Celana merah jambu

Celana merah jambu
Apa kamu mencintainya?


__ADS_3

"Aku akan mengirimkan lokasi kami datanglah sendirian ke sini, namun jika kau macam-macam, aku tidak segan untuk melakukan hal-hal yang mungkin todak akan pernah terpikir oleh mu, satu hal yang harus kamu tahu, jika aku lebih jahat dan licik dari yang kau kira sekarang ini, jadi jangan membuat ku memilih cara terburuk!" Ancam Sita.


"Lihatlah, bagaimana kekasih mu itu kini bak menjadi anjing penurut di hadapan ku." Cicit Sita dengan tatapan dan senyum sombongnya, kali ini dia merasa kalau dirinya lah pemenang dalam permainan ini.


"Cih, kau terlalu percaya diri, jangan sampai yang kau kira anjing penurut mu itu ternyata yang malah akan menggigit dan balik mencelakai mu!" Decih Alya.


"Mulut mu terlalu lancang dan terlalu banyak bicara, ikat dan tutup mulutnya dengan lakban sampai Marcel datang ke sini!" Titah Sita pada Ivan yang sejak tadi terdiam mendengarkan adu mulut sengit antara Sita dan Alya, namun mendengar perintah Sita seperti itu, Ivan tak lagi diam seperti tadi.


"Tidak! Aku tidak setuju jika kau harus melakukan itu pada Alya, lihatlah, sejak tadi bahkan dia diam tidak melakukan perlawanan sedikit pun, lantas untuk apa mengikat an menyumpal mulutnya!" Tolak Ivan.

__ADS_1


"Kau berani menentang ku?" Tanya Sita dengan mata yang melotot.


"Tentu saja, tidak ada yang perlu aku takut kan dari mu, ingat dalam hal ini posisi kita sama, kau bukan bos ku, kita hanya bekerja sama untuk mendapatkan keinginan kita masing-masing." Tukas Ivan dengan tegasnya.


"Jangan lupa aku bisa dengan mudah menjebloskan mu ke penjara, karena aku punya bukti keterlibatan mu dalam kasus Utari," ancam Sita berusaha menunjukkan powernya yang selalu ingin terlihat dominan dalam berbagai hal.


"Hahaha, saat kau menjebloskan ku kepenjara, maka aku juga akan dengan mudah menjebloskan mu juga, aku punya bukti rekaman percakapan dan chat yang berisi tentang rencana mu untuk menculik Alya, coba kau bayangkan bagaimana gegernya seluruh negeri ini jika sosok Sita yang kemarin di puja-puja masyarakat dan menuai simpati karena seolah menjadi istri tersakiti, ternyata tak lebih dari seorang wanita jahat yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan dan harta warisan ayahnya sendiri." Ujar Ivan mengangkat sebelah alisnya.


Sepertinya Sita tidak dapat berkutik dengan ancaman Ivan, Marcel yang merupakan tiket emasnya untuk mendapatkan apa yang di inginkannya sudah berada di depan mata, tinggal beberapa langkah lagi dirinya akan mewujudkan semua keinginannya, jadi dia berpikir untuk bermain aman dan tidak memancing permasalahan dengan Ivan yang ternyata mempunyai kartu AS dirinya.

__ADS_1


Rencananya pernah gagal karena kehadiran Alya, dan kini dia tidak mau rencananya gagal untuk ke dua kalinya.


"Alya, apa kamu benar-benar mencintai Marcel?" Tanya Ivan tiba-tiba selepas kepergian Sita dari kamar itu.


"Apa jawaban ku itu sangat penting bagi mu?" Ujar Alya cuek.


"Aku melihat Marcel sangat peduli dan baik pada mu, aku rasa dia pria yang sangat tepat untuk mu." Entah apa yang ada dalam pikiran Ivan yang tiba-tiba mengatakan itu semua, padahal, bukankah beberapa saat yang lalu dia sempat meminta Alya untuk kembali padanya, dan kenekatannya kali ini dengan bekerja sama dengan Sita juga bukankah bertujuan untuk memaksa Alya agar mau kembali pada dirinya dan membina rumah tangga bersama dirinya dan juga putrinya, lantas apa pentingnya mempertanyakan tentang perasaan Sita pada Marcel?


"Tepat atau pun tidak tepat, tetap saja tidak tepat rasanya jika kau ikut campur dalam masalah pribadi ku." Ketus Alya.

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak berhak lagi, aku hanya sekedar berpendapat, ya sudah lah kamu istirahat saja lah dahulu, tenang saja, aku akan melindungi mu, aku tidak akan membiarkan Sita menyakiti mu barang sedikit pun." Ujar Ivan yang entah mengapa tiba-tiba sikapnya pada Alya berubah menjadi sangat aneh itu.


"Apa dia salah minum obat, atau mungkin kesambet?" Cicit Alya yang merasa bingung dengan perubahan sikap Ivan yang tiba-tiba baik padanya itu.


__ADS_2