
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih sepuluh menit, namun Alya belum juga sampai di Salim grup, akibat rumahnya yang kini berada jauh di pinggiran kota membuat perjalanan dirinya menuju ke Salim grup menjadi terkendala, padahal dia sudah berusaha berangkat lebih awal, namun masih saja dia terjebak macet yang cukup parah dan panjang.
Alya terlihat sangat gelisah saat dirinya berada di dalam bis kota, beberapa kali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah dapat di pastikan keterlambatannya akan menjadi bulan-bulanan Marcel untuk mencari gara-gara dan mencari-cari kesalahan darinya.
"Akh, harusnya aku naik motor saja tadi!" Dumel Alya menyesali keputusannya yang lebih memilih untuk memakai kendaraan umum di bandingkan mengendarai moor matik nya.
Tepat pukul setengah sembilan Alya berlari menuju aula, ruangan yang kemarin di jadikan tempat pertemuan, namun ketika sampai di sana, aula nampak kosong, membuat Alya kebingungan sendiri.
Alya memutar tubuhnya dan menuju ruangan Darma, dia yakin jika asisten Marcel itu tau tentang janji temunya dengan Marcel kemarin, dua timnya dari Persada juga tidak dapat dia hubungi satu pun, membuat Alya kebingungan di buatnya.
Namun lagi-lagi Alya di buat bingung karena Darma pun tidak ada di ruangannya, ruang kerja Darma terlihat kosong dengan pintu yang tertutup rapat, namun meski begitu, dia masih bisa melihat seisi ruangan itu dari jendela yang tidak bertirai yang mempertontonkan seluruh isi ruang kerja Darma.
Di tengah kebingungannya, suara dehaman seorang pria membuat Alya tersentak kaget.
"Hmmm,"
Sontak Alya menoleh ke arah suara, "Ah, maaf. Saya---saya--- terlambat." Cicit Alya tak berani mengangkat kepalanya, dia sungguh tidak kuasa harus menunjukkan wajah bersalahnya pada Marcel yang berdiri berhadapan langsung dengan dirinya.
"Awal kerja sama yang buruk! Persada harusnya lebih profesional, mengingat bukankah ini adalah impian kekasih mu untuk bekerja sama dengan perusahaan kami?" Ujar Marcel dingin.
"Ma-maaf." Cicit Alya yang memang mengakui kalau dirinya bersalah dalam hal ini.
"Jika semua hanya selesai dengan kata maaf, lantas apa gunanya peraturan di buat?"
__ADS_1
"Saya tidak akan mengulanginya lagi,"
"Siapa yang bisa menjamin? Perusahaan kalian menyepelekan kerja sama yang katanya sangat berarti ini," semprot Marcel seolah dia sedang memarahi karyawannya yang sedang melakukan kesalahan.
"Baiklah, apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya, ini murni kesalahan saya pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan, salahkan saya, jangan salahkan Persada." Kata Alya.
"Cih, bahkan kau berani pasang badan demi nama baik perusahaan kekasih mu itu!" Decih Marcel hatinya tiba-tiba mendidih mendengar kata-kata pembelaan Alya untuk perusahaan milik Rudy itu.
"Bu-bukan seperti itu---" sanggah Alya.
"Sudahlah, kau boleh pergi menyusul Darma dan juga tim mu yang sudah terlebih dahulu pergi ke proyek!" Ujar Marcel yang tadinya sengaja menunggu kedatangan Alya yang tidak kunjung tiba di kantor agar bisa berangkat bersama ke proyek kini berubah pikiran gara-gara perkataan Alya yang di nilainya terlalu membela dan melindungi perusahaan milik Rudy, sehingga membuatnya di bakar api cemburu.
"Ta-tapi di mana tempatnya?" Tanya Alya yang benar-benar tidak tahu di mana lokasi proyek tempat Darma dan timnya berada.
Alya akhirnya memilih untuk diam, percuma berdebat dengan Marcel, lagi pula untuk saat ini dirinya dalam posisi membutuhkan Marcel, dan menjaga nama baik Persada, jadi rasanya dia harus menambah stok kesabarannya dalam menghadapi Marcel, apalagi sepertinya masih akan panjang perjalanan dia dalam berhadapan dengan pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya itu.
Beruntung Alya masih menyimpan nomor Darma sehingga dia bisa meminta di kirim lokasi keberadaan mereka.
Alya terlihat lunglai saat sampai di tempat proyek, dia berangkat dari rumahnya lebih pagi dari biasanya sehingga dia sampai lupa sarapan, bahkan sampai saat ini belum setetes air pun yang masuk melewati tenggorokannya, perutnya sudah terasa perih, sepertinya penyakit lambungnya kambuh, namun dia berusaha untuk tetap terlihat kuat, apalagi saat dia melihat Marcel yang ternyata sudah berada di sana, kesal sekali rasa hatinya, mengingat mereka pernqah dekat, bukankah seharusnya Marcel berbasa basi menawarinya untuk berangkat bersama ke tempat itu, bukan malah menyuruhnya untuk mencari tahu sendiri lokasi dan berangkat sendiri, sementara dirinya pun pergi ke tempat yang sama.
Apa se-benci itu Marcel padanya? Tapi kesalahan apa yang dia perbuat sehingga membuat Marcel sangat membencinya? Bukanya di yang terlebih dahulu membuat jarak dan menjauhinya sampai dia menghilang tanpa sepatah kata pun.
"Apa anda baik-baik saja? Wajah anda terlihat sangat pucat." Tanya Darma, saat melihat wajah Alya yang kini pias seperti tidak di aliri darah.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja!" Geleng Alya, dia tidak ingin terlihat lemah di mata Marcel, apalagi terkesan mencari perhatiannya.
Marcel yang juga menyadari hal itu hanya bersikap cuek seolah tidak peduli, dia terus membimbing semua tim dan menerangkan apa saja yang menjadi tugas yang harus di kerjakan mereka, Marcel juga sengaja banyak menggunakan istilah-istilah dalam proyek yang dia yakin kalau Alya tidak mengerti, dan terbukti saat itu Alya banyak mengerutkan keningnya tanda kebingungan, belum lagi dia harus menahan perih di perutnya juga rasa mual yang terus menyerangnya.
"Bagaimana Bu Alya, apa anda mengerti? Anda ketua tim Persada sudah siap melaksanakan apa yang tadi saya sampaikan?" Ujar Marcel sengaja bertanya pada Alya yang tatapannya mulai kosong, entah karena menahan sakit atau karena tidak mengerti dengan apa yang di sampaikan Marcel tadi.
"Saya mengerti secara garis besarnya, meski ada beberapa hal yang memang saya tidak pahami, dariapa yang anda sampaikan tadi, pak." Jawab Alya berusaha jujur, dalam hal pekerjaan dia tidak ingin jumawa dan berpura-pura bisa, karena dalam hal ini dia membawa nama perusahaan Rudy, dan dia tidak mau mempertaruhkan masa depan Persada hanya karena ke-gengsiannya mengakui kalau dia tidak paham.
"Oh,,, inilah contoh perusahaan tidak kompeten, memilih ketua tim hanya berdasarkan kedekatan dan hubungan perasaan, sementara orang yang terpilih, sama sekali tidak ada pengetahuan di bidang ini, miris!" Cibir Marcel mempermalukan Alya di depan umum membuat Alya merasa sangat malu karena menjadi pusat perhatian belasan orang yang berada di sana termasuk perwakilan dari dua perusahaan pesaingnya, dengan begitu dia menjadi di pandang sebelah mata dan di remehkan oleh mereka karena cibiran Marcel.
"Sa-saya memang tidak paham banyak mengenai proyek yang merupakan hal baru bagi saya, namun saat ada orang yang percaya saya mampu melakukannya, saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan orang yang telah memilih saya, bukan hanya karena hubungan dekat kami, ini lebih ke karena tanggung jawab dan sayatidak mau mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan ini. Saya mampu dan saya akan belajar!" Tegas Alya.
Namun setelah mengatakan itu kepala Alya terasa sangat berat, pandangannya juga berkunng-kunang.
"Maaf saya permisi sebentar," Pamit Alya, rasanya dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya, dia tidak sanggup jika harus menahan sakit sambil menahan marah juga karena terus di bidik oleh Marcel untuk di jadikan sasaran bulan-bulanan dirinya yang di bakar rasa marah yang tak beralasan
Baru beberapa langkah meninggalkan orang-orang itu, Alya tidak dapat menahan rasa mualnya, sehingga dia beberapa kali muntah tanpa ada sesuatu yang di muntahkannya sehingga membuat perutnya semakin terasa perih, Alya memegangi perutnya yang perih sementara sebelah tangannya lagi berpegangan pada tembok agar dirinya tidak terjatuh.
"Apa kau sedang hamil?" Tanya Marcel tiba-tiba.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Marcel, mski Alya sedang dalam keadaan sakit, namun dia masih mampu untuk melayangkan tamparan yang membuat pipi Marcel terasa panas sekaligus perih.
__ADS_1