
Hampir pukul sepuluh malam Alya baru sampai ke rumahnya, meskipun dia keluar dari kantor lebih cepat dari waktu biasanya, namun Alya memilih untuk berputar-putar dan mampir di sebuah tempat makan secara random hanya untuk menghabiskan waktunya dan tak harus cepat-cepat sampai di rumah, malas rasanya harus bertemu dengan pria yang telah memfitnah dirinya dengan kejamnya itu, Alya butuh waktu sendiri, dia ingin menikmati kesedihan, kesakitan, keterpurukannya sendirian, sehingga saat bertemu dengan Ivan, dia tak harus menunjukkan sisi lemahnya.
Mobil Ivan tak terlihat di garasi rumahnya, ada rasa lega karena dia tak harus bertemu dengan suaminya saat ini, namun ada rasa kesal bercampur marah juga, setelah apa yang di perbuat Ivan padanya tadi siang, alih-alih menjelaskan dan meminta maaf, justru suaminya ini malah menghilang entah kemana.
"Bapak belum pulang?" Tanya Alya pada Fitri yang membukakan pintu gerbang untuk dirinya.
"Bapak tadi magrib pulang, tapi pergi lagi." Ujar Fitri.
Alya mengernyitkan keningnya, "Bapak tidak mengatakan apa-apa saat pergi?"
Fitri menggeleng, "Tidak, bapak pulang hanya berganti pakaian lantas pergi lagi, mobilnya saja di parkir di luar gerbang dengan mesin menyala, sepertinya Bapak bersama temannya." Terangnya lagi.
"Temannya?" Beo Alya.
"Iya, tapi saya juga tidak tahu temannya yang mana atau siapa, saya tidak begitu jelas melihatnya, hanya saja ketika masuk ke dalam mobil, saya lihat bapak seperti berbicara dengan seseorang di dalam mobil." Terang Fitri lagi.
"Ya sudah, ayo masuk, sudah malam!" Ajak Alya seraya memerintahkan asisten rumah tangganya itu untuk mengunci pintu gerbang kembali.
Tubuh dan pikiran Alya cukup lelah seharian ini dia hanya ingin berendam air hangat dan tak ingin memikirkan tentang dengan siapa Ivan pulang tadi, persetan jika suaminya pergi bahkan tak kembali sekalipun, pria itu tak hanya telah mengahancurkan hatinya sampai remuk redam, tapi juga menghancurkan karir yang di bangunnya susah payah, hanya dengan kalimat fitnahnya.
"Berengsek!"
Pekik Alya, dia melemparkan sebuah bingkai yang berisi foto pernikahan dirinya dan Ivan yang berada di meja riasnya, saat dirinya teringat kembali dengan ****** ***** merah jambu yang dia temukan di mobil suaminya, bahkan pikirannya kini membayangkan kalau Ivan sedang bermesraan dengan wanitanya, setelah menghancurkan dirinya sedemikian rupa.
Alya mematikan lampu kamar dan membenamkan wajahnya di balik selimut, berharap matanya segera terpejam, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan Ivan belum juga pulang.
"Arrrrggghhh, aku tidak sedang menunggunya, hanya saja mata ku tidak dapat terpejam!" sangkal Alya menolak bisikan hatinya yang masih terus bertanya-tanya kemana Ivan pergi dan dimana dia tidur malam ini.
Meski mulut dan egonya terus menyangkal dan bersumpah serapah mengatakan kalau dirinya tidak peduli, namun kenyataannya semua itu mengganggu pikirannya.
Jika semua yang di rasakannya saat ini menadakan kalau Alya masih mencintai dan peduli pada Ivan, setelah semua yang di lakukan Ivan padanya, pertanyaannya, sebodoh itukah cinta?
**
Di tempat lain,
"Kamu belum tidur juga, mas?" tanya seorang perempuan yang terbangun dari tidurnya di ranjang setelah pergulatan panas dengan pria yang kini berdiri sambil merokok di depan jendela kamar yang sepertinya sengaja di bukanya agar asapnya bisa keluar dari ruang kamar yang di tempatinya itu.
__ADS_1
Wanita itu mungkin terbangun karena tubuhnya yang kini polos itu terkena terpaan angin dari jendela yang terbuka di hadapannya.
"Hemhh,,," Jawab pria itu yang tak lain ternyata adalah Ivan.
"Masih mikirin istri mu?" Ujar wanita itu turun dari ranjangnya dan mendekat ke arah Ivan yang masih membelakanginya.
"Aku merasa ini terlalu jahat," Ujar Ivan dengan mata yang terus memandang jauh ke luar jendela, tak sedikitpun dia menoleh ke arah wanita lawan bicaranya yang kini mulai memeluknya tubuhnya dari belakang.
"Mas, kita sudah sepakat, ini demi masa depan kita berdua, apa kamu ingin selamanya berada di bawah bayang-bayang istri mu?" Ujar wanita itu memprovokasi.
Ivan menghela nafasnya dengan berat, matanya terpejam antara menikmati sentuhan tangan wanitanya yang terus menggerayang di dadanya dan mencerna ucapan wanita itu.
Dirinya memang merasa insecure dengan Alya yang ternyata penghasilannya lebih besar dari dirinya, itu di ketahuinya beberapa bulan belakangan ini, sungguh ini bukan perasaan iri, hanya harga dirinya sebagai pria merasa terbebani, meski Alya tidak pernah mempermasalahkan masalah keuangan walaupun dirinya tiap bulan harus ikut memanggung beban kebutuhan keluarga, sebagai kepala rumah tangga dia merasa tak berguna, ingin rasanya dia menyuruh Alya berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja, namun apa daya kebutuhan dirinya dan juga tanggungan orang tua juga adiknya tak akan mampu dia handle sendirian tanpa bantuan Alya.
Alih-alih berusaha lebih giat, untuk menambah penghasilan justru Ivan menjadikan itu sebagai alasan untuk membenarkan kelakuannya yang bermain api dengan wanita lain di belakang istrinya dengan dalih untuk mencari hiburan dan pelampiasan dari semua permasalahan tak masuk akal yang di alaminya.
Namun bukannya masalah itu hilang atau berkurang, namun malah membuat Alya semakin buruk di matanya apalagi setelah ada wanita lain sebagai pembanding.
**
Mendapati mobil Ivan tidak berada di halaman rumah ibunya, Alya berinisiatif menelpon ibu mertuanya, dia tak ingin bertemu Ivan jika ternyata suaminya itu ada di sana, bisa saja dia ke sana tidak membawa mobilnya, bukan.
"Bu, apa Ivan menginap di rumah ibu, semalam?" Tanya Alya.
"Ah iya, Ivan di sini, dia ibu suruh datang ke sini semalam untuk mengantar ibu berobat, tadinya tidak ingin merepotkan Ivan, hanya saja badan ibu tidak kuat jika malam-malam harus naik motor ke rumah sakit di antar Hendri," Jawab ibunya
"Oh, tadinya Alya mau nebeng mobil Ivan ke kantor, soalnya mobil Alya ngadat, berarti ivan masih di sana ya?" Pancing Alya, ketika ibu mertuanya secara tidak langsung mengatakan kalau Ivan ke sana naik mobil, namun mobi suaminya jelas-jelas tidak ada di sana.
"Apa perlu Ivan ibu bangunkan agar pulang dan mengantar mu ke kantor?" Tanya ibunya lagi.
"Ah tidak usah bu, biar Alya naik taksi saja," tolak Alya secara halus.
"Maaf ya, soalnya ibu gak tau harus minta tolong sama siapa, cuma Ivan yang bisa ibu mintakan tolong, coba Hendri punya mobil juga, pasti ibu minta anter Hendri."
"Tidak apa bu, ya sudah Alya mau siap-siap dulu."
Alya segera mengakhiri percakapan di telepon dengan ibunya saat melihat samar-samar Wina keluar dari rumahnya untuk menyapu pelataran rumah.
__ADS_1
"Win!" Pekik Alya tertahan memanggil istri dari adik iparnya itu.
Wina menoleh, dan saat hendak membuka mulut untuk membalas sapaan Alya, buru-buru Alya memberi isyarat pada Wina untuk jangan berisik, dengan menaruh jari telunjuknya di depan mulut, lantas melambaikan tangan memberi tanda agar Wina mendekat ke arahnya.
Dengan patuh Wina mendekat ke arah kakak iparnya itu.
"Mbak Alya kok di sini, kenapa gak masuk?" Tanya Wina bingung.
"Ivan masih tidur?" Tanya Alya memastikan kembali jawaban yang tadi dia dapat dari ibu mertuanya tentang Ivan.
"Mas Ivan?" Wina malah balik bertanya.
"Ah, itu--- aku semalem berantem sama Ivan dan dia gak pulang, jadi aku pikir dia tidur di sini." Ralat Alya saat menyadari kalau ada ke tidak sinkronan antara jawaban ibu mertuanya dan Wina.
"Tidak, tidak ada mas Ivan kesini Mbak," Jawab Wina yakin.
"Tapi semalem ibu baik-baik saja kan? Gak sakit? Aku keingetan ibu terus semalem," Pancing Alya lagi.
"Ibu baik-baik aja, malah semalem nonton sinetron sampe tengah malem," Ujar Wina polos.
"Oh gitu, ya sudah. Aku cari Ivan dulu ya, jangan sampai ada yang tau aku kesini nyari Ivan karena berantem, takutnya kedengeran ibu malah jadi pikiran, janji ya, jangan bilang siapa-siapa!" Kata Alya sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan untuk tutup mulut iparnya itu.
Alya sebenarnya cukup syok, bagaimana bisa ibu mertuanya yang selalu di anggapnya baik dan layaknya ibu sendiri itu justru berbohong padanya hanya untuk menutupi kelakuan anaknya.
Semua itu membuat Alya berpikir jangan-jangan selama ini ibu mertuanya itu sebenarnya tahu kelakuan bejat anaknya, namun sekongkol untuk menutupi semua dari dirinya, apakah itu mungkin? Pikir Alya.
Di tengah pikiran kalutnya, ponselnya berbunyi, nama SUAMI tertera di layar ponselnya, setelah membuat kekacauan seharian dan menghilang semalaman, Alya ingin tahu apa yang ingin suaminya katakan pada dirinya.
"Al, aku nginap di rumah ibu, ibu semalam sakit, katanya tadi kamu nelpon ibu ya? Aku balik sekarang ya, mobil mu mogok lagi ya?"
Sial,,, bahkan nada bicara Ivan santai seolah tak ada masalah sama sekali yang terjadi pada mereka sebelumnya.
"Tidak usah Van, aku bisa naik Taksi, kamu jaga ibu mu saja di sana!"
Ingin rasanya Alya berteriak mengatakan kalau saat ini dirinya berada di depan rumah ibunya, namun sepertinya, ini belum saatnya membongkar semuanya, lagi pula mendengar gaya bicara santai Ivan membuatnya merasa rugi semalaman tidak tidur memikirkan keberadaannya, sementara yang di khawatirkannya malah mungkin sedang asik bercinta dengan wanita lain.
'Permainan apa yang sedang kau dan keluarga mu coba mainkan dengan ku, van? Tenang saja, aku akan ikut permainan kalian!' Gumam Alya dalam hatinnya.
__ADS_1