
"Apa kamu masih berhubungan dengan Mas Adi mu itu, Tar?" Tanya Alya tergelitik ingin tahu setelah mendengar ocehan Hana tentang hubungan gelap Utari dan Joko.
"Begitulah, padahal dua hari yang lalu aku sudah mencoba untuk mengakhiri hubungan ku dengannya, tapi dia tidak terima dan ngotot tidak mau berpisah dengan ku." Ujar Utari.
"Berpisah? Bukankah kalian akan segera menikah?" Alya membulatkan matanya, merasa kaget dengan pengakuan Utari mengenai hubungan gelapnya dengan Joko yang ternyata baru saja kandas dua hari yang lalu itu.
"Hmmm, dia memang selalu mengajak ku menikah, dan ingin menjadikan ku istri kedua, tapi rasanya aku tidak bisa jika harus menjadi madu, sementara dia juga tidak bisa menceraikan istrinya, jadi perpisahan menurut ku satu-satunya jalan yang terbaik bagi kami berdua." Urai Utari.
"Lantas, apa benar kamu ada affair sama bos besar? Wah,,, jangan-jangan perceraian mu dengan Ivan bukan semata karena Hana, tapi karena kamu sudah lama menjalin hubungan dengan Pak Marcelino, aku pernah lihat dia sekali saat rapat, wuihhh,,,, cakep banget!" Sambung Utari.
"Haha,,, apaan sih, gak lah. Aku gak ada hubungan apa-apa sama Pak Marcel." Tepis Alya.
"Sssttttsss, itu orangnya kan? Yang pake jas hitam itu kan? Wah gila sih, beneran aja bisa bikin kamu berpaling dari Ivan." Goda Utari lagi sambil menunjuk ke arah Marcel yang sepertinya baru saja datang ke tempat itu sendirian tanpa di temani Sita atau pun Darma sang asisten yang biasanya selalu mengekornya kemana pun dia pergi.
Alya hanya tersenyum simpul tanpa mengatakan apapun, terlebih saat dia sadari kalau diam-diam ternyata Marcel sedang mencuri pandang padanya dari kejauhan, entah mengapa tiba-tiba hal itu mebuatnya menjadi serba salah, aura yang di pancarkan Marcel malam itu memang berbeda, dia terlihat sangat gagah dengan setelan jas yang di pakainya, membuat banyak mata wanita yang melirik ke arahnya seolah saat ini Marcel lah yang menjadi bintang nya di acara itu.
Beberapa menit kemudian, Sita datang dengan gaun merah beraksen emas yang membuatnya terkesan glamor namun elegan, terlihat serasi dan mampu mengimbangi penampilan Marcel yang kini berdiri bersisian dengannya.
__ADS_1
"Itu istrinya ya?" Tanya Utari yang memang belum pernah melihat Sita sebelumnya.
"Mungkin," Jawab Alya asal, meskipun dirinya tahu, dia tak ingin terkesan sok serba tau.
"Sayang sekali, cantik-cantik di selingkuhin, bagaimana reaksinya kalau dia tahu suaminya selingkuh dengan mu, ya?" Tanya Utari lagi.
"Gak bakal gimana-gimana karena aku sama pak Marcel tidak ada hubungan apa-apa." Ucapan Alya kini terdengar agak ketus, karena Utari seolah terus saja menuduh dirinya ada hubungan dengan Marcel.
Di tambah lagi saat dirinya melihat Marcel dan Sita yang sedang berdiri berdampingan dan menyambut para tamu juga para pewarta, mereka terlihat sangat serasi, sehingga dirinya tanpa sadar seperti ada gumpalan di dadanya yang menbuat dirinya sesak saat melihatpasangan suami istri yang menurut pengakuan mereka berdua tidak saling mencintai itu, namun sayangnya apa yang terlihat kini mereka seperti pasangan suami istri yang saling menyayangi dan tak sedikitpun nampak ada kejanggalan dalam hubungan mereka.
"Ganteng banget sih, suami orang. Sayangnya pintar sekali menipu, lihat saja di hadapan semua orang seolah menjadi suami paling setia." Cibir Utari.
Mendapat kata-kata yang lumayan menohok hatinya dari Alya, membuat Utari kini terdiam, apalagi acara inti juga sudah hampir di mulai, Alya memilih untuk bergabung bersama para karyawan menengah, meskipun dia mendapat undangan VIP dari Sita, dia tidak ingin menyiksa hatinya yang mungkin saja akan berdetak semakin cepat karena duduk di antara para direksi yang dimana Marcel juga berada di tempat itu.
Marcel mengedarkan pandangannya, mencari dimana keberadaan Alya yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.
"Dia di sebelah kanan dekat jendela, sedang melihat ke arah mu juga." Bisik Sita yang sepertinya tahu jika Marcel sedang mencari keberadaan Alya.
__ADS_1
"Padahal aku sudah memberinya undangan VIP, tapi dia malah memilih berdiri di pojokan, jika dia tidak mempunyai perasaan apapun pada mu seperti yang di akuinya, seharusnya dia tak akan merasa canggung harus duduk di dekat kita!" Ujar Sita lagi masih dengan suara berbisik, dia sengaja melakukan itu karena tahu Alya sedang melihat ke arah mereka, dan Sita juga tahu kalau Alya sepertinya tidak suka dengan keakraban dirinya dengan Marcel malam ini, dia justru sengaja ingin membuat Alya mengajui dan menyadari kalau sebenarnya Alya merasa cemburu.
Marcel mengarahkan pandangannya ke arah yang tadi Sita tunjukkan, benar saja, Alya sedang berdiri di sana dan langsung membuang pandagannya jauh-jauh karena merasa malu kalau dirinya tertagkap basah sedang memandangi Marcel dari tempatnya duduk sekarang ini, dan sekarang giliran Marcel yang terus melempartatapan ke arah nya.
Mengetahui Marcel sedang memperhatikannya dari kejauhan, membuat Alya tidak bisa berbuat banyak, dia tak mau perasaan dalam hatinya semakin bertumbuh, sementara keadaan tidak memungkinkan untuk dirinya menumbuhkan rasa dalam hatinya, untuk pria yang masih berstatus suami orang itu, ada hati lain yang masih harus di jaganya, ada Sita yang masih menjadi pemilik sah pria yang kini mulai menarik perhatiannya itu.
Masuk ke acara laporan keuangan tahunan yang akan di sampaikan oleh Marcel selaku pimpinan Salim grup saat ini, pria itu berjalan ke depan dan menuju podium untuk menyampaikan laporannya para pemegang saham dan juga para jajaran dewan direksi mengernyitkan keningnya, saat mereka mendengarkan laporan yang di sampaikan Marcel dan membaca lembaran kertas yang mereka pegang masing-masing, intinya laporan itu menunjukkan kalau perusahaan mengalami banyak penurunan keuntungan, dan pada beberapa bulan terakhir bahkan mengalami kerugian, meski masih tertutup oleh keuntungan bulan lainnya.
Padahal dari rapat-rapat sebelumnya penjualan Salim grup mengalami peningkatan yang signifikan, sehingga laporan yang di sampaikan Marcel dan juga laporan yang tertulis saat ini seperti tidak sinkron dengan penjualan yang meningkat.
Marcel yang menyadari ada keganjilan dari apa yang di apa yang di laporkannya pun segera melirik ke arah Joko yang tadi menyampaikan laporannya yang memang tidak sempat di cek ulang olehnya itu.
"Maaf pak Joko, apa laporan yang anda berikan pada ku ini tidak keliru?" Tanya Marcel menghentikan pembacaan laporannya sejenak untuk memastikan kalau Joko tidak memberikan lembar laporan yang salah padanya.
"Ma-maaf. Itu semua sudah sesuai dengan laporan keuangan yang terjadi di perusahaan, untuk selengkapnya bisa di lihat dari video laporan keuangan yang sudah di rangkum oleh tim kami." Jawab Joko berdiri dari tempat duduknya saat namanya di sebut oleh Marcel dari atas podium, sehingga semua perhatian tertuju padanya.
"Video?" Tanya Marcel justru malah kebingungan karena tidak tahu jika akan ada pemutaran Video mengenai laporan keuangan perusahaan, jika memang ada laporan melalui video, mengapa juga dirinya harus sudah-sudah membacakannya? Pikir Marcel yang lantas turun dari podium dan mempersilahkan pemutaran video laporan itu pada layar besar yang tiba-tiba di gelar di depan para tamu undangan.
__ADS_1
Namun seketika seluruh tamu undangan yang hadir dan di buat kaget dengan video yang saat ini di putar, alih-alih berisi laporan keuangan, ternyata video itu menunjukkan adegan yang yang sungguh membuat semua orang langsung memusatkan perhatiannya pada satu titik, seorang pria yang kini terlihat syok dan tidak menyangka akan di permalukan sedemikian rupa di hadapan banyak orang saat ini, sampai-sampai dia merasa ingin pergi dari bumi menuju ke planet lain agar tidak perlu bertemu dengan mahluk bumi manapun lagi.