jika aku tidak mencintai mu, jika aku todak peduli pada mu, apa kamu benar-benar tidak punya perasaan sedikit pun untuk ku? Alya,,, aku mencintai mu, izinkan aku melindungi mu mendampingi mu, tolong beri aku kesempatan untuk melakukan itu semua pada mu, ku mohon." Marcel meraih kedua tangan Alya dan membawanya ke dadanya, matanya menatap dengan tatapan penuh cinta dan penuh harap Alya akan membalas perasaannya.


"Tapi---" ujar alya terlihat ragu.


"Aku sudah berpisah dengan Sita, kami sudah sama-sama menanda tangani surat kesepakatan untuk pisah, dan untuk legalitasnya Sita sedang mengurusnya, kamu tidak menyalahi atau menghianati siapapun." Terang Marcel yang seperti tahu apa yang menjadi kendala dalam diri Alya.


"Saya tahu," cicit Alya pelan.


"Kamu tau?" Kaget Marcel yang sama sekali tidak menangka jika Alya ternyata mengetahui masalah perpisahan dirinya dan Sita.

__ADS_1


"Hmm, istri anda memberi tahu saya saat dia meminta saya untuk menerima cinta anda." Kata Alya.


Ucapan Alya itu tak ayal membuat Marcel merasa bingung dengan maksud dan tujuan Sita melakukan semua itu, benarkah Sita tulus ingin meminta hal itu pada Alya atau ada niat lain yang terselubung di balik sikap baiknya itu.


"Sita? Meminta mu untuk melakukan itu?"


"Iya, Bu Sita meminta saya untuk menggantikan posisinya menjadi pendamping anda," Alya meyakinkan ucapannya.


"Lantas kamu jawab apa?" Marcel penasaran.


"Saya tidak menjawab apa-apa," jawab Alya seraya menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa sangat berat.


"Baiklah, aku tau sekarang, mungkin memang benar apa yang pernah di sampaikan Sita pada ku, jika aku tak bisa menghalal kan mu, maka aku harus mengikhlaskan mu, sepertinya perasaan ini hanya milik ku seorang diri saja dankamu tidak pernah mempunyai peraasaan apapun pada ku, aku mengerti, aku tidak akan memaksakan perasaan ku pada mu lagi, dan aku juga akan berbicara pada Sita untuk tidak memaksa mu." Marcel melepaskan genggaman tangannya yang bertaut dengan tangan Alya, dia merasa kalau Alya tidak menyimpan perasaan apapun pada dirinya dan dia harus mulai mengikhlaskan nya.


"Bukan seperti itu saya hanya merasa takut jika saya nantinya malah akan memberi anda banyak masalah, saya tidak ingin membebani hidup orang lain dengan permasalahan saya yang tidak sederhana ini." Entah mengapa Alya seperti merasa tidak rela jika Marcel harus menyerah begitu saja, dia hanya bingung bagaimana harus menjawab perasaan Marcel.


Terlebih saat dirinya mengingat kembali surat yang pernah di perlihatkan Sita padanya, jujur saja hal itu membuat Alya sulit untuk menolak permintaan Sita, namun juga bingung harus memulainya dari mana dengan Marcel.


Bukankah begitu biasanya para wanita menolak secara halus pernyataan cinta pria, 'maaf aku tak bisa karena kamu terlalu baik', atau alasan yang persisi Alya utarakan padanya tadi, takut membebani atau apalah, omong kosong, intinya penolakan! Gerutu Marcel dalam batinnya.


"Pak Marcel," panggil Alya.


Marcel menoleh ke arah Alya, kebetulan mobil yang di kemudikannya sedang berhenti karena lampu merah.


Cup!


Tanpa basa-basi dan ucapan apapun Alya tiba-tiba mengecup pipi Marcel yang sontak saja langsung terdiam mematung seakan tergugu dengan apa yang baru saja di alaminya, sungguh dia tidak menyangka jika Alya yang menurutnya sejak tadi hanya mencari-cari alasan untuk menolak pernyataan cintanya itu tiba-tiba mencium pipinya.


Jangan tanya bagaimana rasanya, saat ini Marcel merasa ada taman bunga yang sedang bermekaran di dadanya, bahkan otaknya pun seakan berhenti sejenak tidak bisa berpikir apapun, dunianya seakan berhenti berputar untuk beberapa saat.

__ADS_1


Tin....Tinn!


Suara klakson mobil dari belakang bersahutan dan menyadarkan Marcel kalau lampu hijau sudah menyala sejak beberapa detik yang lalu, namun dirinya masih terbengong dengan wajah bodohnya dan pipi yang rasa-rasanya tak ingin dia lap apalagi dia cuci agar rasa bibir Alya yang tadi sempat bersentuhan dengan pipinya tidak hilang jejaknya, se-lebay itu memang Marcel saking bahagianya.


Marcel masih terdiam dan seolah masih syok dengan apa yang baru saja dia alami.


"Maaf, apa anda marah pada saya, karena saya sudah begitu lancang tadi, pak?" Tanya Alya karena merasa Marcel kini berubah menjadi sangat pendiam.


"T-tidak, aku tidak marah, aku hanya tidak percaya kalau kamu mencium ku, meskipu aku tak tau alasannya kenapa kamu tiba-tiba mencium ku." Kata Marcel tidak ingin Alya salah paham dengan sikap diam nya.


"Pak, mari kita coba!" Kata Alya terdengar ragu-ragu dan takut.


"Coba? Apa yang harus kita coba? Aku tidak mengerti maksud mu." Marcel mengernyit, dia memang benar-benar tidak mengerti apa maksud dari ucapan Alya padanya itu, apa yang harus di coba?


"Mari kita coba mulai menjalani hubungan." Kata Alya meski pelan namun terdengar jelas di telinga Marcel.


Ciiiitttt,,,,,


Seketika Marcel menginjak rem sekuatnya setelah dia mencoba menepikan kendaraannya, dia sungguh sangat kaget mendengar perkataan Alya, baru beberapa menit yang lalu dia di kagetkan dengan ciuman tiba-tiba Alya di pipinya, dan kini dia lebih di kagetkan lagi dengan perkataan Alya yang meminta nya untuk mencoba menjalani hubungan di antara mereka, Marcel bak mendapat durian runtuh rasanya, dia sungguh sangat bahagia dan ingin lebih meyakinkan kalau ini kenyataan dan bukanlah mimpinya saja.


"Alya, apa kamu sadar dengan apa yang sudah kamu katakan tadi? Apa kamu bersungguh-sungguh mengatakan itu semua? Kamu tidak sedang membohongi ku, kan?" Cecar Marcel.


"Saya sadar dan saya bersungguh-sungguh pak." Tegas Alya.


Marcel membuka seatbeltnya dan langsung memeluk wanita yang duduk di samping kirinya itu, betapa kini dirinya sangat bahagia, bahkan dia merasa kalau memiliki Alya adalah saat-saat paling membahagiakan di sepanjang hidupnya setelah dia berbahagia karena memiliki Daniel beberapa bulan yang lalu, ingin rasanya dia menghentikan waktu agar hidupnya terasa sangat bahagia selalu karena berhasil memiliki dua orang paling penting dalam hidupnya.


"Alya, terimakasih. Terimakasih karena kamu akhirnya mengizinkan aku untuk menjadikan mu bagian terpenting dari hidup ku," bisik Marcel dari balik punggung Alya dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.


"Sama-sama Pak, terimakasih juga karena bapak selalu ada dan menjadi penolong di saat-saat terberat hidup saya." Balas Alya.

__ADS_1


"Alya, sampai kapan kamu akan berbicara begitu formal dengan kekasih mu ini? Dan tolong, berhenti memanggil ku dengan sebutan Bapak, aku kekasih mu bukan Bapak mu!" Ujar Marcel yang justru memancing gelak tawa keduanya.


***


__ADS_2