Celana merah jambu

Celana merah jambu
Rekor


__ADS_3

"Seharusnya kau tidak perlu mengatakan hal-hal seperti tadi hanya untuk membela ku, mantan suami mu terlihat sangat marah pada mu tadi." Ujar Marcel saat akhirnya Alya mau di antar pulang olehnya, setelah dia membujuknya setengah mati karena Alya bersikeras tidak mau di antar dengan alasan menghindari fitnah.


"Saya tidak membela anda, pak. Saya hanya sedang membela diri saya sendiri, saya lelah berurusan dengan mereka, saya akan melawan mereka mulai sekarang, karena jika bukan saya sendiri, siapa lagi yang akan membela saya?" Kata Alya.


Memang bisa saja untuk menghindari konflik Alya bisa saja pergi sejauh mungkin, tapi kemana? Dia tidak punya tujuan untuk pergi, tidak semudah itu juga baginya memutuskan untuk pergi, pekerjaannya di sina, tempat kekahirannya di kota itu, kenangan bersama kedua orang tuanya di kota itu, apa iya dia harus kehilangan semuanya itu hanya karena melarikan diri dari Ivan dan Hana? Kenapa dia yang harus pergi, kalau dia bisa bertahan dan melawan.


"Kemana ini pak?" Tanya Alya, saat mobil yang di kendarai Marcel memasuki pelaratan parkir sebuah restoran cepat saji.


"Aku lapar, dan kau juga pasti belum sempat makan malam, kan?"


Alya terdiam, mau menolak, tapi perutnya saat ini terasa perih meminta untuk di isi, karena sejak siang tadi dia belum sempat memakan apapun.


"Drive thru saja pak, saya tidak nyaman jika kita harus makan berdua malam-malam begini." Putus Alya akhirnya menunjuk layanan drive thru resto.


Meski agak kecewa, akhirnya Marcel memundurkan mobilnya dan mulai mengantri untuk memesan makanan dari dalam mobil.


Ada banyak hal yang sebenarnya ingin Marcel bicarakan pada Alya, namun Alya sepertinya masih membangun tembok tinggi untuk dirinya mendekat.


"Apa aku boleh ikut masuk dan makan bersama mu?" Pinta Marcel ketika mereka telah sampai di depan firma, Alya memutuskan untuk menginap dan kembali tinggal di lantai 3 firma, selain karena itu akan lebih memudahkan dirinya yang sudah tidak punya kendaraan, untuk bolak-balik dari tempat kost ke kantor, menurutnya tempat kost itu juga sudah tidak aman lagi baginya, karena Ivan, Hana dan juga keluarga mantan suaminya terlalu mudah untuk menemuinya di sana, setidaknya jika tinggal di sini dia akan terbebas dari gangguan mereka meski mungkin hanya untuk sementara waktu, karena Alya yakin, mereka pasti akan tetap berusaha mencari-cari keberadaannya.


"Tapi ini sudah larut malam," Alya melirik layar ponselnya untuk melihat jam, seolah dirinya


"Ada yang ingin aku sampaikan pada mu." Ujar Marcel yang sontak saja membuat Alya dag dig dug tak karuan menebak-nebak hal apa yang ingin pria itu sampaikan padanya.


"A-apa harus sekarang?"


"Tidak lebih dari tiga puluh menit, please!" Mohon Marcel dengan kedua tangan tertelungkup di depan dadanya.


"Hmmm, oke." Angguk Alya akhirnya, mengingat tadi Marcel sudah membantunya dan dia juga belum mengucapkan terima kasih pada pria itu, di tambah di juga merasa penasaran dengan apa yang hendak di sampaikan Marcel padanya.

__ADS_1


"Pak, terima kasih atas bantuan bapak tadi, maaf jika selama ini saya banyak merepotkan bapak." Alya membuka pembicaraan setelah hampir sepuluh menit mereka saling terdiam, karena Marcel yang katanya tadi ingin bicara padanya hanya diam sambil menikmati makanan yang tadi mereka beli di jalan.


"Bisakah kau tidak perlu berbicara terlalu formal dengan ku? Rasanya terdengar seperti pembicaraan dalam sebuah rapat perusahaan." Marcel melirik wajah Alya sekilas.


"Maaf, saya tidak berani." Jawab Alya.


"Aku bukan bos mu lagi, posisi kita di kantor ini setara, jadi kau tak harus begitu kaku saat berbicara dengan ku."


"Apa yang tadi ingin bapak bicarakan dengan saya?" Tanya Alya, karena waktu kebersamaan mereka sudah hampir tiga puluh menit, sementara Marcel belum mengatakan apapun tentang hal yang ingijn di bicarakan dengannya.


"Aku hanya ingin bertenya pada mu, jika aku bukan seorang Marcelino Salim yang merupakan seorang pimpinan perusahaan Salim grup, apa kau masih mau berteman dengan ku?" Tanya Marcel tiba-tiba.


"Maaf pak, tapi saya berteman dengan seseorang tidak berdasarkan status dan kedudukan orang itu, kenapa bapak menanyakan hal itu pada saya?" Bingung Alya.


"Tidak, aku hanya memastikan jika masih akan ada yang mau berteman dengan ku meskipun suatu hari nanti aku bukan siapa-siapa lagi." Ujarnya dengan senyum yang tidak bisa di artikan sebagai senyuman apa.


"Apa anda baik-baik saja pak? Kenapa bapak mengatakan hal seperti itu?" Alya baru menyadari jika ada hal yang tidak beres yang sedang terjadi pada Marcel.


"Aku baik-baik saja, sudah hampir tiga puluh menit, sepertinya aku harus pulang." Pamit Marcel meninggalkan Alya yang masih bertanya-tanya dengan sikap janggal yang di tunjukkan Marcel malam ini padanya.


Tapi tentu saja Alya juga tidak bisa memakasa Marcel untuk bercerita padanya tentang apa yang sedang dia alami, Alya tidak ingin terkesan terlalu ingin ikut campur urusan Marcel.


**


"KIta harus bicara, Mas."


Marcel di kejutkan dengan suara Sita yang ternyata menungguinya pulang, dan kini sedang duduk di ruang tamu.


Macel tak menghentikan langkahnya, bahkan dia tak sedikit pun menoleh ke arah Sita yang kini sedang memasang wajah serius.

__ADS_1


"Aku lelah, jika kau ingin membicarakan tentang rencana pengunduran diri ku di perusahaan, kita bisa membicarakannya lain waktu, lagi pula itu hanya rencana." Ujar Marcel sambil berlalu.


Dua hari yang lalu dia memang mengutarakan niatnya pada sang ayah untuk mengundurkan diri dari perusahaan dengan alasan ingin mandiri, dia tidak mau bekerja di perusahaan yang sahamnya sebagian besar sudah di miliki oleh orang tua Sita, hatinya begitu panas saat Ivan mengolok-olok dirinya bekerja karena belas kasihan keluarga istri, itu sungguh melukai harga dirinya.


Tentu saja saat dirinya mengutarakan niatan itu, ayahnya murka luar biasa, dia tidak ingin Salim grup yang di dirikan nya sejak awal pindah ke tangan orang lain meskipun itu ke tangan keluarga besannya. Dia tidak terima meskipun besannya itu mempunyai saham yang lebih besar di banding dirinya di perusaan itu sekarang.


Marcel yakin kalau sepertinya ayahnya mengadu pada Sita dan meminta bantuan pada menantu kesayangannya ini untuk membujuk Marcel agar mengurungkan niatnya.


"Mas, aku tau kalau kamu mencintai wanita lain, wanita itu bernama Alya, bukan?" Ucap Sita.


Ucapan Sita kali ini ternyata cukup ampuh, karena mampu membuat Marcel membalikan tubuhnya dan berjalan kembali untuk mendekat ke arahnya, dengan tatapan mata menyelidik seolah ingin bertanya 'darimana kau tau semua itu?'


"Aku tau, bahkan aku tau kalau kamu sangat mencintainya, aku bisa lihat dari cara mu menatapnya, memperlakukannya." Sambung Sita lagi.


"Kau memata-matai ku? Apa kau melakukan semua itu karena ingin melaporkannya pada ayah ku? Aku tegaskan pada mu, jangan pernah coba-coba usik dia sedikit pun, atau kita hancur bersama!" Geram Marcel dengan mata yang memerah karena marah merasa kehidupannya di usik oleh Sita.


"Aku memang menyuruh orang untuk memata-matai mu, tapi bukan untuk aku laporkan pada ayah mu," aku Sita.


"Lantas apa mau mu?" Tantang Marcel.


"Aku hanya mau membantu mu, itu saja."


"Membantu ku?" Marcel menaikan sebelah alisnya. "Tapi aku tak butuh bantuan mu atau siapapun!"


"Hmm, aku iri padanya, dia wanita yang sangat beruntung, karena kamu sepertinya sangat mencintainya." Sita tersenyum samar.


"Tidak usah bertele-tele, katakan apa yang kau inginkan!" Marcel mulai tidak sabaran.


"Aku hanya ingin membantu mu, membantu mendapatkan cinta mu, sebagai rasa terima kasih dan penebusan dosa ku pada mu karena pernikahan kita," ujar Sita lirih, dengan pandangan kedua matanya yang kini hanya tertuju pada ubin granit rumahnya, sungguh dia tidak sanggup jika harus beradu tatap dengan mata tajam Marcel yang terus mengunci padanya, seolah dirinya adalah mahluk yang akan mengancam keselamatan jiwa nya dan juga Alya, wanita yang di sebut-sebut Sita sangat di cintai oleh Marcel itu.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena hubungan yang saling menyakiti, butuh sebuah perenungan yang pantas untuk di pikirkan, untuk apa semua itu di lanjutkan? Mari kita perbaiki hubungan kita, karena kita tidak bisa menjadi suami istri yang baik, bagaimana jika kita menjadi teman yang baik?" Kata Sita yang kini mulai berani berbicara banyak dengan Marcel, mungkin ini merupakan rekor percakapanterpanjang antara Sita dan Marcel selama satu tahun pernikahan mereka, karena biasanya mereka hanya berbicara sepatah dua patah kata saja.


__ADS_2