Celana merah jambu

Celana merah jambu
Preman ciut


__ADS_3

"Jangan pikir aku tak tau apa yang kau lakukan di belakang ku, ja-lang! Kau coba menghianati ku? Tidak semudah itu!" tatapan Codet menyalang ke arah Hana yang menggigil ketakutan.


"Dan kau! Aku sudah mengatakan pada mu untuk sabar menunggu intruksi dari ku, tapi kau terlalu tidak sabaran sampai harus datang ke sini, apa kau tau jika orang asing datang ke tempat ini tidakbisa keluar dalam keadaan hidup?" Sambung Codet yang kali ini mengarahkan senjata yang di pegangnya ke arah Marcel.


"Ini ide ku, ini semua ideku, jika ada yang harus bertanggung jawab atas ini semua itu aku, hukum aku saja," ujar Hana seraya maju beberapa langkah ke depan, menghalangi tubuh Marcel seolah-olah dia menjadikan dirinya perisai hidup bagi Marcel yang meski hatinya kacau namun masih bisa nampak tenang.


Melihat Alya berada di hadapannya kini membuat Marcel sedikit lebih lega, paling tidak dia tidak harus mencari-cari kebeadaan kekasihnya itu lagi.


"Lancang sekali, besar juga nyali kau rupanya sampai berani menghianati ku, asal kau tau, aku sudah mencurigai mu dari sejak kau mendatangi barang ku ini di gudang, apa kau merasa besar kepala karena merasa menjadi nyonya besar sehingga mengira aku tidak akan berani membunuh mu, huh?"


Bugh!


Sebuah pukulan dari tinju Codet mendarat di perut Hana sampai tubuh wanita itu terhuyung ke belakang, untung saja Marcel sigap dan menahan tubuh sempoyongan Hana sehingga tidak spai jatuh ke lantai.


"Jika kau menyukainya ambil lah! Karena aku lebih suka kekasih mu, kita bisa bertukar pasangan!" Kata Codet pada Marcel, dan tangannya sengaja meraba pipi mulus Alya intuk memprovokasi Marcel.


Sesuai dengan dugaan Codet, Marcel sepertinya tidak bisa mempertahankan ketenangannya lagi setelah melihat pipi kekasihnya di raba Codet.


"Lepaskan kekasih ku! Aku akan membayar uang yang kau minta!" Teriak Marcel.


"Kali ini urusan kita tak hanya sekedar urusan uang, Bung! Kau menyelinap ke tempat ku, dan semua orang yang masuk ke tempat usaha ku tanpa izin, tidak boleh keluar dengan selamat." Codet tersenyum miring.


"Aku memintanya dengan baik-baik sekarang ini, jangan sampai aku meminta nya dengan cara yang tidak dapat kau duga!" Ancam Marcel.


Namun alih-alih takut, Codet dan para anak buahnya justru kini tertbahak mendengar ancaman Marcel.

__ADS_1


"Akan aku tunjukkan ancaman yang sesungguhnya!" Kata Codet sambil mendekatkan bibirnya ke pipi Alya hendak mencium pipi mulus itu membuat Marcel sontak langsung melepaskan pegangannya di tubuh Hana dan melompat menarik jaket bagian belakang Codet agar pria itu menjauh dari kekasihnya.


"Tidak segampang itu kau bisa menyentuh tubuh kekasih ku, selama aku masih bernafas!"


Marcel berhasil menarik Codet dan merebut senjata yang di pegang pemimpin preman itu sehingga kini keadaan berbalik, Marcel yang menodongkan senjata itu tepat di kepala Codet.


Para anak buah Codet merasa kaget dan tidak menyangka jika merek akan dengan mudahnya kecolongan seperti itu, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena nyawa pimpinan mereka berada di tangan Marcel.


"Perintahkan anak buah mu untuk melepaskan kekasih ku, sekarang! Aku sudah meminta mu dengan cara baik-baik tadi, tapi kau malah memaksa ku untuk memakai cara seperti ini." Geram Marcel.


"Le-lepaskan wanita itu!" Titah Codet yang merasa dirinya kini terpojok dan tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Marcel.


"Hana, bantu lepaskan ikatan di tangan Alya, dan cepat bawa dia ke luar dari sini!" Marcel menunjuk tangga yang masih berdiri di tembok pembatas bekas tadi Marcel menyelinap masuk.


Hana mengangguk, lalu dengan sigap melaksanakan apa yang di perintahkan Marcel, lantas kedua wanita yang dulu sempat berselisih paham dan pernah saling menganggap musuh satu sama lain itu kini terlihat bahu membahu saling membantu untuk melarikan diri melewati tangga itu.


Marcel tidak mungkin ikut pergi lewat jalan yang sama dengan kedua wanita itu, karena itu sangat beresiko, Codet bisa saja berontak dan dirinya tidak akan bisa melarikan diri, Marcel memilih keluar lewat bangunan kasino ini, sehingga dia masih bisa menggunakan Codet sebagai sanderanya untuk bebas dari tempat itu.


Setibanya di luar, Hana dan Alya sudah menunggunya dengan harap-harap cemas, senyuman Alya mengembang saat melihat kekasihnya keluar dengan keadaan selamat.


Codet masih dalam sanderaan Marcel, "Aku tidak akan memperpanjang masalah jika kau menganggap urusan kita selesai sampai di sini, aku tidak punya masalah dengan mu, dan kekasih ku juga tidak ada urusan dengan mu, yang bermasalah dan mempunyai urusan dengan mu itu Rudy, jadi selesaikan itu dengan baji-ngan itu!!" ujar Marcel.


"Aku tidak akan memperpanjang masalah dengan mu, lepaskan aku!" Kata Codet.


Marcel mendorong tubuh Codet menjauh, membebaskan pria kekar itu dari sanderaannya dan segera mendekat ke arah Alya, namun tanpa di duga, Codet merampas senjata salah satu anak buahnya lalu membidikkannya ke arah Marcel.

__ADS_1


Dor!


Sebuah peluru lepas dari selongsongnya, Alya menjerit histeris, sementara tubuh Marcel tersungkur ke belakang, karena menahan beban tubuh Hana yang terpelanting menabrak tubuhnya.


Rupanya Hana nekat menghadang tembakan senjata Codet agar tidak mengenai tubuh Marcel maupun Alya, sehingga peluru itu tepat menembus dada kirinya.


"Hana, apa yang kau lakukan?" Teriak Codet, dia tidak menyangka jika dia malah menembak kekasihnya sendiri, bagaimanapun kasarnya Codet pada Hana, tapi dia sangat menyayangi Hana, karena Hana selalu sabar dalam menghadapi watak kerasnya.


"Baj-ingan, beren-gsek, apa yang terjadi di sini, aku sudah diam selama ini dengan usaha judi ilegal mu, tapi jika kau membuat kekacauan di depan rumah ku, akan ku habiskan kalian semua!" Teriak nenek tua itu keluar dari dalam rumahnya dengan membawa senjata laras panjang, dia lantas memuntahkan beberapa tembakan sehingga membuat anak buah Codet alih-alih membalas, namun malah kocar kacir menghindari tembakan brutal tanpa arah yang di lakukan nenek tua itu.


"Kalian berdua, cepat pergi dari sini, biar wanita ini dan juga mereka semua aku yang urus!" Ujar nenek tua itu memerintahkan Marcel dan Alya untuk segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Marcel segera menarik lengan Alya untuk pergi dari sana, sejujurnya, Alya merasa sangat berat dan kasihan dengan hana yang kini terholek lemas di tanah karena tembakan Codet, namun Hana sempat berkata, "Pergilah, sampaikan pada putri ku kelak, jika ibunya sangat mencintainya, dan ibunya meminta maaf karena mentelantarkannya."


Tetes demi tetes air mata Alya berjatuhan saat dia berlari meninggalkan tempat itu, ada bongkahan batu besar yang membuat dadanya terasa sesak, melihat semua adegan itu, bagaimana pun , dia berterimakasih pada Hana dan sudah memaafkan semua kesalahan yang pernah dia lakukan sebelumnya padanya.


"Bu, kenapa malah membiarkan mereka pergi?" Tanya Codet pada nenek tua itu yang ternyata adalah ibunya.


"Beren-gsek, anak sialan, cepat bantu wanita ini, aku tidak pernah mengajarkan mu menjadi pembunuh, sialan kau!" Nenek tua itu menggetokan senjatanya ke kepala Codet yang tidak berani melawan sedikit pun.


"Mereka tidak bersalah, kau hanya di manfaatkan oleh si Rudy itu, kapan kau pintar Codet! Kenapa kau mau saja di peralat oleh orang lain, dasar anak bodoh!" Lagi-lagi kepala Codet di pukul nenek tua yang terus mengomel itu.


"Orang yang harus kau cari itu adalah si Rudy, dia harus bertanggung jawab atas kekacauan ini!" ujar nenek itu lagi. Membuat akhirnya Codet menyadari jika apa yang di ucapkan ibunya itu memang benar, dirinya hanya di manfaatkan Rudy yang tidak mau membayar hutang-hutangnya dan malah melibatkan dirinya pada permasalahan yang dia hadapi sekarang ini, bahkan saat ini Hana terluka karena kecerobohannya.


"Rudy,,, ku bunuh kau!" Geram Codet.

__ADS_1


"Bunuh si Rudy nanti saja, sekarang bawa dia ke rumah sakit dulu, anak bodoh!" Senjata laras panjang itu lagi-lagi mendarat di kepala Codet akibat di kemarahan ibunya.


__ADS_2