Celana merah jambu

Celana merah jambu
Pria palsu


__ADS_3

Alya terlihat sumringah saat pagi ini dia melihat mobil Marcel terparkir di pelataran parkir depan loby, yang hanya di khususkan untuk para dewan direksi dan para petinggi Salim grup, dapaty Alya simpulkan jika Marcel hari ini sudah mulai masuk kerja, langkahnya menuju lantai atas dimana ruang kerja dirinya dan juga Marcel berada.


Alya seakan lupa jika kemarin dia sempat merasa kesal karena mengetahui jika kepergian Marcel adalah untuk menemui Sita, tapi bukankah itu seharusnya bukan menjadi masalah baginya, secara di antara mereka tidak ada hubungan apapun selain sebagai rekan kerja saja.


Jantung Alya bahkan hampir saja di buat copot saat tanpa sengaja melihat Marcel berdiri di depan pintu lift yang akan sama-sama dia naiki, Alya memutarkan kepalanya, melihat-lihat apakan ada orang lain yang hendak masuk ke dalm lift yang sama yang sepertinya hanya akan di tumpangi oleh dirinya dan Marcel saja itu, karena akan sangat canggung jika mereka berada di sebuah ruangan sempit dan tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua.


"Pa-pagi pak," sapa Alya, sedikit gugup.


Akan sangat lebih canggung rasanya jika mereka dalam satu ruangan namun tidak saling bicara bahkan saling menyapa, untuk itu Alya mengalah untuk memulai sapaan pada Marcel, masalah Marcel akan membalas sapaan nya atau tidak, itu urusan belakangan, pikir Alya.


Namun di luar dugaan, ternyata Marcel membalas sapaannya dengan hangat, bahkan dia juga sempat melemparkan senyum termanisnya untuk Alya.


"Pagi juga, Al!" balas Marcel, seraya memberi jalan agar Alya masuk ke dalam lift lebih dahulu saat pintu lift terbuka.


Meski agak canggung, Alya berjalan terlebih dahulu ke dalam benda kotak itu, lantas di susul oleh Marcel di belakangnya.


Saat ini mereka berdiri bersisian, benar-benar hanya ada mereka berdua, tidak ada orang lain di tempat sempit itu.


"Bagaimana rumah mu, sudah tidak bocor lagi kah?" Giliran Marcel yang kini berinisiatif membuka pembicaraan.


"Ah, sudah. Rudy sudah menyuruh anak buahnya untuk membenarkan atap rumah dan sekarang sudah beres, kok." Terang Alya berusaha menjawab dengan jujur pertanyaan yang Marcel layangkan padanya.


"Hmm,,, syukur lah!" ujar Marcel singkat.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kabar Sita dan Daniel, apa mereka baik-baik saja?" Tanya Alya balik.


"Nghhh, baik, mereka baik-baik saja." Jawab Marcel.


Hanya itu yang mereka bicarakan seolah sekedar basa-basi yang benar-benar terasa basi, beberapa menit menuju ke lantai 10 dari lobby rasanya seperti berhari-hari berada dalam kotak sempit itu sampai-sampai sepertinya mereka sudah kehabisan topik untuk di jadikan obrolan di antara mereka sampai mereka akhirnya hanya saling terdiam sampai pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.


Tring!


Pintu terbuka di lantai sepuluh, Alya keluar dari sana terlebih dahulu, setelah dia berpamitan pada Marcel sebelumnya.


"Darma, apa tugas yang aku berikan pada mu dua hari yang lalu benar-benar sudah kau laksanakan dengan benar? Kau tidak salah alamat?" Tanya Marcel yang langsung memanggil asisten pribadinya untuk masuk ke ruangannya saat dia baru saja mendudukan diri di kursi kebesaran nya.


"Tentu saja sudah, bukan kah kemarin sore juga sudah saya laporkan pada anda jika tugas yang di berikan anda sudah di selesaikan dengan baik." Terang Darma.


Tampak gambar sebuah rumah sederhana dari masih berantakan karena atapnya yang rusak, lantas foto proses pengerjaan, sampai foto atap yang kembali rapi seperti tidak pernah terjadi kerusakan sebelumnya.


Marcel terus memperhatikan foto-foto ituberulang kali, dia tidak dapat menuduh Darma tidak melaksanakan tugasnya karena foto-foto itu merupakan bukti yang otentik jika dia benar-benar berkata jujur.


"Sebenarnya, rumah siapakah yang anda minta betulkan ini?" Tanya Darma, sepertinya dia cukup asing dengan bangunan rumah mungil nan minimalis itu.


"Alya, itu rumah Alya." Jawab Marcel yang kini lantas memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pening tanpa sebab.


"Rumah Mbak Alya?" Beo Darma sedikit terkejut, namun Marcel meyakinkan dirinya dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Jika anda tidak percaya, saya akan panggil mbak Alya, dan anda dapat menanyakan secara langsung padanya, apa benar rumahnya sudah di renovasi atau belum." Kata Darma lagi, seolah ingin lebih meyakinkan Marcel jika apa yang di katakannya memang benar adanya.


"Sudah, sudah aku tanyakan tadi." Jawab Marcel masih dengan posisi memegangi keningnya.


"Lantasjangan-jangan mbak Alya mengatakan kalau rumahnya belum di betulkan?" Darma terlihat agak kesal, karena merasa jika Alya berani berbohong.


"Tidak! Alya mengatakan bahwa rumah nya sudah di betulkan, tapi masalahnya bukan itu,yang jadi masalah, Alya mengatakan jika yang merenovasi rumahnya adalah Rudy, itu masalahnya!" Terang Marcel.


"Rudy? Bagaimana bisa jadi Rudy? Jelas-jelas anak buah ku yang mengerjakan perbaikan rumah itu." Kesal Darma.


"Aku tau, kau tidak akan mungkin berbohong, terlebih ada bukti foto-foto itu, hanya saja aku merasa curiga dengan Rudy, mengapa pria itu selalu mengaku-ngaku apa yang aku lakukan pada Alya, masalahnya ini bukan yang pertama kalinya dia berbuat seperti itu." Ujar Marcel.


Darma terlihat langsung melongo mendengar apa yang di katakan Marcel, "Bukan yang pertama kali?" Kagetnya.


"Hemhh, sebelumnya dia juga mengaku-ngaku telah memasak sup dan bubur yang aku buat untuk Alya saat Alya sakit." Kata Marcel.


"Oh no way, anda memasak sup dan bubur untuk Alya? Bahkan mask air saja anda minta di asakkan oleh ku?" Pandangan mata Darma terlihat sangat tidak percaya dengan pengakuan Marcel perihal masak memasak, karena selama dia menjadi asiste Marcel, bosnya itu bahkan tidak pernah memasak mie instan sekali pun bahkan untuk dirinya sendiri, dia pasti akan memilih layanan pesan anatar atau minta bantuan asisten nya itu untuk membuatkan untuk nya.


"Tidak usah membahas hal itu, tentu saja aku bisa, tapi keahlian ku yang satu itu hanya khusus aku gunakan untuk orang spesial" Kelit Marcel.


"Ish,,, bahkan diri anda sendiri pun tidak termasuk istimewa di mata anda karena anda tidak pernah mau memasak untuk diri anda sendiri." Ejek Darma.


"Berisik, bantu aku lebih mencari tahu tentang Rudy, pria itu terlalu mencurigakan, aku tidak akan rela jika Alya harus hidup bersama pria palsu seperti dia!" Ujarnya dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2