
"A-Alya,,," cicit Utari lemah dengan suara yang bergetar.
Gurat ketakutan tampak sangatlah jelas di wajah Utari, dia juga tak dapat menyembunyikan tubuhnya yang geetaran hebat, bahkan mungkin saat ini dia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri jika saja dia tidak berpegangan pada dinding rumahnya, jika saja dia bisa menghilang, mungkin dia akan memilih cara itu, namun sayangnya hal itu adalah mustahil.
"Ya, ini aku. Apakah ini Mas Adi mu, yang selama ini kau maksud itu?" Tanya Alya yang juga masih terlihat syok dengan apa yang baru saja di lihatnya di depan matanya itu.
"Aku---aku bisa jelaskan tolong jangan terburu-buru menyimpulkan." Kata Utari akhirnya, setelah dia bisa mengendalikan emosi dirinya sendiri dan mengumpulkan nyali untuk menjelaskan semuanya pada Alya.
Sementara sang pria memilih untuk melengos dan pergi ke dalam, sepertinya dia baru sadar dari syok seperti yang Alya dan Utari rasakan saat ini, ya,,, mereka semua syok dan tidak menyangka kalau perselingkuhan ini akan terbongkar begitu cepat.
"Tar, sejak kapan ini terjadi?" Tanya Alya dengan mata memicing galak namun penuh selidik.
"Biar aku saja yang menjelaskan semuanya," Ujar Pria yang kini telah memakai pakaian lengkap itu ikut duduk di sofa ruang tamu rumah kontrakan Utari, seraya menunjukkan raut wajah yang kini sudah sedikit tenang dan santai di banding tadi saat beru pertama melihat Alya.
"Aku rasa biar aku dan Utari saja yang membicarakan hal ini, kami butuh bicara berdua." Tolak Alya.
Utari memberikan kode pada pasangan selingkuhannya itu untuk membiarkan dirinya menghadapi Alya sendirian, meski dengan berat hati, pria itu terpaksa meninggalkan kedua wanita itu untuk mengobrol berdua, dia lebih memilih untuk masuk dan mendengarkan secara diam-diam dari balik dinding, dan akan siap sedia jika sewaktu-waktu keadaan memanas atau tidak terkendali.
"Maafkan aku Al," lirih Utari dengan kepala yang terus menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya saat berbicara dengan Alya yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Tar, jadi Mas Adi yang kau maksud selama ini adalah Pak Joko Adi Waluyo, atasan kita? Shiiiit,,, ini sangat membagongkan sih, buat ku. Kau menjalani hubungan dengan dua pria sekaligus? Dan dua-duanya telah beristri? Aku rasa otak mu rusak Tar!" Pekik Alya tertahan karena dia tak ingin membangunkan Lea yang mungkin saat ini sudah tertidur, bagaimana pun, anak itu tidak punya salah dalam hal ini dan tidak boleh di libatkan.
Namun saat mengetahui ada mantan atasan nya di Salim grup di tempat itu dengan waktu dan keadaan yang sangat mencurigakan, membuat Alya sangat syok dan tidak bisa menahan rasa marah juga ingin tahu nya, karena dalam hal ini Alya mengharapkan kalau yang tadi dia pergoki adalah Ivan, tapinyatanya malah pria lain yang tak kalah membuatnya kaget juga.
Seingatnya Joko dan Utari selama ini terlihat biasa saja saat di kantor selama ini, bahkan bisa di bilang terlihat seperti tidak saling mengenal, bahkan untuk urusan pekerjaan pun, sangat jarang sekali Joko dan Utari berinteraksi, karena semua urusan dengan Joko biasanya Alya lah yang menghandle, namun tiba-tiba mendapati hal seperti ini, membuat Alya menjadi semakin berpikir, betapa mengerikannya orang-orang di sekitarnya, topeng mereka cukup tebal untuk menyembunyikan wajah asli mereka, sungguh manusia adalah mahluk yang sangat pandai dalam hal memanipulasi dalam segala hal.
Joko yang mendengar ucapan Alya dari balik dinding langsung terkejut dan mendekati Utari, "Apa maksud dari dua pria beristri di sini? Pria beristri mana lagi yang kamu pacari selain aku?" Tanyanya penuh emosi.
"Tunggu, itu juga yang ingin aku tanyakan pada mu Al, mengapa kamu bisa menuduh ku seperti itu?" Utari terlihat kaget dan tidak terima dengan tuduhan Alya padanya.
"Tar, tidak perlu menyembunyikannya lagi dari ku, aku tau kamu ada hubungan dengan Ivan, bahkan aku tau rumah ini Ivan yang membayar kontrakannya, dan aku juga tau pertemuan-pertemuan yang sering kamu lakukan dengan Ivan baik itu di Jt, maupun di hotel, tolong jangan menyangkal, karena aku mempunyai bukti dengan semua yang aku katakan ini." Tegas Alya mengintimidasi.
"Kamu salah paham Al, ini semua tidak seperti itu kenyataannya, aku ke JT bukan untuk bertemu Ivan, dan aku ke hotel juga bukan untuk bertemu Ivan, sementara untuk kontrakan ini aku akui memang suami mu yang membayarnya, tapi--- ini semua ada alasannya." Gagap Utari, suaranya seperti tercekat dalam tenggorokannya.
"Lalu malam itu, saat kau bertanya keberadaan ku dan aku mengirim foto Ivan yang sedang tertidur di sofa, kamu langsung menelpon dia dan marah, kan? Makanya dia langsung buru-buru datang ke rumah ini?" Kejar Alya lagi, karena tak puas dengan penyangkalan Utari.
"Itu--- itu memang Ivan ke sini pagi itu, tapi bukan untuk menemui mu." Utari semakin berbelit-belit.
"Utari! Ceritakan semuanya dengan jelas atau hubungan kau dan aku selesai sampai di sini. Aku tak sudi menjalin hubungan dengan wanita murahan dan bejat seperti mu, aku bahkan sudah berniat menceraikan istri ku demi untuk menikahi mu!" Suara Joko meninggi akibat dia tidak mampu lagi menahan marahnya, darahnya mendidih mendengar kata demi kata fakta yang Alya sampaikan mengenai Utari yang dia pikir hanya menjalin hubungan dengannya saja.
__ADS_1
Kini Utari semakin tersudut, ada dua orang yang menuntut pejelasan darinya, sementara dirinya juga tidak bisa menjelaskan hubungan seperti apa sebenarnya yang terjadi antara dirinya dan Ivan, tapi jika dia tidak menjelaskannya, itu akan berbalik menjadi bumerang untuk dirinya, dimana dia akan menjadi tersangka dan di persalahkan oleh Alya dan Joko, sang kekasih.
"Bukan aku selingkuhan suami mu, percayalah,,, itu bukan aku." Ucap Utari pada akhirnya, bahkan kini air matanya meleleh di pipinya, tergambar jelas kebingungan dan ketidak berdayaannya dalam menghadapai tekanan dari Alya dan Joko.
"Apa maksud mu bukan kamu? Lantas kalau bukan kamu, siapa?" Tanya Alya menjadi sedikit tidak sabaran karena Utari seakan mengulur waktu dengan terus terisak tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"katakan, jangan mencari-cari alasan, atau ternyata memang benar kau orangnya, namun kau berusaha mengelak? Kau pikir air mata mu ini dapat membuat kau menjadi terlihat tidak bersalah sama sekali?" Desak Joko yang tak kalah penasarannya dalam menunggu penjelasan kekasih gelapnya itu.
"Hana! Hana wanita selingkuhan suami mu selama ini." Cetus Utari akhirnya menyebutkan sebuah nama yang sepertinya tidak asing di telinga Alya.
"Hana, sekretaris Ivan?" Picing Alya memastikan kalau nama yang di sebutkan Utari sama dengan orang yang ada di pikiran Alya saat ini.
Utari mengangguk, pertanda mengiyakan dan setuju dengan apa yang di pertanyakan Alya padanya.
"Hana sepupu mu?" Timpal Joko yang juga merasa kaget sekaligus lega jika benar itu adalah Hana dan bukan Utari yang menjadi wanita selingkuhan Ivan.
"Apa, sepupu mu? Apa dia dulu tinggal di rumah kontrakan mu yang dulu?" Beo Alya, dia mengingat-ingat lagi, berarti sat itu ketika dia melihat Ivan keluar dari mulut gang rumah Utari di temani Hana, rupanya mereka memang sudah menjalin hubungan, dan dirinya sudah terkecoh dengan itu.
"Iya, empat bulan yang lalu dia di terima di JT grup, dan untuk sementara tinggal di kontrakan ku, entah bagaimana ceritanya, sejak itu Hana menjalin hubungan dengan suami mu dan sering membawa Ivan ke rumah, aku ingin menceritakannya pada mu, namun Hana mengancam akan membocorkan hubungan ku dengan mas Adi pada istrinya juga pada seluruh karyawan Salim grup, sehingga kami sama-sama sepakat untuk saling menjaga rahasia kami masing-masing, mengenai rumah ini, Ivan memang membayarnya karena untuk mengganti kontrakan yang lama yang kini di tempati mereka, Hana merasa betah di sana karena tempatnya yang tersembunyi dan warganya yang terbilang cuek, lagi pula aku juga tidak ingin terus-terusan satu rumah dengan Hana, aku selalu di hantui rasa bersalah setiap bertemu dengan mu." Terangnya panjang lebar.
__ADS_1